Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 154



Sinful Angel Bab 154


Semakin cinta. Itulah luapan rasa yang memenuhi seluruh ruang kalbu Bisma sepulang berkencan dengan Tya. Berdendang merdu memenuhi sukma.


Bukan hanya imbas karena mereka habis berkencan untuk pertama kalinya, Tya yang memaafkan permohonan maaf Markus tanpa banyak drama itulah yang membuat Bisma semakin tertawan hati oleh sosok wanita bermata teduh ini. Hati lembut wanita yang tengah mengandung buah hatinya itu memanglah begitu luas, terbentang tak terukur.


Markus mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Tya hanya berpesan pada Markus jadilah pria yang lebih baik lagi untuk keluarganya saat kesempatan untuk berubah masih diberikan.


Bisma berbesar hati memberi kesempatan kedua kepada Markus untuk memperbaiki diri dengan tetap menyelipkan ultimatum di ujungnya. Jika Markus nekat tidak mematuhi perjanjian tertulis yang mereka sepakati, maka sudah dipastikan Bisma akan meledakkan kartu AS Markus tanpa bernegosiasi lagi.


Putra Markus lah yang menjadi pertimbangan Bisma memberi kesempatan merenung pada si pria yang tak berani lagi mengangkat wajah saat berada di hadapannya juga Tya. Putra Markus sangat menyayangi ayahnya begitu pula sebaliknya. Berharap ke depannya semoga Markus memang benar-benar ingin berubah dari lubuk hati terdalamnya demi keutuhan keluarga, bukan hanya karena takut hidup susah dan takut dibenci anaknya.


Pemandangan di atas peraduan malam ini agak berbeda, jika biasanya Tya yang bergelung manja di pelukan Bisma, kali ini justru sebaliknya. Bisma lah yang sedang bermanja pada sang istri.


Tya duduk bersandar sementara Bisma rebah di pahanya, menghadap perut Tya yang mulai membuncit. Tya membelai-belai lembut rambut lebat Bisma, sedangkan suaminya itu mengelusi perutnya sembari sesekali mendaratkan kecupan-kecupan sayang.


“Kapan kita bisa melihat jenis kelamin bayi lucu di dalam sini?” tanya Bisma, menengadah pada Tya yang sedari tadi menunudukkan pandangan padanya. “Aku sudah enggak sabar,” sambungnya kentara sangat penasaran.


“Sabarlah, Papa. Dokter bilang mungkin di waktu kontrol mendatang, kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya. Kenapa memangnya?” Tya balik bertanya, hanya saja sejumput ketakutan terbersit tiba-tiba, menghantui pikirannya.


Benaknya berkecamuk dipenuhi prasangka buruk. Bagaimana kalau ternyata Bisma memiliki harapan spesifik tentang jenis kelamin anak mereka? Bagaimana kalau suaminya ini kecewa jika bayi yang dikandungnya berjenis kelamin tak sesuai espektasi? Akankah anaknya berakhir dibenci?


Bola mata Tya yang bergulir resah membuat Bisma memicing. “Ada apa? Apa ada yang sakit?” Bisma buru-buru bangun dari baringannya.


“E-enggak ada sih, Mas. Cuma ngomong-ngomong, kenapa Mas kayaknya penasaran banget ingin mengetahui jenis kelamin bayi ini? Apakah… apakah Mas punya keinginan dan harapan spesifik tentang jenis kelamin anak pertama kita?”


Tya menelan ludahnya yang terasa sulit melewati kerongkongan saking tegang dan gugupnya ia sekarang. Harap-harap cemas dengan jawaban yang akan diucapkan suaminya. Menciptakan beban tersendiri baginya.


Kerisauan Tya dapat terbaca dengan mudah oleh Bisma. Semakin mengenal Tya lebih dalam, kemampuan Bisma membaca air muka Tya pun bertambah tajam intuisinya. Dia duduk bersila di dekat betis Tya, kemudian mengangsurkan tangan memijat kaki istrinya itu.


“Aku enggak punya keinginan spesifik. Mau laki-laki atau perempuan sama saja. Anugerah tak ternilai yang sudah lama kunantikan. Yang kuinginkan adalah istri serta anakku sehat dan selamat. Selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa di manapun berada. Kenapa aku begitu ingin tahu semata-mata karena aku antusias ingin segera menata kamar bayi kita, menata sesuai dengan jenis kelaminnya,” jelas Bisma yang jawabannya langsung menepiskan mendung di wajah Tya.


Tya mendesah lega. Ketakutan yang menggelayut kelabu berjatuhan tak tersisa. Berganti raut wajah yang kembali cerah.


