
Sinful Angel Bab 88
Bisma memicing, mengintip jam di dinding dengan mata beratnya yang dihinggapi lelah dan kantuk hebat. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Menggosok matanya pelan, dia menggapaikan tangannya mencari-cari ponsel di meja dekat ranjang yang bersisian dengan lampu tidur.
“Poppy, hari ini pergilah berdua dengan Hadi ke kantor desa dan instansi lainnya untuk mengurus sisa pekerjaan kemarin sore. Aku tidak bisa ikut. Kupercayakan semua pekerjaanku hari ini padamu. Aku akan memberikan bonus untukmu juga Hadi bulan depan,” titah Bisma dengan suara sengau khas bangun tidur.
[“Baik, Pak. Tapi, ini sarapan buat Anda sama Bu Tya gimana? Bu mandor sudah dua kali bolak balik ke villa. Tapi baik pintu depan maupun pintu belakang masih terkunci.”]
Poppy tak banyak bertanya alasannya. Bisma sangat jarang mengalihkan pekerjaan penting secara mendadak kepadanya. Biasanya selalu terjadwal. Pasti Bisma memang benar-benar sedang tidak bisa pergi. Atau mungkin seperti celotehan mengganggu Hadi subuh tadi bersama Mang Eko yang menggosipkan tuan dan nyonya mereka, bahwa dipastikan Bisma hari ini tidak akan keluar villa pagi-pagi.
“Bilang sama bu mandor tidak usah diantar dulu. Kami belum lapar, masih ingin tidur. Bilang saja, nanti kalau ingin sarapan, aku yang akan ke rumah bu mandor langsung.”
[“Siap, Pak. Masih ada yang harus saya kerjakan lagi?”]
“Sudah cukup. Kalau bisa selesaikan sebelum jam tiga sore. Ba’da asar kita akan pulang kembali ke Bandung.”
Bisma segera menutup teleponnya begitu mendengar erangan lembut Tya yang bergelung menyusup di pelukannya. Kelopak mata Tya bergerak-gerak meski tak kunjung membuka. Pasti Tya kelelahan juga mengantuk berat setelah digempur berulang kali olehnya semalam.
“Sorry aku berisik ya?” tanya Bisma yang direspons Tya dengan gelengan kepala.
“Atau kamu lapar? Mau makan sekarang?”
Tya menggeleng lagi. “Aku belum lapar, tapi ngantuk. Jam berapa ini, Mas?” Tya berucap serak, masih dengan mata memejam.
Bisma merekahkan senyum lebar. Mencium ubun-ubun Tya penuh sayang dan mengeratkan pelukan juga selimut yang membungkus tubuh mereka. Rona ceria tercetak jelas di wajah masing-masing. Pertanda keduanya dilingkupi rasa bahagia tak terkira.
“Sudah, jangan pedulikan jam. Tidur lagi saja kalau masih ngantuk.” Bisma mengecup mesra kelopak mata Tya. “Pejamkan mata, beristirahatlah dan puaskan tidurmu. Kita memang masih butuh tidur setelah meronda semalam,” ujar Bisma iseng.
Masih dengan kedua mata terpejam, Tya ikut tertawa kecil. “Ngeronda apanya? Yang ada semalaman kita ngacak-ngacak kasur sama seprai!” dengus Tya berbalut nada canda.
Memang benar. Semalam mereka kembali menyatu lagi setelah terjeda istirahat beberapa jenak. Bisma benar-benar membebaskan liar hasrat purbanya semalam. Menuntaskan dahaganya yang terpendam selama tiga tahun. Membanjiri Tya berulang kali hingga tenaganya benar-benar terkuras dan akhirnya jatuh tertidur.
Menjelang adzan Subuh alarm di handphone Bisma menyala. Meski dengan tubuh lemas dan terkantuk-kantuk, keduanya tetap bangun untuk melaksanakan mandi wajib dan menunaikan solat. Selepas solat Subuh, keduanya masuk lagi ke dalam selimut dan saling berpelukan. Kembali melanjutkan lelap yang terjeda.
“Memangnya semalam siapa nantangin, hmm?” Bisma mencubit gemas pipi Tya.
“Enggak tahu tuh, lupa,” ujar Tya nakal yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bisma yang hanya dilapisi kaus polo. Sedangkan Tya setelah mandi subuh tadi memakai kemeja Bisma karena si gaun tidur putih telah ternoda oleh jejak-jejak penyatuan cinta mereka semalam.
“Akh, kamu bikin aku kepingin lagi. Tapi nanti kamu sakit kalau kurang istirahat. Jadi sekarang tidurlah, karena kemungkinan nanti malam kamu harus lembur lagi. Bahkan kayaknya bukan cuma nanti malam, tapi juga malam-malam berikutnya kamu bakal ngeronda terus,” kekeh Bisma penuh arti.
“Dih, memangnya aku hansip apa!” dengus Tya merajuk, pipinya merona cantik karena malu.
“Iya, hansip cantik. Khusus memastikan ranjangku aman sentosa,” ujarnya jahil.
