Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 105



Sinful Angel Bab 105


Titik titik rintik gerimis mendarat membasahi hijab yang membungkus kepala Tya. Cuaca sore berangsur mendung mendayu, semendung hati Tya yang tengah dirundung pilu. Seolah langit pun merasakan deritanya, ikut tergerus nelangsa.


Tya memesan taksi daring sebab Mang Eko sudah dimintanya pulang lebih dulu, karena rencananya semula ia akan pulang ke rumah bersama Bisma. Tya menangis sejadi-jadinya begitu taksi melaju, menumpahkan sebah tertahan yang terasa menusuk-nusuk jantungnya. Terisak-isak nyeri hingga bahunya pun ikut berguncang hebat.


Si sopir taksi dibuat kaget dengan impulsif penumpangnya, melirik spion dalam penuh tanda tanya. Kendati begitu dia tetap harus professional, mengantarkan customer sampai ke tempat tujuan.


“Lho, Neng. Kok sudah pulang? Terus kenapa pakai taksi? Mana Den Bismanya?” Mang Eko yang sedang mengelap mobil dibuat keheranan, celingukan mencari-cari sosok tuannya.


“Itu Mang, tadi Mas Bismanya lagi rapat penting. Suri bilang kemungkinan bakalan lama, jadinya pulang duluan daripada nunggu lama di sana, terus ini sakit kepalanya makin kerasa, butuh tiduran,” sahut Tya dengan wajah sembap dan suara sengaunya, mirip orang yang terserang gejala flu, padahal semua itu merupakan jejak tangisan.


“Duh, tahu begitu Mamang tadi tidak cepat-cepat pulang. Kalau Den Bisma tahu Neng Tya pulang naik taksi, Mamang bakalan diomelin. Den Bisma selalu berpesan sama Mamang dan Teh Erna buat jagain Neng Tya, Den Bisma bilang takut Neng Tya kenapa-napa, bisi ada orang jahat katanya," tutur Mang Eko mengungkapkan alasan kekhawatirannya.


Di tengah hantaman pedih hati, seberkas hangat menyusup membelai kalbu nelangsanya. Kasih sayang Bisma begitu tumpah ruah untuknya, meski Tya pun tak yakin apakah rasa dan sikap Bisma padanya akan tetap sama setelah hari ini, setelah kejadian cekcok dengan Viona.


“Biar enggak diomelin, Mamang jangan bilang sama Mas Bisma. Tadi itu kondisi darurat. Mamang jangan khawatir, yang penting aku pulang dalam keadaan sehat dan selamat. Juga tentang kedatanganku ke kantor tadi, tolong jangan disampaikan sama Mas Bisma ya. Aku enggak mau ganggu konsentrasi kerjanya. Aku masuk dulu ya, Mang.”


Mengunci pintu kamarnya, dengan langkah lunglai Tya menuju kamar mandi. Menatap pantulannya di cermin depan westafel.


Lama Tya termenung, selang beberapa saat berdecih penuh luka menertawakan dirinya sendiri.


“Sudah saatnya kamu bangun, Cintya. Sudah terlalu lama kamu terlena dalam mimpi Cinderella. Inilah kenyataannya, sampah rendah sepertimu memang tak sepatutnya bermimpi dicintai. Tapi kamu dengan lancangnya malah mencintai seseorang yang seharusnya tak boleh kamu harapkan, bahkan dengan tak tahu dirinya ingin dianggap bagian penting oleh keluarganya!” lirihnya perih dengan bulir bening yang kembali berjatuhan.


“Mas Bisma terlalu baik buatmu. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik ketimbang kamu yang berlumur dosa, tak bertahta, tak berharta apalagi kasta. Sejak kapan kamu dengan tak tahu malunya menyandarkan harapanmu pada bintang tinggi di langit sementara tempatmu berada di jurang curam? Bangun Cintya! Sadar diri!” serunya marah.


Kedua tangannya yang berpegangan pada sisi westafel tak sanggup lagi menopang raganya. Tya merosot luruh ke lantai kamar mandi, sesenggukan memeluk lututnya.


Menilik tubuhnya sendiri, Tya merasa begitu kotor saat ini. Ia beringsut ke area mandi, lantas menyalakan shower dalam kucuran paling deras, mengguyur dirinya yang masih berpakaian lengkap. Berharap siraman air shower berpadu air matanya mampu membasuh rasa kotor yang hinggap dalam dirinya.


Saat menunduk, Tya kian terisak-isak. Tangisannya tersedu-sedu menyayat hati. Meraba perutnya dan membelai sayang di sana.


“Maaf, karena kamu harus dikandung oleh wanita sepertiku, bayiku sayang. Sosok wanita yang bahkan tak punya satu hal pun untuk dibanggakan. Tapi asal kamu tahu, Mama menyayangi dan mencintaimu dengan segenap jiwa begitu tahu kamu hadir di dalam sana. Tak pernah terpikir untuk membuangmu seperti ibuku dulu. Kamu adalah permata hati Mama. Semoga kamu tak malu memiliki Ibu yang pernah tersungkur di kubangan nista ini, Nak.”


