
Sinful Angel Bab 132
Memasuki hari ke empat di rumah sakit, akhirnya Tya sudah diperbolehkan pulang. Kabar yang disambut sukacita oleh seluruh keluarga besar Bisma terutama si calon papa yang menjelma makin ovetprotektif terhadap wanita yang sedang mengandung darah dagingnya itu.
Acara kumpul-kumpul silaturahmi dengan keluarga inti dan teman dekat menyambut kepulangan Tya ke rumah Bisma. Bukan hanya menyambut pulangnya Tya dari rumah sakit, tetapi juga menyambut kembalinya Tya sebagai nyonya di rumah ini.
Khalisa dan anak-anaknya juga Farhana turut hadir. Membantu menyiapkan banyak hal untuk acara penyambutan kecil-kecilan juga do’a bersama yang digagas oleh Nara itu. Dilakukan Nara sebagai ungkapan rasa syukur atas utuhnya kembali ikatan keluarga mereka.
Semua orang mengerumuni Tya. Menyapa dengan cinta. Melimpahkan kasih sayang tumpah ruah. Termasuk si kecil Brilly yang tak hentinya menempel pada Tya sembari ingin terus mengelusi perut Tya, begitu Brilly diberitahu bahwa tantenya sedang hamil, yang artinya di balik perut itu ada bayi lucu menggemaskan pikirnya. Bahkan merengek pada Nara agar ibunya harus hamil juga seperti Tya.
Bisma membiarkan Tya puas bercengkerama bersama Khalisa dan Nara dengan tak lupa berpesan pada kakaknya agar jangan sampai membuat Tya kelelahan. Sampai-sampai Nara mengatai adiknya itu calon papa bawel.
Bisma memberikan ruang agar istrinya leluasa mengobrol bertukar informasi seputar kehamilan bersama Khalisa dan Nara juga melepas rindu, sedangkan dia memilih menghampiri sang bunda yang sedang berbincang dengan Farhana di teras depan. Bergabung duduk pada salah satu kursi jati yang terletak di sebelah tempat duduk Viona.
“Ustadzah, terima kasih sudah berkenan meluangkan waktu untuk datang menyambut kepulangan Tya juga memimpin do’a bersama tadi,” ucap Bisma penuh syukur, berterima kasih dari lubuk hati.
“Saya melakukannya dengan senang hati. Tya sudah seperti keluarga sendiri bagi saya dan saya pun ingin turut mendo’akan yang terbaik untuk Tya, bayinya, serta rumah tangganya dengan Anda. Semoga pernikahan Pak Bisma dan Tya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.” Farhana menyatakan keikhlasannya meluangkan waktu untuk Tya dan keluarga tanpa terselubung nada modus sedikit pun dari tutur katanya, murni tulus bersumber dari sanubari.
“Aamiin.” Viona dan Bisma menimpali bersamaan. Menangkup dan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah masing-masing
“Selain itu, saya juga ingin berterimakasih untuk hal lain kepada Anda walaupun mungkin ini terbilang terlambat. Saya ingin menyampaikan beribu terima kasih yang rasanya tak cukup hanya diucapkan lisan, atas kebaikan Ustadzah yang telah menjaga Tya dan kandungannya selama jauh dari saya. Menjaga dengan aman dan bahkan mengajari Tya memperdalam ilmu agama. Kemarin, Tya bercerita pada saya, banyak ilmu baru yang didapatnya dari Ustadzah, bahkan mengajinya pun semakin lancar. Kalau Tya bukan bersama Anda, entah bagaimana nasib istri dan anak saya saat memutuskan pergi tanpa tujuan. Semoga Allah, membalas semua kebaikan Ustadzah dengan pahala ganjaran berlipat ganda.”
Bisma bertutur penuh kesungguhan. Memang benar, luapan rasa terima kasihnya pada Farhana sungguh tak terukur.
“Perginya Tya dari rumah dan malah mencari saya semuanya atas kuasa Allah yang pasti berasal dari do'a orang-orang yang menyayangi Tya. Saya hanya perantara saja di sini. Juga, berbagi ilmu dan belajar bersama dengan Tya sangat menyenangkan. Semangat belajarnya selalu berkobar luar biasa. Membuat semangat saya pun ikut tumbuh lebih. Tinggal bersama-sama kurang lebih satu bulan, saya mendadak merasa ada yang hilang saat Tya kembali pada keluarga yang seharusnya.” Farhana terkekeh pelan di sela-sela ucapannya kemudian kembali menyambung kalimat.
