Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 133



Sinful Angel Bab 133


Gema gelak tawa berangsur mereda. Dua sejoli yang baru bersatu kembali itu saling berpelukan di atas peraduan, merebahkan kepala di satu bantal yang sama. Napas keduanya terengah dengan permukaan rongga dada naik turun seirama.


Tya dan Bisma saling menetralkan sisa-sisa tawa mereka. Lantas saling bertukar pandang dengan senyum mengembang, sama-sama menggulirkan bola mata dalam jarak pandang begitu dekat. Membuat Tya dan Bisma dapat melihat jelas bias rindu yang begitu dahsyat menguar di iris mata masing-masing.


“Aku kangen, kangen banget sama kamu sampai hampir gila rasanya,” desah Bisma sembari membelai mesra pipi Tya, menggulirkan lembut punggung tangannya di sana, menghantarkan desir yang merambati nadi hingga sanubari Tya.


“Aku lebih dari kangen. Setiap malam selama kita berpisah, aku kesulitan memejamkan mata, hanya sepotong kaus polo milik Mas yang menjadi harapan agar aku bisa tertidur walaupun cuma sebentar.” Bibir ranum Tya menderaikan kata yang membuat sorot mata Bisma melembut.


Merapikan rambut Tya dan menyelipkannya ke belakang telinga, Bisma kemudian mengikis jarak wajah mereka yang hanya berjarak satu jengkal itu. Semakin mendekat dan dengan kedua mata memejam sebuah kecupan penuh cinta serta penuh perasaan menyentuh kening Tya, berlabuh di kulit halus Tya begitu lama. Mencurahkan gunungan rindu yang selama satu bulan ini menyiksanya setiap saat.


Tya menerima curahan cinta dan rindu Bisma dengan kelopak mata yang ikut terkatup. Tangannya yang tengah balas memeluk meremat punggung kokoh sang suami lantas menariknya agar bukan hanya wajah yang tak berjarak, tetapi juga raga mereka. Tya meresapi setiap jengkal debaran indah yang dihaturkan prianya kepadanya. Sebuah curahan perasaan tulus penuh penghargaan yang tak ternilai dan tak bisa dibandingkan dengan apa pun di dunia.


Kecupan Bisma perlahan turun, mendarat di kedua kelopak mata Tya, bergeser merambat ke ujung hidung yang ditutup dengan kecupan manis di bibir Tya.


“Jangan pernah pergi meninggalkanku juga meninggalkan rumah ini lagi apa pun permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga kita ke depannya. Di saat ibadah terpanjang kita ini bahteranya diuji dengan terjangan badai dan gelombang, aku memohon dengan sangat jangan pernah memutuskan dan menyimpulkan segala sesuatunya sendiri lagi. Adanya aku sebagai suami adalah tempatmu berkeluh kesah dan mencurahkan segala gundah. Tempatmu berdiskusi dan bersama-sama kita mencari solusi. Tempatmu berbagi duka juga, bukan hanya suka. Andai terjadi hal buruk padamu selama kamu pergi dariku, aku pasti semakin merasa jadi suami tak berguna yang enggak bisa melindungi anak dan istrinya.”


Kalimat demi kalimat yang Bisma sampaikan membuat tatapan Tya mulai mengkilap. Bukan karena tersinggung, melainkan merasa amat terharu.


“Aku minta maaf, Mas. Telah mengambil keputusan yang tidak dewasa,” ucap Tya penuh sesal. Mengembuskan napas berat.


“Aku juga minta maaf. Harus kuakui bahwa aku pun punya andil atas kesimpulanmu yang pasti berasal dari berbagai macam spekulasi. Di hari kamu pergi meninggalkan rumah ini, aku baru tahu alasan terjatuhnya foto USG di kantorku. Aku melihatmu berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka celahnya dan pasti kamu mendengar semua percakapanku dengan Bunda.”


Tya menelan ludah. “Mas tahu dari mana?”


“Dari CCTV kantor. Aku melihat semuanya dan sungguh aku merasa sangat bersalah. Saat itu aku memilih mencoba menyelesaikannya sendiri dulu tanpa bercerita padamu demi menjaga perasaanmu. Tapi sepertinya pemikiranku keliru, merupakan suatu pelajaran berharga bagiku bahwa merahasiakan suatu permasalahan dari istriku walaupun demi alasan kebaikan bersama tetap enggak bisa dibenarkan. Maaf, karena saat itu aku malah enggak terbuka sama kamu. Seharusnya aku juga berdiskusi denganmu tentang hal itu supaya kamu enggak mencari solusi sendiri.”


