Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 136



Sinful Angel Bab 136


“Markus? Pak Markus dari perusahaan air mineral itu?” Bisma melipat dahinya, memicing samar penuh tanya.


“I-iya, Mas. Pak Markus yang itu. Yang pernah Mas kenalkan padaku pas tempo hari aku datang ke kantor.”


“Sewaktu kamu mendadak pingsan?” Bisma menukas cepat, memutar balik ingatan pada kejadian sore itu.


“Iya. Dia… dia….” Kalimat Tya tersendat-sendat, membasahi bibir terhalang ragu.


Bisma bangun dari baringannya dan duduk bersila di atas kasur, tangannya terulur mengelus lembut kepala Tya yang masih berbaring miring menghadapnya. “Dia kenapa? Bilang saja ada apa?”


“Sebelum aku cerita lebih lanjut, berjanjilah setelah aku mengatakan ini Mas jangan merasa jijik sama aku. Walaupun itu hak Mas untuk illfeel padaku, tapi aku ngerasa enggak akan sanggup menguatkan hatiku. Ini berkaitan dengan masa laluku,” tutur Tya hati-hati.


Bisma meraih tangan kanan Tya, menciumnya penuh cinta. “Kamu meragukan ketulusanku?” Bisma balik bertanya.


“Sama sekali enggak, Mas,” sahut Tya penuh keyakinan.


“Kalau begitu, ceritakanlah apapun yang ingin kamu ceritakan.” Bisma meyakinkan Tya agar menyingkirkan keraguan yang terpampang jelas di raut gundahnya.


Tya menarik napas panjang, menghirup udara dalam-dalam membanjiri paru-parunya.


“Sebenarnya, aku rasa pingsanku di kantor waktu itu lebih dominan karena terkejut. Pak Markus… dia… dia dulunya adalah salah satu orang yang pernah membookingku.” Suara Tya otomatis memelan di ujung kalimat, disusul menelan ludah kelat kemudian. “Aku enggak nyangka, di saat sedang menata hidup ingin menjadi lebih baik malah dipertemukan dengan orang dari masa laluku dan dia….”


Hening membentang menyambut kalimat Tya yang tak rampung. Sebagai seorang pria juga suami, tak munafik sekelebat hawa panas menyambangi rongga dada Bisma. Akan tetapi, Bisma tak membiarkan hawa membakar itu berlarut, cepat-cepat menepisnya. Lagi pula dengan latar belakang Tya di masa lalu, sudah pasti hal semacam ini suatu saat akan ditemuinya juga.


Sejak awal hatinya kembali merasakan yang namanya getaran jatuh cinta, Bisma sudah bertekad menerima Tya seperti apa pun adanya, mencintainya segenap jiwa tanpa syarat. Karena yang paling sulit itu adalah menerima kekurangan. Imbas tekadnya menerima Tya menjadi alasan bermuhasabah meraba diri sendiri, yang jika ditilik dengan saksama sudah pasti sama-sama memiliki kekurangan meskipun dalam aspek yang berbeda. Sebagai sesama manusia biasa, tak ada yang luput dari salah dan lupa.


Walaupun tak dipungkiri seberkas rasa cemburu timbul tak diundang saat mendengar hal semacam ini, reaksi yang wajar adanya asalkan tetap terkontrol, pertanda cinta yang dipersembahkan sang hati tidak main-main.


Tya beringsut bangun saat respons Bisma terdiam membisu selepas ia mengatakan siapa Markus. Rasa takut menyergapnya. Tya menggoyangkan tangan Bisma yang sedang menggenggamnya meski dengan jantung berdegup takut.


“Mas,” panggilnya serak, terdengar sengau seperti hendak menangis. “Mas marah ya?”


Lamunan Bisma buyar. Menangkap nada suara juga ekspresi istrinya yang sekarang berubah sedih, Bisma buru-buru menangkup wajah Tya dan mencium pipi Tya saat sadar kemungkinan reaksi diamnya melukai Tya.


“Maafkan aku, Sayang. Mana mungkin aku marah di saat aku tahu betul profesi di masa lalumu semuanya hanya keterpaksaan membayar hutang budi yang memang sudah direncanakan oleh si pemilik otak jahat.”


Bisma menyeka sudut mata Tya yang basah, menciumi wajah cantik istrinya penuh cinta.


“Jangan mikir aneh-aneh. Bayi kita di dalam sana ikutan sedih kalau mamanya nangis begini. Aku cuma kaget, Sayang. Enggak nyangka ternyata Pak Markus doyan jajan di luar padahal istrinya itu cantik dan cerdas, anak dari pemilik perusahaan yang dipimpinnya sekarang. Istrinya adalah salah satu teman baikku juga Vero semasa SMA dulu, namanya Resya. Aku pun bekerjasama dengan perusahaan air mineral yang kini dipimpin Pak Markus karena yang kukenal adalah istrinya beserta keluarga besarnya. Bunda juga kenal dengan keluarga Resya.”


