Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 35



Sinful Angel Bab 35


Pak Sarif dan istrinya memilih berpamitan lebih dulu saat Marsha masuk ke ruang rawat Tya. Setelah dibuat ciut tadi siang, mereka masih syok bertemu sosok Marsha yang datang ke kontrakan Tya, mencak-mencak mengintimidasi.


"Cintya, seharusnya malam ini kamu menemani klien sesuai jadwal yang sudah disepakati. Tapi kamu malah kecelakaan dan terdampar di sini!" Marsha berdecak kesal. Bukannya ikut prihatin, dia masa bodo. Di kepalanya hanya uang dan uang. Jerry pun sama saja, tidak menunjukkan empati minimal dari raut wajah terlebih ucapan belasungkawa.


"Kabarnya tulang tangan kananmu patah? Apakah itu artinya kamu harus hiatus dalam waktu lama? Benar-benar bikin kacau, tahu sendiri minggu depan pun jadwal buat kamu sudah masuk agenda. Gara-gara kecelakaan yang kamu alami, klienmu malam ini memilih membatalkan memakai jasa Date House ketimbang menerima usulan diganti agen lain, menuntut kembali uang yang sudah dibayarkan padahal sebagian sudah kubelikan perlengkapan akomodasi buat kamu. Bikin rugi!"


Tya menghela napas lelah. Marsha sama sekali tak merasa kasihan maupun iba dengan kondisinya yang terluka parah juga sedang berduka. Dijelaskan sampai berbusa pun pada tipe-tipe serakah seperti Marsha ini, Tya sudah tahu cuma buang-buang energi.


"Maaf, saya yang salah," kata Tya singkat. "Jadi, apa yang Anda inginkan, Mami Marsha? Kalau harus bekerja sekarang maupun dalam waktu dekat jelas tidak mungkin. Tapi, bukankah semua barang di tempat tinggalku dan sisa uang pemakaman yang dipegang tetanggaku semuanya sudah Anda ambil sebagai kompensasi? Bukankah itu sudah lebih dari cukup?" jelas Tya panjang lebar meski kondisinya saat ini seharusnya lebih banyak istirahat, bukan adu mulut.


Marsha memelotot, jelas kentara tak terima dengan kalimat yang keluar dari mulut Tya. "Enak saja kamu bilang cukup. Aku mengalami kerugian besar akibat dari ketidakbecusanmu menjaga diri sehingga semua janji harus batal, bubar! Dan tentu saja semua kerugian itu harus kamu ganti sebagai penyebab masalah dan janji minggu depan yang sudah dibuat pun alamat batal juga!" seru Marsha berapi-api. Berkacak pinggang, merasa dirinya superior saat menindas yang lemah.


"Memangnya berapa berapa kerugian yang harus saya bayar, Mami Marsha?" Tya tak ingin bertele-tele sebab kepalanya berdenyut pusing, ingin segera mengakhiri debat melelahkan dengan Marsha.


"Jerry, hitungkan!" titah Marsha pada si gagah gemulai.


"Oke, Mam." Jerry mengotak-atik gawai, menyodorkan ponsel, menunjukkan layar pada Marsha.


"Tujuh juta lagi harus kamu bayarkan sebagai ganti rugi secepatnya. Sebagai kompensasi jadwal yang batal. Tidak diakumulasi dengan barang-barang dan uang yang kusita tadi sore dari tangan si pemulung itu, itu semua baru DP."


Tya jelas tak terima jika jumlah kompensasi yang harus dibayarnya sebanyak itu. Yang Tya maksud adalah ganti rugi untuk mengganti baju dan sepatu pesta yang sudah dibelikan Marsha untuknya. Dan Tya yakin harganya pasti murah.


"Lho, kenapa besar sekali? Baju dan sepatu paling tidak sampai sejuta. Yang Anda tuntutkan pada saya sepuluh kali lipatnya. Anda pikir saya sendiri ingin mengalami kecelakaan? Tentu saja saya pun inginnya sehat dan adik saya masih menemani di samping saya. Ini pemerasan!" Tya melayangkan protes tergerus emosi meski kondisi tubuhnya saat ini lemas bukan main.


"Semua kompensasi dihitung bukan hanya tentang dana yang sudah dibelanjakan. Tapi juga tentang kerugian yang kamu timbulkan, Cintya!"


Di tengah-tengah situasi tegang, suara maskulin tiba-tiba menggema ke seluruh penjuru ruang perawatan, menyedot perhatian orang-orang yang sedang berdebat.