Tya menatap Bisma lekat-lekat, mengulas senyum pemakluman dan meraba sayang rahang suaminya yang terlihat kurang terurus. Jambangnya dibiarkan tumbuh lebih panjang dari biasanya.


Keduanya mengangguk bersamaan, sama-sama setuju dan sepakat.


“Sore itu, kamu pasti datang ke kantor berniat memberiku kejutan?” kata Bisma kemudian.


“Iya, tadinya kepingin ngasih surprise. Tapi… justru aku yang dapat kejutan,” jawab Tya, mengulum senyum masam.


“Tapi, sewaktu aku pulang ke rumah, kenapa kamu enggak langsung bercerita tentang kehamilanmu?” tanya Bisma menelisik.


Tya menatap bola mata Bisma lekat-lekat. “Karena setelah mendapat kejutan di kantor, kepercayaan diriku hilang terjun bebas. Aku takut bayi ini enggak disambut kehadirannya oleh Mas dan keluarga karena dikandung oleh wanita sepertiku, walaupun akhirnya Mas tahu sendiri dari foto USG yang enggak sengaja kujatuhkan di kantor,” lirihnya yang kemudian menunduk dalam.


“Memangnya wanita seperti apa yang kamu maksud, hmm? Kamu adalah wanita pilihan yang dikirim pemilik alam padaku untuk melengkapiku, menjaga hatiku, menjadi ibu dari anak-anakku,” tukas Bisma sembari menarik dagu Tya lembut agar terangkat supaya tatapan mereka bersirobok lagi dalam satu garis lurus.


“Mendengar diriku ini akhirnya akan menjadi ayah merupakan anugerah tak terkira dan itulah yang kurasakan. Kamu tahu, berkat kamu, harga diriku sebagai laki-laki yang dulu pernah diolok dan dilukai pupus sudah saat mengetahui kamu mengandung anakku. Kamu membuatku kembali merasa jadi laki-laki sejati, Tya.”


Bisma mengungkapkan rasa syukurnya memiliki Tya sebagai istrinya. Bukan mengada-ada, semuanya tulus berasal dari dasar lubuk sanubari terdalam. Membuat seluruh rongga dada Tya serasa dipenuhi taman-taman indah penuh bunga berwarna-warni lagi harum mewangi.


“Aku sayang kamu, Mas,” cicit Tya, mengeratkan pelukan, menyurukkan wajah di leher Bisma. “Tentang keputusanku pergi aku sungguh minta maaf. Enggak pernah menyangka diri ini yang rasanya tak berharga membuat semua orang khawatir. Bahkan kemarin Khalisa becerita, kudengar sewaktu aku pergi, bunda bertambah sakit dan Mas pun masuk rumah sakit. Pantas saja beberapa malam pada waktu awal-awal aku pergi, aku sering bermimpi Mas terbaring lemah di ranjang putih rumah sakit. Rupanya bukan hanya sekadar bunga tidur, tapi pesan tersirat yang disampaikan alam padaku,” tutur Tya dengan helaan napas nyaring.


“Itu benar, aku jatuh sakit. Bahkan sampai detik kita bertemu kembali aku terus menerus sakit dan semua itu gara-gara kamu. Jadi kamu harus bertanggung jawab.” Bisma mengekeh penuh arti, memundurkan wajahnya supaya bisa melihat wajah cantik bidadari hatinya di bawah binar lampu tidur temaram.


Tya melipat bibir, pipinya merona merah jambu mengartikan nada sensual yang menyertai ucapan Bisma barusan.


“Baiklah, karena sudah membuat gara-gara, aku akan bertanggung jawab penuh seumur hidupku. Tanggung jawab seperti apa yang Anda inginkan, Tuan?" bisik Tya menggoda meski wajahnya telah sepenuhnya memanas sekarang.


Bisma menggesekkan hidung mancungnya di hidung bangir Tya kemudian menjawab, “Bertanggung jawablah padaku dengan mencintaiku seumur hidup. Cukup cintai aku dengan segenap jiwa ragamu berhiaskan kesetiaan, hanya itu yang aku minta.”


Bersambung.