Bisma dan Vero yang notabene anak-anak dari keluarga terpandang juga putra pengusaha sukses, memang bersekolah di sekolah pilihan terbaik yang kebanyakan muridnya adalah anak pengusaha juga putra putri pejabat. Sehingga circle pertemanannya pun memang kebanyakan dengan orang-orang kalangan atas, seperti halnya Viona dulu yang juga satu sekolah dengan Arjuna ketika SMA.


“Coba lanjutkan ceritamu, bukankah tadi kalimatmu terputus?”


Tya mengangguk, menceritakan detail pertemuan tak terduganya dengan Markus sewaktu di perusahaan juga di rumah sakit. Tya tak lupa bercerita tentang ancaman yang termasuk melecehkan yang dilakukan Markus padanya, menuturkan dengan detail tentang kerisauan yang dipendamnya selama ini.


“Aku memilih berterus terang pada Mas daripada nantinya Mas Bisma mendengar dari mulut orang lain tentang informasi ini. Yang terkadang informasinya sudah digubah sedemikian rupa dari keterangan aslinya, yang asalnya cuma lima senti bisa jadi lima meter. Juga, jujur saja aku takut dengan ancamannya. Aku takut membahayakan anak kita,” lirih Tya penuh beban sembari mengusap perut, menumpahkan unek-uneknya.


Mendengar cerita Tya di bagian awal, Bisma masih bisa mengontrol kesabarannya, tetapi keterangan Tya pada bagian akhir terkait ancaman Markus pada Tya juga sikap melecehkan padahal Markus sudah tau Tya adalah istrinya sekarang, membuatnya meradang bukan main.


“Bisanya cuma mengancam wanita. Dasar banci brengsek!” maki Bisma dengan tinju terkepal terbakar emosi. “Dia itu cuma menantu yang kebetulan jadi presdir dari perusahaan milik istrinya. Beraninya macam-macam pada istriku bahkan sampai mengancammu hanya karena masa lalumu!”


Jika tidak sedang di sini, bisa jadi Bisma langsung meluncur ke kediaman Resya untuk menonjok Markus. Amarahnya meletup-letup, ingin meninju mulut kotor kurang ajar Markus bertubi-tubi sampai berdarah-darah.


“Mas, kumohon jangan begini. Aku takut,” cicit Tya yang ketakutan melihat rahang Bisma mengetat dengan geraham berbunyi gemeletuk tersulut emosi. Menggenggam tangan Bisma dan meremasnya mencoba mengalihkan perhatian.


Untuk beberapa jenak Bisma berusaha menetralkan kemurkaannya yang memburu. Mengatur napasnya dan meraup Tya yang duduk di hadapannya, mendudukannya di pangkuan. Memeluk Tya erat.


“Maaf, bikin kamu terkejut. Aku benar-benar marah pada si bajingan itu saat ini. Saat dia menghinamu, itu sama saja dengan menghinaku!”


Tya balas memeluk, mengusap-usap punggung Bisma. Melihat reaksi Bisma sungguh hati Tya menghangat, segala ketakutan dalam dadanya terkikis curahan cinta dan perlindungan yang Bisma berikan.


Bisma melakukan hal serupa, mengusap-usap sayang punggung Tya, sama-sama saling menenangkan. Beberapa menit berlalu mereka tetap dalam posisi itu. Saat dirasa Bisma lebih tenang, perlahan keduanya mengurai pelukan masing-masing.


“Jangan takut lagi. Tentang ancaman Markus yang sudah berani mengusikmu serahkan padaku. Dan tentang Markus-Markus lain yang kemungkinan berkeliaran di luar sana, aku memohon pada Yang Maha Kuasa agar kamu selalu dilindungi dan jangan pernah dipertemukan lagi dengan mereka. Kekuatan do’a itu dahsyat. Jikalau suatu hari ada lagi yang berani macam-macam, akulah yang akan berdiri di garda terdepan untuk membela istri dan anakku, pegang kata-kataku. Dan aku akan membayar ajudan untuk memastikan keamananmu juga bayi kita saat aku enggak ada di dekatmu. Salah satu ikhtiarku demi melindungi anak istriku. Paham?”


Terdengar berlebihan memang bagi Tya saat Bisma membahas tentang ajudan. Namun, Tya tak ingin membuat suaminya khawatir. Mengangguk mengiyakan, menerima dengan senyuman.


“Paham, Mas.”


Bersambung.