Keduanya tertawa renyah bersama cinta yang semakin menguat. Tya dan Bisma kembali memejamkan mata sembari saling mendekap mesra. Berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama, merapatkan kulit mereka mengenyahkan jarak. Mengusir hawa dingin berpadu kabut yang melingkupi menggantung di atap bangunan.
Sementara itu di Jakarta, Viona sedang mengadakan kunjungan rutinnya ke seluruh VN Fashion yang tersebar di kota metropolitan itu. Kegiatan rutinnya seperti biasa, setelah beberapa bulan ke belakang mengunjungi butik-butiknya di luar pulau Jawa.
Peminat VN Fashion memang tak pernah lekang oleh waktu. Terlebih lagi saat dirinya dan si sulung merambah pada fashion muslimah. VN Fashion semakin lebar saja sayapnya, bahkan cabangnya tersebar hingga ke negeri Jiran.
Viona memang tak segan menyapa langsung para customer VN Fashion jika memang waktunya sedang senggang. Seperti saat ini, ia tengah berbincang dengan salah satu pelanggan tetapnya. Duduk minum kopi di sebuah kafe yang letaknya bersebelahan dengan salah satu butiknya di Jakarta.
Di tengah-tengah obrolan santai Viona dengan wanita anggun yang dipanggil 'Jeng Dara' itu, seorang wanita yang sepertinya sedang hamil dan berpakaian seksi yang baru masuk ke kafe menghampiri dan menyapa.
“Bunda Viona?”
Wanita mungil yang selalu berpakaian rapi dan bersahaja itu sontak menoleh saat ada yang memanggilnya dengan sebutan akrab. Agak terkesiap saat mendapati siapa sosok yang menyapa. Sosok wanita cantik berwajah indo blasteran.
“Prita?”
“Iya, Bunda. Ini aku, Prita. Lama tak jumpa, Bunda,” sapa Prita manis. Lebih tepatnya tak tahu malu. Sudah menguras harta warisan Bisma, Prita juga menendang dan mengkhianati putra dari wanita bersahaja ini. “Kabarnya VN Fashion makin berjaya, selamat ya, Bunda,” sambung Prita berbasa-basi.
“Ah, terima kasih,” sahut Viona singkat.
“Jeng Viona, sepertinya diskusi kita sudah cukup. Nanti kalau baju pesanan saya yang tadi sudah selesai, minta tolong diantar ke rumah saya di Cinere saja, seperti biasa.” Wanita anggun lawan bicara Viona bangkit dari duduknya dan berbicara dengan sopan.
“Tentu, Jeng Dara. Kalau sekiranya ada hal yang kurang berkenan mengenai produk VN Fashion, jangan sungkan mengutarakan kritik dan saran. Untuk evaluasi kami dalam berinovasi.”
Wanita anggun itu berpamitan dengan tak lupa menyapa Prita sekilas. Yang disapa malah kegirangan sok akrab. Bahkan Prita tak malu memperkenalkan diri sebagai mantan istri putra bungsu Viona, seolah tak melihat ekspresi datar Viona padanya.
“Bunda, aku boleh duduk di sini, ya?” Prita menunjuk kursi bekas wanita anggun tadi. “Aku lagi pesan teh, sebentar lagi datang.”
“Oh, duduk saja,” kata Viona tanpa ekspresi. Mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan.
Sebenarnya Viona malas dan muak bertemu dengan mantan menantunya ini terlebih dengan mantan besannya si pengacara licik. Akan tetapi, sebagai orang tua Viona tetap menjaga pengendalian diri di khalayak umum. Jangan sampai viral karena tak bisa menahan emosi, demi citranya juga karena dirinya merupakan pelaku bisnis.
“Aku mau cari gaun buat pemotretan maternity di butik Bunda. Terus karyawan bilang Bunda lagi ada di sini,” cicit Prita sok akrab.
“Oh, begitu,” jawab Viona malas.
“Bunda, aku lagi hamil, lho.” Prita memamerkan perut buncitnya yang akan menginjak umur kandungan lima bulan, sudah mulai menyembul terlihat.
Jujur saja Viona terhenyak. Hanya saja dia berusaha menyembunyikan rasa nelangsa yang mendadak merambati hatinya. Merasa sedih untuk putranya yang selama menikah tiga tahun dengan Prita dulu tak kunjung diberi momongan. Bahkan mulai berpikiran macam-macam tentang kesuburan Bisma. Kendati begitu, riak-riak yang berusaha disembunyikan Viona akhirnya terbaca oleh Prita.
“Selamat ya.” Viona tak ingin berlama-lama bersama Prita, khawatir dirinya kalap dan menjambak wanita hamil yang pernah menyakiti putranya itu. “Silakan lanjutkan minum tehmu, Prita.”
“Makasih, Bunda. Oh iya, semoga saja istri baru Bisma juga bisa segera hamil. Biar Bunda segera punya cucu. Ya... walaupun sebetulnya aku kurang yakin,” kekehnya meremehkan dan memprovokasi sebelum Viona berderap pergi tanpa menoleh lagi.
Bersambung.