"Akan saya bayar semua kerugiannya sekarang juga, Bu Marsha."


"Ya ampun, gantengnya." Jerry memekik kecil, bahasa tubuhnya berubah genit melihat sosok Bisma yang gagah paripurna.


"Pak Bisma?" ucap Marsha memastikan penglihatannya, khawatir keliru. Pria ini merupakan salah satu mantan kliennya yang terbilang tidak rewel.


"Ya, ini saya Bu Marsha. Saya akan membayar semua ganti rugi yang harus Tya, bayarkan pada Anda," tegas Bisma sembari melangkah mendekati dengan kedua tangan terselip ke saku celana.


"Jangan, Pak. Tidak usah. Ini urusan saya dengan Bu Marsha. Anda tidak ada sangkut pautnya," tolak Tya cepat, merasa tak enak hati terus-menerus merepotkan Bisma kendati kondisinya sedang lemah dan kepayahan.


"Kamu cuma punya hak untuk diam, Cintya. Urusan kita belum selesai!" bentak Bisma menekankan kata-katanya dengan ekspresi yang baru kali ini Tya lihat, membuat wanita cantik bernetra teduh itu terhenyak. Rahang Bisma mengetat, tatapannya dingin mengintimidasi.


"Sedang apa Anda di sini, Pak Bisma? Dan apa maksud kalimat Anda tentang akan membayar semuanya?Atas dasar apa Anda mau melakukan ini?" berondong Marsha, bertanya penasaran, tatapannya menelisik pada Bisma.


"Saya punya urusan yang sangat krusial dengan Tya. Dia berhutang banyak pada saya karena telah menghilangkan perhiasan warisan berharga yang saya pinjamkan untuk keperluan pesta minggu lalu. Harganya 35 juta. Untuk itulah saya akan membayar semua kompensasi Tya pada Anda dan akan saya akumulasikan dengan yang perlu dia ganti pada saya. Anda harus melepaskan Tya kalau tidak ingin mengalami kerugian lain. Tya harus membayar hutangnya dengan bekerja pada saya karena dia tidak punya uang untuk membayar. Kecuali Anda mau mengganti kerugian saya yang disebabkan agen Anda, Bu Marsha. Maka urusan Tya dan saya cukup sampai di sini."


Tya menganga tak paham. Tak habis pikir. Cincin yang Bisma pinjamkan untuk dipakai sama sekali tidak hilang, malah mereka janji bertemu di hari kecelakaan untuk mengembalikan benda berharga tersebut. Perhiasan mahal itu masih melingkar di jari manis tangan kirinya, hanya saja agak tertutup perban yang melindungi luka di bagian punggung tangan.


Tak terima dengan statement Bisma, Tya hendak menyergah. Akan tetapi, kilat tajam sorot mata Bisma yang menusuk padanya membuat lidah Tya kelu. Kaget sekaligus bingung.


"Jadi, bagaimana Bu Marsha? Yang harus Tya bayar pada saya sejumlah 35 juta. Silakan pilih, membayar kerugian saya yang disebabkan agen Anda, atau memilih Tya yang menanggung sendiri ulah cerobohnya?" ujar Bisma pada Marsha yang tampak gamang dihadapkan pilihan sulit.


Tya memang baru beberapa bulan bekerja di Date House, tetapi minat konsumen pada Tya terbilang cukup tinggi meski Marsha tak mengakui secara lisan dan hanya membanggakan Lily. Menjadikan Tya salah satu agen yang menguntungkan baginya meski pada nyatanya Tya hanya mendapat secuil dari setiap transaksi.


Marsha jelas tidak ingin kehilangan asetnya, tetapi juga tak mau kalau harus membayar sejumlah uang pada Bisma.


"Dasar tidak becus! Merepotkan saja!" Marsha memaki Tya, mendengus dan mendelik sengit pada Tya, jelas terlihat sangat kesal. "Saya tak sudi menanggung kerugian yang ditimbulkan Tya. Silakan saja bawa Tya, karena dia juga pasti tidak bisa produktif bekerja untuk beberapa waktu akibat lukanya, jelas tidak ada pemasukan yang Tya hasilkan buat saya. Tapi, Anda juga harus membayar biaya lain atas berhentinya Tya dari Date House sebesar 10 juta rupiah. Bagaimana, Pak Bisma?"


Bisma mengulurkan tangan kanan, mengajak berjabat tangan. "Oke, deal!"


Bersambung.