“Pijatan Mas di betisku selalu enak,” puji Tya pada Bisma yang sedang menggulirkan pijatan di betisnya.


“Jadi pijatan di bagian lain enggak enak nih? Lalu, sebenarnya siapa ya yang kemarin malam berteriak nikmat karena pijatan lihaiku?" tukas Bisma cemberut dibuat-buat, sementara sorot matanya justru menyiratkan hal lain, berkilat panas.


Wajah cantik Tya merona seketika. Bisma malah mengingatkannya lagi pada kejadian tadi malam di mana dirinya merintih kencang saat digempur penuh gelora selepas mandi bersama. Pergumulan panas yang membuat mereka berkeringat lagi di dinginnya udara malam.


“Abisnya kamu gemesin kalau lagi merona-rona begitu. Makin cantik, bikin aku pingin godain terus,” kekeh Bisma yang kembali fokus pada pijatannya di kaki Tya.


Untuk sejenak pijatan Bisma berhenti tepat di bekas luka memanjang di betis berkulit putih istrinya itu. Mengusapnya lembut dengan hati-hati di sana.


“Ini beneran sudah enggak sakit lagi?”


Tya menganggukkan kepala. “Sudah lama enggak sakit kok, Mas. Lagian itu luka lama.”


“Pasti kala itu rasanya sakit sekali kan, sengaja melukai diri dengan merobek kakimu sendiri menggunakan beling?” Bisma meringis sembari mengusap sayang di sana. Membayangakn kulit lembut itu dikoyak sengaja.


“Sakit, sangat-sangat sakit. Tapi di saat bersamaan aku merasa sangat-sangat lega, akhirnya aku bisa terbebas dari lingkaran setan tak bertepi yang mencekikku. Rasa sakit di kakiku rasanya tak seberapa saat udara kebebasan membanjiri paru-paruku,” tutur Tya sembari tersenyum dengan tatapan menerawang ke masa itu.


“Ternyata istriku ini pemain debus! Nekat sekali main-main sama beling.” Bisma berdecak usil agak serak sembari melanjutkan pijatan. Lantas dia menunduk dalam menyembunyikan bola matanya yang memanas. Seolah ada bongkahan batu besar yang menindih dadanya setiap kali mengingat betapa menderitanya dan susahnya hidup Tya dulu. Tak seberuntung manusia lainnya.


Tya tergelak kecil. “Tapi berkat kenekatanku, aku dipertemukan dengan Caca si anak baik yang pada akhirnya membawaku bertemu dengan seorang pria luar biasa yang menerimaku apa adanya. Andai di hari itu aku enggak nekat, aku mungkin enggak akan punya pemijat pribadi seperti sekarang ini.” Tya bertutur dengan tatapan berlumur senyum.


Bisma ikut tertawa, menyusut sudut matanya sambil lalu agar istrinya tidak tahu bahwa air matanya menggenang.


“Setelah pijatan ini selesai, jangan lupa bayarannya, Nyonya. Saya ini pebisnis, jadi segala sesuatunya harus dihitung dengan logika,” ujarnya berkelakar.


Tya terkikik hingga pundaknya berguncang. “Jenis bayaran seperti apa yang Anda inginkan, Tuan? Kenapa mendadak perasaanku enggak enak ya?” Tya mengkerling menggoda.


Bisma menyudahi kegiatan memijatnya, beringsut naik dan meraup Tya supaya terduduk di pangkuannya dalam posisi menghadap padanya.


“Bayarannya tentu saja pijatan juga, tapi variannya yang super spesial,” Bisma meraba nakal aset membusung Tya yang semakin berisi efek dari tubuh Tya yang sedang berbadan dua.


Mengalungkan kedua lengan ke leher Bisma, Tya kemudian berbisik merayu, “Baiklah, saatnya Mama membayar jasamu tadi, Papa.”


Kalimat Tya langsung dibungkam pagutan panas. Saling menautkan jiwa raga, mengobarkan kembali ranjang mereka di lingkupan dinginnya udara malam.


Sementara itu, Radhika yang seharusnya pulang ke Jakarta tadi siang malah sedang berdansa ria di sebuah kelab malam masih di Kota Bandung.


Dia tengah asyik menenggak minuman keras dan berjoget di bawah hingar bingar lampu diskotik. Bersama Cyra tentunya, menghamburkan uang juga menghamburkan benihnya berulang kali pada si model seksi yang telah bersedia menjadi simpanannya, lebih tepatnya bersedia menjadi budaknya. Merayakan kebersamaan terlarangnya dengan Cyra dan berdalih pada Prita bahwa dia butuh waktu lebih lama demi menyuksekan misi menaklukan Bisma seperti keinginan Prita.


Bersambung.