Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 81



Sinful Angel Bab 81


Tya meremas tali leather tas cangklongnya. Menarik napas panjang sebelum akhirnya memutar gagang pintu dan mendorongnya mantap. Melangkah masuk tak sabaran dan menutupkan pintunya kembali.


Hening, itulah yang menyambutnya. Ruangan berdesain tempo dulu berukuran lima kali lima meter itu sepi senyap. Tya menaruh tasnya di atas meja kayu bulat yang terdapat di dekat pintu, bersebelahan dengan vas bunga berisi rangkaian bunga plastik. Kemudian mencari-cari sosok yang membuatnya gundah gulana tak menentu sejak kemarin.


Kedua matanya langsung tertuju pada tempat tidur yang diletakkan bersisian dengan jendela bukaan dua yang terbuka sebelah. Terbuat dari kayu yang dilengkapi kaca dan gorden putih serupa kelambu di bagian dalamnya. Di atas kasur luas itu, tidak ada sosok Bisma yang meringkuk berselimut tebal sembari merintih kesakitan seperti bayangannya sejak dini hari tadi. Bantal dan guling masih tersusun rapi begitu pun dengan selimut yang terlipat di ujung ranjang.


“Kata Poppy ini kamar Mas Bisma. Tapi Mas Bismanya kok enggak ada.” Tya menggigit bibirnya resah.


Khawatir salah masuk, Tya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan guna meyakinkan dirinya sudah masuk ke kamar yang tepat. Keraguannya terpatahkan saat melihat tas besar Samsonite warna Navy. Tas yang dipakai Bisma untuk membawa pakaian ganti.


“Tasnya ada di sini? Tapi orangnya di mana? Atau jangan-jangan pergi sendiri ke rumah sakit dan pingsan di jalan makanya enggak ngangkat teleponku,” ujarnya panik oleh spekulasinya sendiri.


Di saat Tya bermaksud keluar lagi dari sana, pintu lain di dalam kamar yang luput dari pengawasan Tya berderit terbuka. Bunyi engsel pintu yang saling beradu membuat Tya menoleh seketika ke arah sumber suara bersama seseorang yang membuatnya tak enak makan tak enak tidur muncul di sana, dengan tubuh menggigil hanya terbalut handuk melilit di pinggang.


Bisma nyaris terperanjat saat dia beradu pandang dengan netra teduh yang tengah memaku tatap padanya. Sorot manik mata Bisma terheran-heran, berbanding terbalik dengan Tya yang mulai berkaca-kaca dengan bibir bergetar. Terlebih lagi mendapati Bisma tengah menggigil membuat rasa khawatir Tya menyeruak hebat.


“Tya?” panggil Bisma spontan dengan kening terlipat samar. “Ini kamu?” sambungnya keheranan.


“Mas Bisma!” panggil Tya serak.


Dengan cepat Tya melintasi ruang terbentang yang memisahkan jarak antara dia dan Bisma. Serta merta menubruk dada bidang Bisma yang tak berpenghalang dan menangis di sana. Menumpahkan air mata sembari memeluk Bisma erat.


“Kenapa ponsel Mas mati? Aku… aku cemas sekali. Aku takut terjadi hal buruk sama Mas. Ma-maaf, aku membuka pesannya telat. Aku takut Mas sakit parah, aku takut bukan cuma meriang masuk angin.” Tya berucap terbata sembari sesenggukan, punggungnya bergetar diguncang isakan.


Sedangkan Bisma malah melongo, mengerjap sesaat lantaran tak paham dengan reaksi Tya. Mengingat-ingat sesuatu saat Tya menyinggung kata pesan dan meriang yang akhirnya membawa Bisma teringat pada chat tes ombaknya. Tak disangka ternyata menghasilkan gelombang dahsyat tak terduga. Tya bahkan jauh-jauh datang langsung ke Puncak untuk melihat keadaannya.


Tya mengurai dekapan. Dengan panik meraba-raba sisi wajah Bisma, turun ke leher bahu hingga dadanya.


“Tya, aku_”


“Cepat sini!” Kalimat Bisma tak berlanjut, terpotong seruan panik Tya.


Tya menggiring Bisma ke sisi tempat tidur. Menutupkan jendela rapat-rapat. Mengurai lipatan selimut dan melebarkannya lalu membungkuskannya ke bagian depan tubuh Bisma. Menyambar tas cangklongnya cepat, Tya mengeluarkan kayu putih dan minyak angin. Menyingkap selimut sedikit dan mulai membaurkan kayu putih di bagian depan dada Bisma sampai merata hingga ke punggung. Sembari sesekali menyusut sudut matanya yang masih mengeluarkan bulir beningnya.


Bisma mengamati Tya lekat-lekat. Sedang serius membalurkan kayu putih penuh perhatian. Wajah cantik Tya sembap dan ujung hidung bangirnya memerah, pertanda wanita ini menangis terus menerus sehingga jejaknya begitu kentara. Rambutnya pun agak acak-acakan, dikuncir sembarang.


Bisma merasa dirinya saat ini laksana margarin yang diletakkan di atas wajan yang dipanaskan. Hangat kemudian lumer seketika. Reaksi Tya yang ternyata amat panik hanya disebabkan chat berisi kata ‘meriang’, membuat hatinya berbunga-bunga karena itu artinya Tya memiliki perasaan yang sama dengannya. Pertanda getar cintanya berbalas.


Tya kembali menyelimuti Bisma yang duduk di tepi ranjang. Hanya saja tidak dibungkuskan sampai menutup ke belakang kali ini, membiarkan bagian belakangnya agak terbuka meski tak sepenuhnya.


“Mas, geser sedikit. Aku kerokin, biar enakan.” Tya duduk di belakang punggung Bisma. Menyusut air matanya yang sulit berhenti sehingga isakannya masih terdengar memenuhi udara.


Sudut bibir Bisma tertarik ke atas. Membentuk lengkung bulan sabit. Tersenyum senang bukan hanya di bibir, tetapi juga terpancar dari sorot matanya.


Tya yang tengah kesusahan membuka botol minyak angin dan fokus menunduk, tak menyadari Bisma memutar posisi padahal seprai dan selimut yang bergesekan menimbulkan bunyi gemerisik. Tanpa aba-aba, Bisma meraup tubuh Tya dan mendudukannya di pangkuan membuat Tya memekik kaget. Mencium gemas pipi Tya yang agak basah bekas jejak air mata itu lantas merekahkan senyum lebar.


“Mas! Tu-turunin dulu. A-aku mau ngerokin Mas dulu. Su-supaya meriangnya berkurang.” Tya gelagapan, hendak turun tetapi dekapan kedua lengan Bisma malah mengerat.


“Aku memang meriang, tapi enggak butuh kerokan sebagai obat. Karena meriangku ini berbeda. Singkatan dari merindukan kasih sayang, yang obatnya adalah belaian sayang dari kamu, Istriku.”


Seketika wajah Tya merona merah, bahkan telinga dan lehernya ikut bersemburat. Jantungnya menabuh kencang. Tya bermaksud memalingkan muka karena gugup, tetapi Bisma menahan dagunya lembut, memagut bibir Tya intim yang disusul dengan kalimat, “I love you, Cintya Angela.”


Bersambung.