“Sejak Tya tidak tinggal bersama saya lagi. Rumah dinas mendadak sepi, biasanya sembari menunggu waktu Subuh terdengar Tya yang membaca Al-Qur’an meskipun belum terlalu lancar, juga suasana rumah semakin hangat ditambah keramaian menyenangkan saat Tya meracik wedang dan jamu. Tya mampu membawa kebahagiaan bagi orang di sekelilingnya meski dirinya sendiri pun berada dalam kondisi kesulitan.”
Obrolan berlanjut pada pembahasan rencana Viona yang ingin mengadakan pengajian empat bulanan di bulan mendatang di mana kandungan Tya sudah memasuki bulan ke empat. Ingin memanjatkan do’a terbaik untuk menantu serta cucunya dalam kandungan seperti halnya Nara sewaktu mengandung Brilly. Berlaku sama adilnya terhadap cucu-cucunya.
Viona begitu antusias berdiskusi langsung dengan Farhana juga Bisma selaku suami Tya. Tak menunda membahas banyak hal ini dan itu. Merembukkan serta menyusun rencana terbaik agar inti dan maksud dari pengajian empat bulanan nanti terkonsep rapi dan terlaksana dengan baik.
*****
“Duh, kenapa aku grogi begini sih?” Tya menggerutu sembari meraba dadanya sendiri yang bertalu ribut.
Setelah satu bulan lamanya tidur terpisah dari pria yang dicinta, malam ini dirinya akan kembali tidur satu ranjang dengan suaminya dalam artian sebenar-benarnya, berbeda momen dengan sewaktu di rumah sakit.
“Kenapa dadaku berdebar-debar enggak karuan!” kesalnya. “Ini kan bukan pertama kali buatmu Cintya!” omelnya memarahi diri sendiri.
Meraih sisir, Tya merapikan lagi rambutnya. Juga membauinya, takut surai panjang dan indahnya berbau tak sedap. Tya juga mengendus aroma tubuhnya sendiri, cepat-cepat menyambar parfum di atas meja rias dan menyemprotkannya dengan maksud agar lebih wangi dari sebelumnya dan supaya lebih percaya diri kendati wangi parfum berlebihan itu membuatnya agak mual.
Setelah merasa lebih yakin, Tya buru-buru naik ke peraduan sembari menunggu Bisma selesai dengan urusan bersih-bersihnya. Duduk bersandar ke kepala ranjang, menarik selimut sebatas paha kemudian mengambil buku seputar kehamilan yang dihadiahkan Khalisa tadi siang. Membacanya guna mengusir kegugupan.
Debaran ribut jantungnya bukannya mereda, mengacaukan fokus membacanya. Semakin tak karuan saat teringat kembali tindak tanduknya di rumah sakit, sewaktu mengira kehadiran Bisma hanya mimpi. Teringat kembali bagaimana genitnya ia menggoda tak tahu malu, bahkan sampai meminta dicium disusul mengutarakan curahan hati panjang lebar.
Tya merosot rebah, kemudian berguling-guling di atas kasur dengan buku terbuka yang menangkup menutupi wajah, menjitak dahinya sendiri.
“Haduh, malunya,” keluhnya mendesah frustrasi, ingin rasanya Tya meminjam alat ajaib Doraemon untuk menghilangkan kejadian di malam itu dari ingatan Bisma.
“Sayang, kamu kenapa guling-guling begitu? Mual hebat lagi?” suara panik Bisma membuat Tya terperanjat.
Dua-duanya sama-sama panik. Hanya saja dengan persoalan berbeda. Yang satu panik karena malu, yang satu panik karena khawatir.
Tya buru-buru duduk dan membuang pandangan ke sembarang arah, tak berani menatap Bisma yang duduk di tepian ranjang sangat dekat dengannya.
“E-enggak kok, Mas. Cuma meregangkan otot,” cicitnya, tertawa kering, terdengar aneh saking gugupnya.
Bisma tercenung, mengamati pipi Tya yang berangsur merona. Lantas tertawa pelan saat insting tajamnya menangkap riak malu-malu si pujaan hati.
“Kenapa jadi malu-malu begini, hmm? Padahal waktu di rumah sakit kamu yang nyosor duluan,” ujarnya iseng yang langsung dihadiahi Tya dengan protes dan cubitan kencang, sebab Bisma malah membahas kejadian yang membuatnya malu bukan kepalang.
Gelak tawa Bisma terbahak. Semula Tya cemberut karena malu, tetapi tak lama kemudian tawa renyahnya bergabung menggema di dalam kamar. Ruang peraduan luas itu kini hangat kembali, setelah satu bulan ini hanya diisi hawa dingin dan senyap mencekik bagi penghuninya.
Bersambung.