Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 137



Sinful Angel Bab 137


Pagi-pagi sekali di suasana weekend kali ini, pasangan Radhika dan Prita sudah bertolak pergi dari kediaman mereka menuju Kota Kembang.


Keduanya semringah bukan main. Bergembira ria dengan niat busuk yang menjadi alasan keberangkatan mereka kali ini. Radhika melajukan mobil sedannya dengan ambisi berkobar dalam dada.


“Mau mampir-mampir dulu beli makanan atau minuman buat nemenin selama perjalanan?” tawar Radhika pada Prita yang duduk di jok sebelahnya, Prita sedang memulas bibir dengan lipstik warna merah menyala menghadap cermin kecil bawaan bedak.


“Enggak usah, Mas. Jangan buang-buang waktu, cepat tancap gas saja biar cepat sampai,” tukas Prita antusias. Sudah tak sabar ingin segera sampai di kota yang dituju.


Mereka akhirnya sampai ke tempat yang dituju yaitu kediaman Bisma setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam lamanya. Memarkirkan mobilnya di luar pagar, memencet bel beberapa kali. Melongokkan kepala memerhatikan kondisi sekitar rumah yang terlihat sepi.


Senyuman mereka mengembang saat melihat Mang Eko tergopoh-gopoh menuju pintu pagar. Mang Eko menyambut ramah, tetapi kemudian keramahannya menguap dalam sekejap saat mengenali siapa sosok yang bertamu, urung membuka kunci pagar untuk dua pengkhianat yang pernah membuat tuannya terpuruk.


“Maaf, ada keperluan apa ya datang kemari?” tanya Mang Eko langsung saja dengan wajah datar. Mang Eko masih menaruh geram pada dua makhluk tak tahu malu ini.


“Kita ke sini mau ketemu Bisma, tolong sampaikan, Radhika ingin bertemu,” ucap Rahdika tanpa ragu sedikit pun.


“Mau ketemu Den Bisma? Ada urusan apa ya?” Nada bicara Mang Eko menelisik curiga, tak ditutup-tutupi.


“Ya itu terserah kita lah, Mang. Bukan urusan Mang Eko. Sudah pasti kedatangan kita ke sini itu mau bertamu sama mantan suamiku. Enggak mungkin mau bertamu pada si ****** yang sekarang jadi nyonya di rumah ini. Gak level!” cibir Prita merendahkan, merasa di atas angin, tak sadar dirinya sendiri lebih ****** dari wanita yang dihinakannya.


Mang Eko menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan congkaknya Prita yang semakin menjadi sekarang. Bahkan berani menghina nyonyanya terang-terangan.


“Rumah ini sedang tidak menerima tamu, silakan kembali pulang,” jawab Mang Eko, tetap menggunakan kalimat sopan meski raut wajahnya tetap sedatar papan cucian.


“Sembarangan main usir-usir, baru jadi babu aja belagu!” Prita berseru geram, tak menyangka dengan respons Mang Eko yang kini bersikap lancang padanya. “Kita ini datang jauh-jauh dari luar kota untuk bertamu, masa enggak dipersilakan masuk. Di mana tata kramamu? Bagaimana pun juga aku ini pernah jadi majikanmu!”


“Tapi itu dulu, Mbak Prita. Sekarang majikan saya adalah Den Bisma dan Neng Tya. Anda bukan majikan saya lagi,” jelas Mang Eko takkan membiarkan dirinya ditindas.


“Heh, tua bangka. Cepat buka pagarnya! Kita ini tamu, di mana attidude pekerja di rumah ini terhadap tamu-tamu majikannya? Benar-benar minus!” maki Radhika yang ikut meninggikan nada suara.


“Maaf, majikan saya sedang tidak di rumah. Maka dari itu saya tidak boleh sembarangan membukakan pagar untuk tamu yang datang. Lagi pula sikap Anda berdua sama sekali tidak mencerminkan seperti orang yang hendak bertamu, tapi lebih mirip preman tukang palak,” tegas Mang Eko sarkas.


Jika akhirnya harus berduel dengan benalu tak diundang ini Mang Eko siap sedia. Takkan membiarkan dua orang ini masuk kedalam kediaman tuannya, siap satu lawan satu dengan Radhika meski pinggangnya cenat-cenut dilanda encok.


