
Sinful Angel Bab 128
“Terima kasih, Ustadzah Farhana. Berkat Anda mengabari Khalisa, pencarian kami membuahkan hasil. Satu bulan ini Kami sudah mencari-cari Tya ke seluruh Kota Bandung, bahkan pencarian seminggu terakhir ini mulai melebar ke luar kota walaupun Bisma mengatakan firasatnya bahwa Tya masih berada di kota ini,” kata Viona tulus dari dasar hati.
Viona mendesahkan napasnya lega. Dia sedang duduk bersisian di bangku selasar rumah sakit dengan Farhana.
“Sama-sama, Bu Viona. Jangan sungkan begitu, Tya sudah saya anggap seperti adik sendiri,” jawab Farhana sembari mengulas senyum hangat.
“Terima kasih sudah menemukan Tya dan membawanya ke bidan. Kalau Tya yang lemas begitu ditemukan orang jahat, saya tidak tahu apa jadinya. Tadi sore kami sudah memiliki niat ingin menemui Anda dan bertanya tentang pembuat wedang dan jamu yang dibagikan Khalisa di butik saya. Karena rasanya sama persis dengan buatan Tya, berharap Ustadzah memiliki informasi tentang keberadaan Tya dan tak disangka memang dari Anda lah informasi penting ini didapat,” tutur Viona lagi.
“Begini, Bu. Sebenarnya saat pergi dari rumah, Tya mendatangi saya meminta bantuan dan selama ini tinggal bersama saya di rumah dinas. Saya berusaha menahannya bersama saya lebih lama, karena Tya memiliki niatan untuk pergi jauh tanpa tujuan yang jelas mengingat Tya tak punya keluarga dan sanak saudara. Dalam kondisi hamil dengan pikiran tertekan lantas dibiarkan terlunta-lunta sungguh sangat berbahaya bukan?”
Viona menangkupkan kedua tangan. Menarik napas panjang nan berat. “Sekali lagi terima kasih, Ustadzah. Sudah menjaga Tya untuk kami.”
Farhana menggeleng pelan. “Jangan sungkan begitu, Bu. Justru saya ingin memohon maaf karena tidak bisa memberitahu pihak manapun tentang keberadaan Tya selama ini. Tya meminta saya berjanji dengan sangat agar keberadaannya bersama saya tidak diberitahukan kepada siapa pun dan saya berusaha menghargai keputusannya. Tapi hari ini, kondisinya melemah, saya takut terjadi hal buruk pada Tya dan bayinya. Oleh karena itu saya memilih melanggar janji demi kebaikan semua orang. Semoga Tya memaklumi."
Viona mengangguk-anggukkan kepala. “Saya paham posisi Anda. Sama sekali tidak perlu meminta maaf.”
“Saya selalu berdo’a semoga ada jalan yang bisa tersampaikan pada keluarga suaminya tentang keberadaan Tya walaupun bukan melalui lisan, dan tak disangka wedang buatannnya menjadi petunjuk. Kendati begitu, saya tak membiarkan Tya terus pada keputusannya yang ingin menjauh karena dia sendiri terlihat sangat tersiksa. Saya tak lupa tetap mengajaknya bicara dari hati ke hati dan membujuknya agar mempertimbangkan untuk kembali. Mengingat setiap malam Tya menangis sambil memeluk kaus suaminya dan makin ke sini mual muntahnya semakin tak terkendali. Puncaknya adalah hari ini. Saya memutuskan memberitahu suami Tya tapi saya tidak tahu kontaknya. Maka dari itu saya menghubungi Khalisa,” terang Farhana pada Viona.
Farhana kemudian menceritakan lagi panjang lebar segala sesuatu tentang Tya. Tentang semangat Tya belajar agama juga mengaji, tentang usaha keras Tya yang ingin istiqomah dengan hijrahnya, tentang ketekuanan berjualannya demi supaya memiliki penghasilan dari jalan halal demi kehidupannya dan si buah hati, tentang kesedihan mendalam Tya selama satu bulan ini, juga tentang bagaimana Tya yang berhemat agar bisa memilki tabungan untuk biaya melahirkan dan bekal setelah persalinan nanti semuanya dituturkan pada Viona.
Sungguh, Viona terenyuh. Apalagi saat mendengar bahwa dari uang lima ratus ribu yang dibawa Tya separuhnya dipakai sebagai modal usaha demi ingin memiliki penghasilan halal dalam menata hidup dan masa depan. Tidak membiarkan cucunya diberi nutrisi yang dibeli dengan uang haram meski kondisi Tya sendiri kesusahan.
