Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 159



Sinful Angel Bab 159


Prita dilarikan ke rumah sakit oleh beberapa karyawan didampingi si sekretaris bernama Rini itu.


Proses persalinan Prita dilakukan melalui jalan operasi setelah berjam-jam dilakukan induksi tak kunjung membuahkan hasil. Tetap stuck di pembukaan empat. Prita mengalami pecah ketuban dini yang sangat berisiko pada keselamatan si bayi juga dirinya sendiri, belum lagi tekanan darahnya mendadak tinggi.


Selama kontraksi ketika menjalani proses induksi sebelum tindakan operasi akhirnya dilakukan, teriakan kesakitan juga umpatan kasar terus meracau dari mulutnya. Memaki-maki nama ayah dari anaknya juga memarahi si bayi di dalam perutnya karena membuatnya harus merasakan sakit tak terperi. Sungguh malang, bayi tak berdosa pun ikut menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Bahkan semua orang yang ada di dekatnya ikut terkena semprot, bukan hanya Rini, tetapi perawat dan dokter pun ikut dimaki.


Melahirkan lebih awal tanpa didampingi suami terlebih keluarga sama sekali tak pernah terbayang olehnya. Parahnya, di saat waktunya melahirkan bayinya, suaminya ternyata bermain gila di belakangnya. Bayinya pun saat ini harus dirawat di ruang intensif lantaran mengalami masalah pernafasan akibat sempat menelan air ketuban. Dan dia sendiri pun sempat mengalami kejang ringan pasca melahirkan.


Di saat seharusnya mereguk bahagia, Prita justru disuguhi secawan racun pahit yang dijejalkan untuk ditelan paksa. Dia juga merasa de javu saat mendengar suara ******* menjijikkan Radhika dengan si wanita lain. Teringat dulu dia pernah dengan jahatnya mengirim suara-suara perselingkuhannya dengan Radhika kepada Bisma hanya untuk menyiksa batin mantan suaminya itu, hal menyakitkan dan mencabik hati yang kini dialaminya sendiri.


Rini masuk ke ruang perawatan Prita sore ini, setelah berkutat dengan berbagai permasalahan di perusahaan tempatnya bekerja. Terlihat berat melangkahkan kaki.


“Bagaimana kabar Ibu hari ini? Kata dokter, kemungkinan besok sudah diperbolehkan pulang setelah dipastikan kondisi Ibu semuanya baik. Kecuali putra Anda, yang mungkin membutuhkan waktu perawatan lebih lama di sini,” ucap Rini yang berdiri di sisi kanan ranjang di mana Prita berbaring. “Oh iya, kalau Ibu mau lihat bayinya, saya nanti tanyakan pada dokter buat minta izin untuk membawa ibu ke ruang intensif.”


“Tidak perlu. Yang ingin aku ketahui adalah di mana si bajingan itu sekarang!” geramnya membentak Rini, padahal saat ini Prita terlihat pucat juga masih lemas efek dari proses melahirkan dua hari lalu. Kondisi Prita yang mengalami komplikasi menjadikan pemulihan pasca persalinannya agak lambat, tak seperti kebanyakan ibu melahirkan.


Prita memang memerintahkan Rini mencari keberadaan Radhika sewaktu di perjalanan saat dirinya dilarikan ke rumah sakit. Dia ingin menuntut penjelasan tentang perkebunan, ingin meluapkan amarah, sakit hati, kecewa dari pengkhianatan, juga ingin memberitahu bahwa dirinya dibawa ke rumah sakit.


“Kami kesulitan mencari tepatnya di mana, Bu. Dua ponselnya pun tidak aktif. Dari laporan yang masuk pada saya, bapak terakhir terlihat keberadaannya itu di toko berlian Bright Luxury di Kota Semarang bersama seorang wanita. Setelah itu hingga hari ini belum terlihat lagi kemunculannya. Tapi saya sudah mengirim pesan melalui email, mengabarkan bahwa ibu sudah melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan,” jelas Rini yang tetap ikut prihatin meski sikap Prita kepada para karyawan seringnya tidak beradab.


“Arghh! Radhika Suroso, aku akan membuat perhitungan denganmu!” jeritnya murka.


“Bu, maaf saya harus menyampaikan hal lain juga yang tak kalah penting.” Rini menjeda sejenak kalimatnya. Berat rasanya harus mengatakan hal ini.


