
Sinful Angel Bab 25
Caca dan Tya sudah seperti adik dan kakak. Mereka memang bukan sanak saudara yang terikat hubungan darah maupun silsilah. Namun, sama-sama sebatang kara dalam kondisi sama-sama tertatih-tatih bertahan hidup, membuat ikatan tak kasat mata di antara mereka tercipta terjalin erat sebagaimana saudara kandung, bahkan mungkin lebih.
Dalam ketidakmampuan dan kekurangan, Caca pernah menolong Tya yang terluka tanpa pamrih. Membawa Tya ke tempat tinggalnya di kolong jembatan pada awal pertemuan mereka. Mengobati dan merawat Tya semampunya, bahkan uang hasil memulung yang diberikan pengepul sampah, semuanya dibelikan obat dan sereal sachet seduh instant untuk Tya oleh Caca pada hari itu. Mengingat Tya dibawa lari Jordan tanpa memegang uang sepeser pun.
Saat Tya bertanya kenapa Caca mau repot-repot menolong dan merawat orang asing sepertinya padahal Caca pun hidup susah? Gadis remaja berbaju lusuh itu mengatakan bahwa meski miskin harta, setidaknya janganlah miskin hati. Juga, Caca teringat pada ibunya yang sama-sama pemulung yang menjadi korban tabrak lari. Ditemukan luka-luka sudah tak bernyawa setelah tak pulang-pulang hingga malam hari. Caca menjelaskan, dirinya akan merasa bersalah membuang peduli saat bertemu orang yang terluka dan jelas-jelas butuh pertolongan. Lantas sembari tersenyum polos, Caca juga mengatakan mau menolong Tya karena Tya cantik.
Ibunya berpulang ketika Caca masih berusia sepuluh tahun. Dia terpukul dan marah saat mendengar desas-desus orang-orang di sekitarnya sempat ada yang melihat kejadian tabrak lari tersebut. Akan tetapi, tidak ada satupun yang menolong ibunya dan membawanya ke fasilitas kesehatan sebab takut harus membayar tagihan rumah sakit, mengingat semua tetangganya di kolong jembatan memang hidup susah dan sama-sama mengandalkan hasil mencari rupiah dari tumpukan sampah.
Setelah sembuh dari lukanya yang sempat mengalami infeksi sehingga pemulihannya memakan waktu lebih dari satu bulan, Tya ikut memulung bersama Caca. Mungkin orang-orang memandang sebelah mata pekerjaan mereka, tetapi sungguh, Tya merasa bahagia dan bebas meski harus berjibaku dengan sampah yang terkadang berbau tak sedap ketimbang profesinya dulu. Setiap malam berpenampilan cantik dari ujung kepala hingga kaki hanya untuk dijamah para pria hidung belang, merasa dirinya lebih kotor daripada sampah.
Hanya saja kondisi kesehatan Caca di enam bulan terakhir lebih sering sakit-sakitan, Tya memutuskan mencari pekerjaan lain karena hasil dari memulung tidak cukup. Bukan hanya mencari uang untuk pengobatan, tetapi juga untuk membayar hutang pada bos pengepul sampah bekas biaya berobat sebelumnya. Selain itu, Tya juga ingin membawa Caca tinggal di tempat tinggal yang lingkungannya lebih bersih, supaya Caca bisa lebih cepat pulih.
Sebelum bergabung dengan Date House, Tya pernah melamar menjadi ART, tetapi malah berakhir dengan pengusiran karena dinilai terlalu cantik, menuduhnya berpotensi menjadi pelakor. Dan di perjalanan pulang pasca dipecat dari pekerjaan yang bahkan belum satu bulan dilakoninya, Tya bertemu seorang mantan kupu-kupu malam kenalannya, tetapi bukan asuhan Jordan. Dia ternyata bekerja di Date House dan Tya akhirnya ikut mengadu nasib di sana, yang penting bukan menjadi kupu-kupu malam lagi.
Caca terbangun begitu mendengar bunyi gemerisik dari tote bag yang ditaruh Tya di bawah ranjangnya. Gadis kurus yang terbaring sakit itu tersenyum lebar menghiasi wajah pucatnya melihat siapa yang menarik kursi dan duduk di sebelah ranjangnya.
