Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 61



Sinful Angel Bab 61


Sesi sarapan bersama berlangsung kondusif. Jeda sejenak, langsung dilanjutkan dengan pameran produk. Produk andalan perusahaan Bisma yakni Prime Tea lagi-lagi mencuri perhatian. Mulai dari yang original, instant sampai yang siap minum. Konsep kekinian yang baru diterapkan selama dua bulan ini, berhasil mendongkrak nama Prime Tea dalam kurun waktu yang relatif singkat.


Sinar Abadi pun masih kuat pamornya, terlihat dari beberapa pengusaha besar yang sejak dulu bekerjasama dengan Sinar Abadi tak berpaling pada produk lain meski tak seluruhnya.


Beberapa pengusaha baik dalam dan luar negeri, beberapa berminat ingin tahu lebih dalam lagi akan produk baru yang sedang hype di pasaran tanah air, bahkan salah satu pengusaha kafe besar di Malaysia dan seorang pengusaha retail minimarket Indonesia yang memiliki merchant hampir di seluruh dunia, meminta kartu nama Bisma juga alamat kantornya. Tertarik ingin bekerjasama begitu antusias setelah mencicipi citarasa teh produksi PT. Agra Prime.


“Sudah lama saya tidak menemukan citarasa khas dari teh produk Indonesia. Green Premium dan Heritage Tea milik Sinar Abadi yang katanya selalu jadi andalan pun, saya tak menemukan kekhasannya lagi sekarang. Entah kenapa berubah dari rasa dan aroma. Awalnya saya pikir mungkin lidah dan hidung saya bermasalah, tapi hari ini saya menemukan lagi kelezatan citarasa khas dan aroma sedapnya teh dari merek Prime Tea ini. Saya dengar, spek lahan dan cara menanam pun memiliki imbas besar terhadap kualitas daun teh yang dihasilkan. Sebagai penikmat teh, saya sangat gembira bisa mencicipi kembali lezatnya teh berkualitas.”


Si pengusaha toko Indonesia mengungkapkan kesan panjang lebarnya. Kegembiraan tercetak jelas di wajah tampan Bisma dan hal itu menular pada Tya yang terus mengembangkan senyum. Tak terganggu dengan lirikan tajam Prita ke arah area pameran Prime Tea di mana dirinya dan Bisma berada, yang sesekali bertemu pandang dengannya tanpa sengaja.


Sepanjang acara, Bisma selalu memastikan Tya supaya tak jauh darinya. Mengenalkan Tya sebagai istri tanpa keraguan saat ada yang bertanya tentang sosok anggun yang menemaninya. Keberadaan Tya pun banyak membantu Bisma. Tya sangat pandai membaca situasi, ia akan ikut bercakap-cakap dengan sopan saat diajak bicara oleh orang-orang yang menyapa Bisma, tetapi ia akan menarik diri tidak terlalu jauh saat Bisma berbincang serius terkait perusahaan dengan lawan bicaranya, karena sadar diri belum semumpuni Bisma dalam menjawab andai ada yang bertanya perihal bisnis padanya.


Sore harinya, semua hadirin dibebaskan bersantai menikmati keindahan Pulau Dewata. Sedangkan Tya meminta pada Bisma ingin kembali ke kamar, ingin beristirahat sejenak sebelum acara pesta penutupan seminar. Maklum saja, Tya belum seratus persen pulih benar.


“Maaf ya, Mas. Kepalaku pusing, jadinya enggak bisa nemenin jalan-jalan. Mungkin karena aku belum terbiasa dengan cuaca Bali yang panas ini. Aku kayaknya butuh tidur sebentar, biar nanti malam segeran lagi,” ucap Tya tak enak hati pada Bisma yang baru selesai berbincang dengan salah satu peserta seminar yang pergi ke pantai lebih dulu.


“Pusing? Perlu ke rumah sakit? Apalagi yang sakit? Atau jangan-jangan tanganmu sakit lagi?” cecarnya berseloroh cemas, membuat Tya gelagapan bingung harus menjawab pertanyaan yang mana dulu.


“Cuma pusing biasa. Enggak perlu sampai ke rumah sakit,” sahut Tya menenangkan. “Kalau gitu, aku pamit duluan ke kamar ya, Mas. Mas Bisma silakan jalan-jalan santai. Pengusaha dari Malaysia tadi katanya minta ingin jalan-jalan bareng ke pantai, jangan membuang kesempatan.”


“Aku antar ke kamar. Aku masih bisa menyusul ke pantai nanti,” tegas Bisma yang langsung menggandeng Tya untuk kembali ke kamar. Benar-benar mengantar sampai Tya berbaring di tempat tidur.


“Istirahatlah, kalau ada yang kamu butuhkan bisa hubungi layanan kamar. Kalau ada hal darurat langsung telepon aku,” pesan Bisma sebelum meninggalkan kamar.