“Tadi pagi pihak bank datang dan mengatakan Sinar Abadi akan disegel segera jika pihak bank tak kunjung mendapat kejelasan terkait pelunasan utang perusahaan yang sudah terlalu lama jatuh tempo, mereka hanya memberi waktu satu bulan. Beberapa investor besar juga mulai rewel dan menghubungi perusahaan terus menerus, kemungkinan penyebabnya adalah imbas dari isu penyegelan yang sepertinya sudah tersebar. Belum lagi pabrik tak bisa beroperasi sebab kita sudah kehabisan bahan baku utama. Sebelum saya berangkat ke sini, juga ada sebuah surat yang dilayangkan untuk Anda dari LBH Raksa Gantari. Pihak staf LBH Raksa Gantari sendiri yang mengirimkannya langsung. Saat saya meminta keterangan, katanya isinya adalah somasi dari Pak Bisma untuk Anda atas perkara pencemaran nama baik istrinya, dan Pak Bisma berniat membawa masalah ini ke pihak berwajib. Ini suratnya, Bu. Silakan dibaca.”


Rini menyodorkan sebuah amplop coklat pada Prita yang dibuka oleh Prita dengan tak sabaran. Setelah membacanya Prita yang sejak tadi mengeraskan rahangnya, seketika memejamkan mata, jelas tampak sangat lelah.


“Lalu, tentang pembayaran perkebunan yang dijual, apakah kamu sudah menelusuri ke mana uangnya masuk?” tukasnya, suaranya mulai lirih.


“Sudah, Bu. Kemarin saya langsung datang ke Bandung menemui pembelinya. Berkas jual beli yang mereka miliki juga asli. Ternyata seluruh pembayaran sudah langsung dikirimkan ke rekening Pak Radhika di hari itu juga. Dan yang mencengangkan perkebunan dijual dengan harga rendah. Untuk 75 hektar keseluruhan hanya dijual tiga milyar saja. Bukan hanya itu, surat-surat kendaraan operasional pabrik pun ternyata dibawa Pak Radhika juga. Tadi pagi beberapa mobil operasional yang masih baru dibawa oleh pembelinya tanpa bisa kami tahan karena memang surat jual belinya sah.”


Prita melempar surat somasi yang dipegangnya. Lantas berteriak dan meraung menangis kencang. Untuk pertama kalinya Rini melihat wanita arogan ini rapuh. Menangis tersedu-sedu pilu, amat menyedihkan. Rini hanya menunduk menatap lantai, tak tahu harus bereaksi bagaimana.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang dialami Prita sekarang. Hidup Prita kacau balau, kacau oleh keserakahan dan ketamakannya sendiri. Tengah memanen apa yang ditanam.


Dulu, dia berselingkuh dan dengan licik merampas semua harta Bisma. Mengolok-olok kepercayaan Bisma padanya. Kini, dia merasakannya sendiri bagaimana dikhianati dan segala miliknya digasak oleh pria yang katanya mencintainya, pria yang dipercaya akan selalu menghamba serta setia padanya. Nasib perusahaan hasil rampasan yang dibangga-banggakannya pun kini di ujung tanduk, terancam bangkrut. Semua keburukan yang pernah dilemparkannya pada Bisma dulu, kini berbalik menjadi bumerang. Menyerangnya tanpa ampun, menghancurkannya tanpa belas kasihan.


Ponsel Prita di atas meja kayu samping ranjang berdering. Masih dengan terisak-isak dia meraih gawainya itu, mengangkat panggilan dari nomor yang sangat dikenalnya berharap ada sedikit saja kabar baik di tengah badai bencana yang meluluh lantakkan kehidupannya.


“Halo, Pa?”


“M-maaf, Mbak. Saya asisten papa Anda. Cuma mau mengabari, papa Anda terkena stroke dan sekarang koma di rumah sakit di Magelang. Dari keterangan sementara, beliau dilarikan ke rumah sakit dari sebuah hotel, mengalami stroke setelah terlalu banyak meneguk alkohol disusul meminum obat kuat dan bermain berkali-kali dengan wanita yang disewanya.”


Sayang seribu sayang, kabar yang diterimanya justru lebih dari sekadar buruk. Prita syok dan seketika tak sadarkan diri.


Bersambung.