“Sorry, bikin kamu bangun, Mbak berisik ya?” ucap Tya setengah berbisik saat melihat Caca membuka mata. Berbicara sepelan mungkin takut terdengar pasien di ranjang sebelah yang hanya tersekat gorden. Maklum, bangsal kelas tiga ini diisi sekitar enam orang per ruangan, sehingga pembesuk maupun penunggu pasien wajib menjaga situasi kondusif, jangan sampai mengganggu istirahat pasien lain.
“Mbak baru pulang kerja ya? Kenapa enggak ke kontrakan aja biar bisa tidur, pasti capek kan? Di sini Mbak susah beristirahat,” kata Caca serak, menatap Tya khawatir.
“Enggak apa-apa. Mbak memang sudah niat mau langsung ke sini setelah pekerjaan hari ini selesai. Mbak punya kabar gembira, hari ini kliennya baik banget, ngasih banyak bonus,” jelas Tya semringah.
“Iya, baik banget, sopan, ganteng, tajir lagi. Uang tipsnya juga ngasihnya gede. Mau Mbak lunasin sewa kontrakan bulan ini sekalian bayar buat bulan depan. Mau dipakai bayar utang ke warung ibu kontrakan. Terus, besok Mbak juga mau beli kulkas kecil, ganti kipas angin sama beli kasur lantai baru, biar tidur kita lebih enakkan, bisa ditumpuk di atas yang kasur lama yang udah tipis. Kamu tahu? Dia juga beliin Mbak makanan enak, di restoran ayam krispi yang pernah kita lewati sewaktu mulung bareng. Nanti, kalau kamu sudah sembuh benar, Mbak ajak kamu makan di sana, mumpung dapat rezeki nomplok,” tutur Tya gembira.
“Syukurlah kalau kliennya baik. Aku takut Mbak pulang kerja kayak akhir bulan kemarin, sudut bibir Mbak sampai berdarah dan pelipis ikut benjol waktu itu,” ungkap Caca terdengar sedih, meraih tangan kanan Tya dan menggenggamnya. “Kalau aku udah sembuh benar dan nggak usah ke rumah sakit terus, Mbak jangan kerja kayak gini lagi ya, berbahaya. Lebih baik mulung bareng-bareng lagi sama aku.”
Tya menatap Caca lekat-lekat. Tersenyum simpul dan mengangguk-anggukan kepala. “Iya. Tapi, kamu cuma boleh mulung menjelang sore aja, biar Mbak yang mulung dari pagi, kamu harus ikut sekolah walaupun kelas paket. Mumpung masih ada kesempatan. Kudu punya keinginan jadi orang.”
Mereka bercakap-cakap pelan hingga akhirnya Caca tertidur lagi. Tya menyelimuti Caca, memeriksa volume cairan infus yang diperkirakan masih cukup sampai pagi.
Membuka kantung kresek hitam yang tersimpan di bawah ranjang lebih ke pojok, Tya mengeluarkan kain sarung dari dalamnya. Membentangkannya di lantai sisi ranjang pasien. Menaruh tote bag yang dijadikannya sebagai bantal.
“Ah, capeknya,” desah Tya lega begitu ia merebahkan diri di lantai keras itu.
Senyumnya terus mengembang, tak sabar ingin segera besok. Ingin segera berbelanja dan berbenah kontrakan sempitnya. Tya juga berencana mengisi kulkas kecil yang akan dibelinya dengan makanan sampai penuh, ingin memberi kejutan untuk Caca saat pulang dari rumah sakit nanti.
Di tengah otaknya yang tengah berjalan-jalan, Tya menelan ludah, meraba dadanya sendiri saat teringat kembali kalimat ngawur kliennya yang mendadak melontarkan kalimat serupa lamaran, memintanya menjadi istri. Ini merupakan kali pertama baginya, walaupun Tya tahu sudah pasti hanya guyonan, jujur saja dadanya berdebar-debar.
“Hei, kenapa pikiranku yang ngawur sekarang. Jangan berangan-angan terlalu tinggi Tya, ingat siapa dirimu, sebaiknya tahu diri,” kekeh Tya menertawakan dirinya sendiri.
Tya berbaring miring, menyelipkan kedua tangan hendak dijadikan bantalan tambahan. Gerakannya terhenti saat kepalanya merasakan benda keras menekan. Dan saat Tya memerhatikan tangannya, ia baru tersadar cincin mewah berkilau yang tadi diminta Bisma untuk dipakai sebelum berangkat ke pesta masih tersemat di sana.
Bersambung.