Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 11



Sinful Angel Bab 11


Setahun lalu, kelab malam milik Jordan ikut digerebek dan disegel setelah salah satu pejabat berpengaruh dan salah seorang oknum berwajib berkedudukan tinggi yang menjadi back up Jordan serta jaringannya selama ini terkuak boroknya dan ditangkap pihak berwajib.


Sebelum huru-hara penggerebekan mencapai markas pusat, Jordan membawa aset-aset pentingnya, menyeret para bunga malam terbaiknya termasuk Tya juga empat orang kacungnya untuk melarikan diri dari sana. Padahal saat itu Tya ingin terjaring polisi saja dengan harapan bisa terlepas dari belitan rantai mencekik yang diikatkan Jordan si mucikari bengis itu padanya.


Aturan Jordan amat keji, jika ingin lepas darinya, maka para bunga malamnya harus membayar kompensasi rupiah yang sangat tinggi. Nominal angka yang jelas sulit didapat oleh orang-orang seperti Tya dan kawan-kawannya, lingkaran setan tanpa celah melarikan diri yang sengaja dibuat si mucikari. Kabur bukan solusi, setiap yang kabur dengan mudah tertangkap lagi dan hukuman mengerikan menanti.


Jordan membawa sekitar tujuh orang bunga malamnya menuju pelabuhan besar di ibukota secara sembunyi-sembunyi, bergerak lebih cepat dari pihak berwajib yang sedang mengejarnya, hendak menyeberang ke Thailand melalui jalur laut dengan berganti-ganti kapal tentu saja. Menurut kabar yang pernah Tya dengar, Jordan memiliki teman akrab yang juga menggeluti bisnis kelam serupa di sana, dan tentu saja para bunga malam terbaiknya dibawa untuk dijadikan sapi perah lagi, hanya berbeda tempat.


Di bawa ke negeri orang dan dituntut harus menjalani profesi serupa, Tya merasa tak sanggup lagi. Terlebih banyak desas-desus yang menyebutkan di tempat teman Jordan itu, para pelanggannya kebanyakan memiliki orientasi menyimpang parah, menyukai kekerasan brutal, membuatnya bergidik ngeri.


Sewaktu menunggu kapal di pelabuhan, dengan nekat Tya melukai betis mulusnya sendiri menggunakan beling bekas minuman yang tercecer dekat tempat sampah, sengaja menggores permukaan kulit mulusnya cukup panjang.


“Bos, betis Tya terluka cukup dalam dan membutuhkan penanganan jahit luka. Dia bilang terpeleset. Tapi kita tak ada waktu hanya mencari pelayanan kesehatan. Sepuluh menit lagi kapal kita akan tiba.” Salah seorang kacungnya melapor pada Jordan yang sedang berbincang dengan orang yang disuap di pelabuhan.


“Tapi Bos, luka Tya tidak akan berhasil mereda kalau cuma diikat. Sedangkan perjalanan kita masih panjang. Bisa-bisa Tya demam tinggi dan kondisi lukanya memburuk, juga, dilihat dari tipe lukanya kali ini, sepertinya akan meninggalkan bekas luka yang sangat terlihat di sepanjang betisnya.”


“Apa!” Jordan membeliak murka, salah satu aset terbaiknya tergores adalah bencana, bisa menurunkan daya jual atau bahkan tidak ada pelanggan yang berminat lagi dengan Tya.


“Sial!” Jordan menendang tempat sampah tak berdosa yang berada dekat dengan kakinya.


Didesak waktu berkejaran dengan polisi, dengan umpatan kesal tak henti Jordan meninggalkan Tya di pelabuhan karena kapal yang dibayarnya menyarankan untuk bergegas berangkat jika masih ingin melarikan diri.


Tya yang sengaja melukai diri, menyeret dirinya menjauh dari pelabuhan dengan kaki terluka. Meski tubuhnya mulai menunjukkan reaksi buruk akibat lukanya yang mengeluarkan banyak darah, Tya tersenyum lega, menangis haru penuh syukur, menghirup rakus aroma kebebasan.


Kesadarannya nyaris timbul tenggelam saat seorang gadis berbaju lusuh dengan karung di punggung menghambur padanya. Kira-kira usianya belasan tahun. Dia adalah Caca, si gadis pemulung yang menolongnya. Si gadis pemulung yang kini bolak-balik rumah sakit akibat mengidap gastritis akut.


Bersambung.