*****


Pukul setengah sepuluh Bisma baru kembali ke rumah. Sebetulnya Bisma tidak jadi mengerjakan pekerjaan hingga malam. Sore tadi dia mewakilkan sisa pekerjaan pada Poppy dengan terpaksa demi membujuk bundanya yang tengah marah besar padanya. Bisma pun mengantar sang bunda pulang, mencoba memberi pengertian dengan cara lemah lembut hingga bundanya itu tertidur, walaupun hasilnya nihil.


Wajah tampannya tampak lelah dan lebih kusut dari biasanya. Bisma dibuat kaget saat melihat Tya tertidur di sofa ruang tamu sembari memeluk bantal sofa.


Teh Erna tergopoh menyambut tuannya. Teh Erna rupanya belum pulang dan memutuskan menginap karena Mang Eko mendadak harus pergi bertakziah, salah satu teman masa mudanya meninggal dunia ba’da Magrib tadi. Sementara dari informasi yang Mang Eko sampaikan, Bisma akan pulang larut dan Teh Erna memiliki firasat tak enak, jadinya dia memutuskan menemani Tya.


“Iya, Den. Saya sengaja belum pulang,” jelas Teh Erna yang kemudian lanjut menjelaskan alasan kenapa dirinya masih berada di sini.


“Makasih banyak, Teh. Tapi ini kenapa Tya tidur di sini? Nanti bisa masuk angin,” tanya Bisma memelankan suaranya sembari melirik istrinya yang terlelap.


“Saya sudah menyarankan Neng Tya tidur di kamar tadi. Tapi kekeuh kepingin nunggu Den Bisma pulang di sini. Kangen berat katanya,” tutur Teh Erna, mengulum senyum bapernya.


Kedua sudut bibir Bisma terangkat ke atas. Dirindukan yang dicinta memanglah selalu membuat jantungnya berdebar indah.


“Terus tadi juga kayaknya Neng Tya agak flu, tapi menolak minum obat, cuma minum teh jahe madu saja,” sambung Teh Erna.


Bisma membungkuk di sisi sofa, mendaratkan telapak tangan di kening Tya dan kulitnya mendeteksi suhu tubuh Tya memang lebih hangat walaupun tidak masuk kategori demam parah.


“Tapi Tya sudah makan malam?” cecarnya lagi pada Teh Erna. Intonasinya terdengar cemas sekarang.


“Makan, Den. Tapi bukan makan nasi, makan lontong sama pecel sayur. Tadi beli lewat delivery. Katanya mendadak kepingin makan itu. Den Bisma sendiri sudah makan? Tadi Neng Tya masak sop iga, kalau mau makan biar saya hangatkan.”


“Enggak usah, Teh. Aku sudah makan burger. Teh Erna tolong kuncikan gerbang juga pintu ya. Aku mau langsung ke kamar.”


Bisma menyelipkan kedua lengannya di belakang leher dan lutut Tya. Dengan gerakan perlahan tak ingin membangunkan, dia meraup Tya berayun dalam gendongan, membawanya untuk dipindahkan ke kamar.


Sehati-hati mungkin Bisma merebahkan Tya di peraduan. Menyelimutinya, merapikan anak-anak rambut yang berserak di pelipis dan mengecup sayang kening istrinya yang terlelap.


Bisma membuka jas dan dasinya, melemparnya sembarang. Lama Bisma duduk di tepi ranjang, menatap Tya dalam-dalam dan mengembuskan napas panjang perlahan saat teringat lagi dengan sang bunda yang masih murka padanya.


“Sayang, mungkin perjalanan kita setelah ini sedikit terjal. Kuharap kamu kuat dan aku percaya kamu bisa. Kita sama-sama meyakinkan bunda, tunjukkan pada bunda bahwa kita saling melengkapi dan bahagia. Aku yakin kita pasti bisa. Rasanya berat kalau harus memilih, karena kamu dan bunda sama-sama sosok yang penting buatku. Jangan khawatir, aku akan selalu menggenggam tanganmu apapun yang terjadi. Tapi untuk sekarang, aku enggak bisa cerita ke kamu tentang masalah ini. Biarlah kuselesaikan sendiri dulu.”


Bisma menyempatkan diri bersih-bersih sejenak sebelum naik ke peraduan. Menarik raga Tya lembut, menenggelamkannya dalam pelukan terbungkus selimut yang sama. Bisma butuh memejamkan mata agar kepalanya yang sakit dapat berpikir jernih lagi, dan berharap esok hari bundanya dilembutkan hati.


“Selamat tidur, Sayang,” bisiknya lembut sebelum tenggelam ke alam mimpi.


Dengkuran halus terdengar bersamaan dengan Tya yang membuka kedua mata. Menatap pahatan tampan suaminya yang terlelap, meraba pipi Bisma lembut, menyimpannya dalam memori terindahnya sembari menggigit bibirnya kuat-kuat menahan isakan yang ingin menyembur.


Sebetulnya sejak Bisma membawanya berayun dalam gendongan, Tya sudah terbangun. Akan tetapi Tya memilih tak membuka mata. Sebab khawatir tak kuat menahan desakan air mata saat tempat ternyamannya berada di dekatnya, bersentuhan dengannya.


“Mas, apa yang harus kulakukan?” isaknya tercekat, tersendat nyeri dilema di tenggorokan.


Bersambung.