“Jangan membual! Bisma pasti ada di dalam sedang mengeloni si ****** itu kan? Cepat buka! Aku akan percaya dengan omonganmu setelah memeriksanya sendiri!” geram Prita berapi-api.


“Saya tidak akan pernah membukakan pintu pagar ini saat majikan saya sedang tidak di rumah. Terserah kalian berdua mau percaya atau tidak dengan keterangan saya. Yang jelas, tuan dan nyonya rumah ini sedang pergi, Den Bisma dan istrinya lagi liburan.”


“Saya tidak boleh membocorkan informasi penting. Sekarang ini penjahat semakin banyak, jadi saya harus waspada demi keamanan privasi majikan saya.”


“Heh, mulutmu. Sudah hampir bau tanah malah makin pandai berkilah!” kesal Prita meradang. “Ke mana mereka pergi liburan!” Prita kian berang mendengar Bisma dan Tya berlibur.


Mang Eko semakin tak habis pikir dengan mantan nyonyanya itu yang sekarang terlihat sedang hamil besar. Perangainya kian menjadi-jadi, bukannya berubah menjadi lebih baik, ambisius tak terkontrolnya makin parah dan masih tetap senang merendahkan orang.


“Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Sebaiknya kalian silakan pulang. Saran saya jangan membuat keributan lebih lama sebelum Pak RT datang ke sini. Bisa-bisa kalian diarak ke kantor RW oleh warga sekitar karena mengganggu ketentraman pemukiman ini. Saya masih banyak pekerjaan, permisi.”


Mang Eko melengos masuk lagi ke dalam rumah. Tak memedulikan teriakan Prita yang marah-marah memaki di luar pagar.


Tak berselang lama, Radhika beserta Prita akhirnya menyerah dan tancap gas pergi. Mang Eko yang mengintip melalui celah gorden melafalkan istighfar berulang kali.


“Kasihan sekali anaknya punya ibu kayak dedemit. Beruntung Den Bisma tidak punya anak dari perempuan jadi-jadian itu. Amit-amit jabang bayi Gusti,” gumam Mang Eko sembari bergidik ngeri.


Meskipun dengan kekesalan dan kedongkolan menerjang, keduanya tak patah arang. Mobil bukan mengambil jalur kembali pulang, melainkan menuju butik VN pusat.


“Seenggaknya hari ini kita masih bisa ketemu Bunda walaupun gagal bertemu Bisma. Sebaiknya agak ngebut, Mas. Bunda biasanya makan siang di luar dan ini sudah mau jam sebelas siang, aku enggak mau buang-buang waktu lagi. Biar surga si ****** belagu itu segera jadi neraka dan misi kita memboikot Agra Prime agar hanya menjual bahan bakunya pada kita cepat terealisasi,” ujar Prita berapi-api.


“Kamu yakin bisa memprovokasi mantan mertuamu sendirian?” tanya Radhika seraya menambah kecepatan laju mobilnya.


“Sangat yakin, Mas!” ucap Prita pongah, amat percaya diri. “Bunda itu keturunan keluarga terhormat dan terpandang. Pasti bakalan marah besar kalau tahu punya mantu mantan *****,” sambungnya disusul gelak tawa serakah.


“Oke. Aku akan menurunkanmu di butik VN pusat. Sedangkan aku akan pergi ke suatu tempat untuk mencari informasi. Sebab masih ada yang terasa janggal bagiku terkait pernikahan Bisma. Tahu-tahu sudah gandeng istri tanpa tersebar berita pesta pernikahannya.”


“Memangnya Mas mau ke mana?” sambar Prita cepat. Kedua matanya berbinar penasaran juga gembira karena suaminya sepertinya mendapat ide tambahan untuk memuluskan otak jahat mereka.


“Aku akan mencari informasi terkait validasi pernikahan Bisma dengan istrinya yang bernama Tya itu. Apakah mereka sudah menikah secara resmi dan terdaftar atau tidak. Kalau kita menemukan celah cacat sedikit saja, bisa buat tambah-tambah amunisi.”


Bersambung.


Senja note:


Maafkan ya, kemarin aku mendadak pergi ke luar kota, ada keluarga yang sakit, jadinya tidak sempat update. Terima kasih buat kalian yang masih setia menanti cerita Bisma dan Tya. Sayang kalian banyak-banyak 🥰.


Follow igku di @Senjahari2412 supaya enggak ketinggalan info update. Thank you.