Padahal kalau Tya mau, bisa saja Tya pergi dengan menggasak uang dan aset Bisma sebanyak-banyaknya. Akan tetapi meski masa lalunya kelam, Tya memang wanita pilihan yang tidak mengincar harta Bisma semata. Membukakan kembali pikiran Viona akan garis jodoh yang pasti sudah Allah tentukan. Mengingatkannya kembali akan hakikat kehidupan, bahwasanya Allah pasti selalu memberikan apa yang kita butuhkan, tetapi tidak selalu yang kita inginkan.
Tak terasa obrolan Viona dan Farhana berlangsung sampai waktu melewati tengah malam. Farhana. Khalisa dan Yudhis berpamitan pulang dan mengatakan akan datang lagi besok.
Viona meminta Mang Eko mengantar Khalisa dan Yudhis karena tadi Yudhis ke sini dengan mengendarai mobil Bisma. Viona juga berpesan agar Mang Eko supaya mengawal mobil Farhana lebih dulu sampai rumah dinas dan barulah setelahnya mengantar Khalisa dan Yudhis ke rumahnya, khawatir jika membiarkan Farhana menyusuri jalan menyetir sendirian di dini hari begini.
Mendorong pintu perawatan sepelan mungkin, Viona melangkahkan kakinya masuk dan menutupkan kembali pintu di belakang punngungnya. Mengedarkan pandangan mencari Bisma dan matanya menangkap keberadaan sosok putranya tertidur di atas ranjang pasien sembari memeluk Tya.
Viona mendekat, menggulirkan tatapan pada dua insan yang terlelap saling merapat dibungkus pelukan. Jelas nyata saling cinta dan saling menyayangi. Merasa dirinya amat jahat karena pernah tergerus emosi berkata impulsif menyuruh Tya menjauh yang nyatanya membuat keduanya menderita.
“Maafkan Bunda, Nak. Pernah terbutakan setitik noda kelammu. Tak sempat melihat ketulusan dan kesungguhan yang terpampang lebih lebar dibanding titik itu. Semoga Allah mudahkan jalan hijrahmu. Dan Bunda pastikan, apa pun yang terjadi ke depannya pada kalian, Bunda akan selalu berada di belakang punggung kalian. Semoga Allah melindungi kalian dari segala hal buruk, dan hanya keberkahan yang melimpahi rumah tangga kalian berdua.”
*****
Tya merasa alam mimpinya kali ini bersemi indah. Biasanya setiap malam hanya ada sedu sedan entah itu saat membuka mata, saat bersujud pada yang Maha Kuasa maupun dalam dalam tidurnya.
Namun, saat ini alam tidurnya damai menentramkan jiwa. Bahkan mual menyiksa hingga mendesak panas ke tenggorokan di saat lelapnya pun tak terasa.
Aroma yang dirindukannya tercium bergitu dekat. Tya menghirup rakus sebanyak-banyaknya. Mendekatkan hidungnya ke sumber aroma harum maskulin kesukaannya, terasa begitu nyata. Meredakan segala rasa tak nyaman menyiksa yang membelit jiwa raga.
Mendongak, senyuman Tya merekah lebar. Sungguh, alam tidurnya kali ini tengah berbaik hati padanya. Bukan hanya wanginya, bahkan sosok yang dirindukannya pun memeluknya begitu dekat. Memenuhi ruang pandangnya, bergesekan di bawah satu selimut yang sama.
“Mimpiku kali ini benar-benar indah. Terasa seperti nyata. Ahh… aku kangen berat sama kamu, Mas. Makasih sudah hadir dalam mimpiku seperti ini, bukan hanya melambai dari jauh.”
Tya merapatkan diri. Menempelkan pipinya di dada bidang favoritnya. Menumpahkan segala kerinduan, sungguh menyenangkan. Bahkan Tya dapat merasakan kehangatan menguar dari sana juga dapat mendengar degup jantung di balik rongga dada itu.
Ajaib sekali mimpinya ini, pikirnya.
“Bolehkan aku enggak usah bangun dan tetap dalam mimpi indah ini?” keluhnya lesu.
“Sayang, kamu sudah bangun?”
Suara serak bariton yang familiar di telinga terdengar mengalun merdu memenuhi ruang dengarnya. Tya yang sedang asyik menyusupkan diri di pelukan hangat itu mendongak penuh tanya. Dan sosok yang memeluknya tengah menatapnya dengan sorot penuh kelembutan, mempertemukan pandangan.
“Tidurlah lagi, waktu Subuh masih satu jam lagi. Kamu harus banyak istrirahat,” kata Bisma yang kemudian mengecup mesra keningnya.
Tya mengernyit bingung. Memundurkan kepalanya sedikit. “Huh, tapi aku ini lagi tidur, Mas. Kenapa malah minta aku tidur lagi?”
Bersambung.