
Sinful Angel Bab 57
Matahari sudah tenggelam sempurna di ufuk Barat, dipeluk gelap. Bisma terlihat tengah berada di balkon kamar hotel yang disewanya, terletak di lantai tiga.
Saat membooking tempat menginap, hotel ini sudah hampir full book terutama kamar-kamar yang memiliki privat room. Yaitu kamar-kamar yang berada di lantai satu di mana kamar yang disewa Prita berada. Sebetulnya Bisma sangat suka menyewa kamar yang memiliki kolam renang pribadi. Akan tetapi karena kali ini darurat, jadinya dia tak bisa banyak memilih, yang penting masih di hotel yang sama tempat seminar diadakan dan tipe kamarnya pun masih termasuk kategori nyaman serta luas.
Bisma yang sudah rapi sengaja berdiam diri di balkon. Lantaran di dalam kamar yang disewanya, Tya sedang berdandan untuk mendampinginya menghadiri acara penting yang akan dimulai sekitar tiga puluh menitan lagi.
Kamar yang disewa hanya satu. Mengindari memesan bed tambahan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Bisma dan Tya sudah sepakat tidur seranjang dengan guling sebagai sekatnya. Lagi pula ranjang hotelnya luas. Dipakai berempat pun pasti muat.
Sementara itu di dalam kamar, Tya yang sudah hampir selesai bersiap tengah kesusahan memasang kalung mutiara yang desainnya sepasang dengan anting-antingnya. Poppy yang menyiapkan semua ini, mulai dari baju-baju sampai perhiasan untuk beberapa hari ke depan disesuaikan dengan outfit yang dipakai Bisma.
"Duh, ini kenapa susah banget sih pakenya? Pasti karena aku ini enggak pernah pakai barang-barang mahal. Jadinya udik!" kesalnya, mengumpati diri sendiri. Mendesah frustrasi.
Tya melirik ke arah pintu terbuka yang tersambung ke balkon. Tengah di kejar waktu, ia berlari kecil ke sana, bermaksud menyusul Bisma dengan kalung mutiara di tangan, hendak meminta bantuan.
"Mas, boleh minta tolong?" Tya menghentikan ayunan kaki di pintu balkon, nada bicaranya sungkan namun juga kebingungan.
Bisma yang sedang melihat-lihat ke ke bawah, otomatis meoleh cepat. Untuk sejenak dia mengerjap, kembali tertawan pesona Tya tanpa rencana. Dalam balutan gaun malam warna biru Elektrik, kulit kuning langsatnya begitu bersinar.
"Ehm, minta tolong apa?" Bisma menanggapi setenang mungkin. Menyembunyikan reaksi tak diundangnya.
Tya menunjukkan kalung mutiara di tangan, raut wajah bingungnya memelas. "Aku kesusahan pakai ini. Boleh minta tolong pasangkan?"
"Oh, itu. Oke." Bisma hendak mendekat, tetapi kakinya batal melangkah saat ekor matanya menangkap sosok yang sedang melihat ke arahnya dari area taman hotel, tepatnya di dekat lorong yang mengarah ke ballroom di mana acara seminar dihelat.
"Kemarilah," titah Bisma mendadak. Meminta Tya mendekat.
"Hah? Aku yang ke situ? Tapi pakaikan kalungnya kayaknya lebih baik di dalam deh. Di sini cahaya lampunya terlalu minim."
Beberapa jenak Tya tak mengerti. Hanya saja diperhatikan lebih jeli, mata Bisma memberi isyarat bersama telunjuk mengarah ke satu titik.
"Yang di bawah itu mantan istrimu lagi kan, Mas?"
"Yup, kamu benar," jawab Bisma yang sedang memasangkan kalung Tya dengan posisi yang sangat intim.
"Haruskah kita memberi pertunjukan lain yang lebih spektakuler? Memeluk mesra dari belakang misalnya supaya lebih meyakinkan," ujar Tya yang posisinya masih membelakangi.
"Inginnya begitu, bahkan inginnya lebih. Ingin sekali memukul telak sifat besar kepalanya. Karena sepertinya Prita sangat ingin diberi validasi yang lebih gamblang dari sekadar interaksi mesra. Aku punya firasat, dia akan mengganggu kita terutama aku di acara malam ini. Aku ingin sekali mengacaukan moodnya agar dia tak betah berlama-lama di acara seminar yang sangat penting bagiku. Karena biasanya dia lah yang mengacaukan moodku," tutur Bisma jujur saja. Terselip kekhawatiran juga putus asa dari nada bicaranya.
"Ingin lebih yang bagaimana maksudnya, Mas? Saling memeluk berhadapan begitu?" Tya membalikkan badan saat Bisma selesai memakaikan kalung. Tya sedikit banyak mulai mencerna. Pasti seminar ini memang benar-benar sangat penting bagi Bisma. Dan di bawah sana sepasang mata berkilat kesal masih menghunjam ke arah mereka.
"Mas, ayo lakukan lebih seperti yang kamu inginkan. Kali ini buat moodnya rusak, mumpung ada kesempatan. Balas perbuatannya yang pernah bikin kamu sakit hati! Karena kelihatannya sekarang dia mulai mendambakan mantan suaminya setelah tahu Mas punya gandengan," tukas Tya yang kali ini bertutur geram.
Entah mengapa mendengar keluhan Bisma yang terkesan putus asa memantik rasa ingin menghajar Prita, apalagi sekarang Tya sudah tahu cerita lengkap tentang pengkhianatan Prita pada Bisma. Mendadak menjelma jadi ratu singa yang tak rela rajanya disakiti.
Bisma memicing. "Yakin, kamu enggak keberatan?" ujar Bisma memastikan.
"Ya, aku sangat yakin. Ayo cepat lakukan, mumpung dia masih melihat kita." Tya begitu bersemangat. "Ayo peluk aku." Tya membuka kedua tangannya.
"Tapi maksudku bukan berpelukan," sambung Bisma kemudian.
"Terus apa?"
"Aku minta maaf sebelumnya, Tya. Maksudku bukan hanya memeluk, tapi ini."
Dengan cepat, tangan Bisma menyambar tengkuk juga pinggang Tya. Merapatkan tubuh juga merapatkan bibir. Membuat Tya terhenyak ketika bibirnya dibungkam pagutan lembut nan hangat. Mengerjap seperti orang bodoh untuk sesaat, tetapi kemudian Tya paham dan membalas pagutan, mempersembahkan aksi terbaiknya untuk membumi hanguskan penonton VVIP di bawah sana.
Tanpa mereka prediksi sebelumnya keduanya malah larut dalam pertautan belaian bibir tanpa rencana ini. Tergerus reaksi tubuh yang menghebat satu sama lain, masih berlanjut saling memagut padahal yang menonton sudah berderap pergi dengan wajah merah padam.
Bersambung.