Sejumput desir hangat lagi-lagi menyapu hati Tya. Diperhatikan manis lebih dari biasanya, merayu asa tak terencananya yang sudah hadir tak tahu sejak kapan ingin bertunas di kalbunya. Hatinya bertanya-tanya, bolehkan ia membiarkan rasa sukanya tumbuh bebas untuk pria ini? Bolehkan ia mengklaim Bisma sebagai suaminya bukan hanya di bibir saja tapi juga dalam sanubarinya? Pantaskah dirinya yang merasa berlumur dosa untuk jatuh cinta?


Tya pun kembali terngiang percakapan Bisma dengan Vero yang ikut terdengar olehnya semalam. Tentang dirinya dan Bisma adalah pasangan yang sah. Tentang dirinya dan Bisma adalah suami istri sungguhan, terikat yang namanya janji pernikahan yang tentu saja bukan permainan meski berangkat dari asas kepentingan satu sama lain.


Meraba dadanya yang berdegup merdu berpacu lebih cepat, Tya bergumam tak percaya pada udara. “Jadi, sekarang ini aku benar-benar menyandang status terhormat yang disebut istri?”


Lewat pukul tujuh malam Bisma masih belum kembali ke hotel, padahal acara pesta penutupan akan dimulai pukul setengah delapan. Tya sudah berganti pakaian mengenakan gaun hitam berlengan panjang dan berkerah tinggi dengan model A line hingga mencapai betis. Rambutnya pun sudah ditata rapi disanggul ke atas. Sudah rapi, cantik dan wangi. Siap menjalankan tugasnya menemani Bisma ke menghadiri acara penutupan seminar.


“Mas Bisma ke mana ya? Atau mungkin langsung ke ballroom? Tapi masa enggak ganti baju dulu, atau mungkin dia sibuk banget sampai-sampai enggak keburu balik ke kamar?” Tya bermonolog sendiri sembari mengecek penunjuk waktu di ponselnya. “Pesanku juga masih centang abu-abu. Belum dibaca. Atau aku menyusul ke ballroom saja ya?”


Tya memeriksa situasi di bawah sana dari balkon. Hadirin peserta seminar terlihat mulai memasuki lorong yang tersambung ke area pesta. Khawatir terlambat seperti malam kemarin, Tya memutuskan pergi ke ballroom sekarang. Mengirim pesan lagi, memberi informasi pada Bisma untuk bertemu di tempat pesta.


Namun, kakinya berhenti berayun saat matanya menangkap sesosok pria dengan siluet yang sangat dikenalinya terlihat sempoyongan saat Tya memijakkan kaki di lantai satu. Pria itu tampak dipapah seorang pegawai hotel menuju lift lain. Si pegawai berjalan lambat, cukup kepayahan memapah sebab yang dipapah berpostur tinggi tegap.


Meski yang terlihat hanya bagian belakang, dengan mudah Tya mengenali sosok itu adalah Bisma. “Lho, itu kan Mas Bisma?”


Panik, Tya mempercepat langkah.” Pak, Pak. Bapak yang memapah suami saya tolong Berhenti!” teriak Tya menginterupsi, berteriak sembari melambaikan tangan.


Si pria itu berhenti dan menoleh. “Ini suaminya Nyonya?” tanyanya yang terlihat kebingungan.


Tya menghambur, menepuk-nepuk pipi Bisma. Badan Bisma terasa agak panas, peluh berembun subur, wajahnya memerah, dan Bisma tampak seperti tersiksa. “Mas, kenapa jadi begini?” cecar Tya panik, tetapi Bisma tak merespons, malah menggeram dalam rintihan seperti tengah menahan siksaan.


“Ya, ini suami saya. Dia kenapa jadi sempoyongan begini, Pak? Tolong cepat dibawa ke kamar tempat kami menginap. Di lantai tiga, kamar 314 !” pinta Tya setengah memerintah, diserbu kekagetan. Sore tadi Bisma masih baik-baik saja, tapi kenapa sekarang malah jadi begini.


“Nyonya benar istrinya? Tapi tadi yang meminta saya mengantar Tuan ini masuk juga mengaku istrinya. Juga mintanya bukan diantar ke kamar di lantai tiga, tapi di lantai dua,” terang di pegawai laki-laki berseragam kuning itu keheranan.


“Ada yang mengaku istrinya selain saya?” Tya terkesiap waspada. “Apakah orangnya cantik seperti orang bule?” desak Tya penasaran, terdorong gejolak yang mendadak menyulut emosi sisi wanitanya.


“Iya. Yang rambutnya coklat keemasan itu.”


Tya mengambil ponselnya, menyambungkan panggilan ke ponsel Bisma. “Tolong ambil ponsel di saku celana suami saya dan lihat username yang memanggil untuk membuktikan sayalah yang benar-benar istrinya, bukan wanita berambut coklat tadi. Kalau kurang yakin, bisa tanya resepsionis.”


Tanya jawab demi meyakinkan si pegawai bahwa Bisma adalah suaminya berlangsung lumayan panjang. Dan akhirnya semuanya dapat segera teratasi saat si pengusaha dari Malaysia yang melintas hendak ke ballroom ikut memberi penjelasan. Tya tak lupa berterimakasih, juga meminta tolong untuk disampaikan pada panitia bahwa Bisma tak dapat menghadiri pesta karena mendadak sakit.


Bersambung.