
Sinful Angel Bab 49
Di hari Jum’at sore ini, Tya sudah bersiap-siap berpakaian rapi. Duduk di teras mendekap tas kecil coklat tua bertali rantai sembari sesekali melongokkan kepala saat terdengar suara mesin kendaraan mendekat.
Tya tampak anggun dan berbeda. Penampilannya sekarang semakin cocok dengan sorot mata teduhnya, sama-sama menyejukkan mata. Pembungkus kulitnya begitu cantik paripurna memeluk tubuh tanpa harus mempertontonkan lekuknya indahnya dan seluruh isi lemarinya yang disiapkan Bisma memang didominasi pakaian anggun nan sopan.
Sore ini Tya mengenakan celana panjang kulot warna milo membungkus kaki jenjangnya. Dipadukan dengan tunik longgar berwarna senada, berlengan panjang bermotif bunga-bunga kecil yang cantik. Rambutnya diikat rapi, tidak dibiarkan tergerai sembarang. Tak lupa polesan bedak dan lipstik disapukan tipis saja.
“Neng, nunggunya di dalam saja.” kata Mang Eko, menghampiri Tya yang tingkahnya kini mirip anak kecil yang tak sabar dijemput orang tuanya. “Mungkin Den Bisma terjebak macet, jadinya belum sampai,” sambung Mang Eko lagi.
“Tidak usah, Mang. Di sini saja, biar bisa langsung berangkat. Soalnya tadi Mas Bisma bilang kita bakal langsung berangkat begitu dia sampai, biar tidak terlambat,” sahut Tya yang terlihat begitu senang. Ibarat gadis muda yang sedang menunggu pemuda idamannya muncul.
Semalam, Bisma mengatakan pada Tya akan pulang kerja lebih awal lagi esok hari untuk membawa Tya pergi ke suatu tempat. Ya, sore ini Bisma berencana membawa Tya ke klinik kecantikan untuk melakukan perawatan dari ujung kaki sampai kepala sebelum berangkat ke Bali. Bisma pun mengatakan bahwa rambut Tya sebaiknya dirapikan juga supaya terlihat lebih segar.
Tanpa banyak dipoles pun, Tya memang sudah cantik dan memiliki daya tarik spesial tersendiri. Akan tetapi, Bisma tidak mungkin membiarkan Tya kalah bening dari Prita, supaya persaingan seimbang. Prita itu doyan melakukan perawatan wajah dan tubuh sejak dulu, menunjang unsur gen indonya semakin memikat. Untuk itulah Bisma pun ingin Tya melakukan perawatan serupa, agar ayunya aura mojang priangan Tya semakin terpancar bersinar.
Fortuner putih yang ditunggu-tunggu pun muncul. Bisma memarkirkannya di luar gerbang karena dia akan segera berangkat lagi bersama Tya. Turun dari mobilnya, setengah berlari menghampiri Tya yang berdiri menyambut dan Tya mencium tangan Bisma seperti biasa.
“Sudah siap berangkat?” tanya Bisma seraya menyusurkan pandangan memindai penampilan Tya sore ini yang harus diakuinya tak bosan dipandang.
“Sudah, Mas,” jawab Tya cepat.
“Oke, aku ambil sesuatu dulu di kamar. Tunggu sebentar,” kata Bisma yang direspons Tya dengan anggukan kepala.
“Kayak orang yang kemarin sore luntang-lantung di sekitaran situ juga sambil bawa kamera deh,” gumam Tya, mengucek matanya sejenak lantas memokuskan pandangan.
Insting tajam Bisma berseru. Bisma melangkah lebar dan merangkul Tya kemudian, merapatkannya ke tubuhnya membuat Tya berjengit kaget.
“Jadi, kamu lihat orang yang sama kemarin sore?” tanya Bisma berbisik ke telinga Tya. Pandangannya tetap waspada, menyisir sekitar.
"Iya, ta-tapi ada apa?" Tya yang terkejut dengan perlakuan Bisma refleks meronta.
“Jangan meronta, diamlah. Aku curiga orang itu suruhan Prita. Seperti halnya pengirim paket salah alamat yang beberapa kali datang ke sini sebelumnya. Karena hanya Prita lah yang berani berbuat begitu padaku, bahkan beberapa hari lalu ada seseorang yang mendadak melamar kerja ke perusahaanku dan meminta pekerjaan, padahal Agra Prime tidak sedang membuka lowongan. Dan anehnya si pelamar yang katanya butuh pekerjaan itu dijemput di ujung jalan oleh sebuah mobil mewah.”
Tya mendongak, mengatupkan mulutnya rapat-rapat dengan mata membola. “Ya ampun, mantan istri Anda itu sebenarnya mengidap sindrom obsesi menjadi paparazi mantan atau bagaimana?” Tya bertanya dengan suara yang sangat pelan. Nada bicaranya terdengar jengkel.
“Yang jelas, dia itu sulit mempercayai bahwa aku akhirnya menikah dan memiiki wanita pendamping lagi sehingga terus menerus melakukan validasi. Kisahku dengan Prita itu sangat panjang, sepertinya kamu harus mengetahuinya juga secara detail. Akan kuceritakan nanti malam, supaya kamu paham kenapa Prita seolah tak terima setelah aku membawa dan mengenalkanmu padanya di pesta.”
“Wah, dia benar-benar berbakat membuat orang pusing dan jengkel!" sungut Tya sebal, tanpa sadar mengatai tabiat Prita yang baginya cukup merepotkan dan memusingkan.
Bisma terkekeh. Tya yang sedang bersungut tampak begitu lucu. “Ayo, kita berangkat saja. Nanti telat. Berlakonlah dengan baik sekarang. Harus terlihat semesra mungkin, Supaya tangkapan gambar kita bagus.”
Interaksi mereka yang tampak begitu manis dari kejauhan sudah pasti melahirkan asumsi betapa saling cintanya pasangan ini. Terlebih lagi Bisma tampak mengecup pelipis Tya yang dibalas Tya dengan belaian mesra di rahang Bisma.
Bersambung.