Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 56



Sinful Angel Bab 56


Bisma dan Tya tertawa lepas bersama saat melihat Prita angkat kaki dengan muka masam dari sana. Beberapa menit lalu, gesture Prita terlihat hendak menghanguskan mereka mentah-mentah. Akan tetapi, dering ponselnya membuatnya tergesa-gesa pergi, sepertinya terjadi hal darurat. Menghentakkan kakinya kencang meninggalkan kafe.


Bagaimana tidak kepala Prita mendidih dan berasap. Di saat pelepasan hasratnya tak terpenuhi, kejengkelannya bertambah intensitasnya saat disuguhi pemandangan yang mengganggu kepalanya akhir-akhir ini. Bisma yang pernah memujanya berubah kebiasaan dalam hal menunjukkan romantisme itulah yang paling mengganggu. Menumbuhkan damba tak tahu diri. Belum lagi foto-foto yang masuk ke galerinya sesaat sebelum boarding pass di bandara tadi pagi membuatnya kian terbakar hawa panas. Foto-foto dari orang suruhannya yang ditugaskan menguntit kediaman sang mantan suami. Lengkap sudah derita ledakan emosinya.


“Ffuhh, lega. Deg-degan rasanya. Tapi seru,” cicit Tya ceria dalam sisa-sisa tawanya sembari mengusap-usap dadanya sendiri. Sudah lama sekali ia tak tertawa selepas ini. Hidupnya selalu penuh beban sejak ia dapat mengingat dan tawa semacam ini sangat jarang menyambanginya.


Tya yang sedang tertawa lepas hingga sudut matanya ikut membentuk lengkung senyuman kian menambah gurat kecantikannya. Membuat Bisma lagi-lagi mudah sekali terpana oleh sosok wanita bernama Cintya Angela akhir-akhir ini. Bisma secepat mungkin menguasai diri. Menormalkan degup jantungnya yang mendadak ribut.


“Ini belum seberapa. Masih ada dua hari ke depan yang harus kita waspadai. Kita akan lebih sering bersinggungan dengan Prita. Jadi, kita harus selalu membangun chemistry sepanjang waktu,” kata Bisma yang diangguki dengan cepat oleh wanita yang semakin hari ingin terus dipandanginya. Entah mengapa.


“Apakah aksiku tadi sudah bagus?” Tya tampak penasaran.


Bisma mengangkat kedua jempolnya ke atas. Tersenyum lebar. “Perfect! Kamu memang pandai memilih topik pembicaraan yang pasti terdengar ambigu jika hanya didengarkan tanpa tahu pembahasan yang sebenarnya.”


“Syukurlah. Entah kenapa rasanya menyenangkan membuatnya dongkol. Dari cerita Mas di pesawat tadi, aku menyimpulkan sesuatu. Di sini sepertinya yang belum move on justru adalah orang yang membuat ulah. Mungkinkah mantan istrimu itu sebenarnya punya fetish aneh? Ingin menguasai dua orang pria sekaligus dalam genggamannya?”


“Bisa jadi. Aku bahkan mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri. Sepertinya aku memang tidak mengenal Prita dengan benar meskipun kami pernah hidup bersama. Semakin ke sini, makin terasa asing satu sama lain,” jawab Bisma lugas. Bisma tak menyadari, merasa asing dengan sosok Prita terjadi sebab ruang kalbunya yang dulu ditempati Prita kini mulai dihuni ukiran nama lain.


Tya tak berani berkomentar saat pembahasan yang diangkat terasa terlalu dalam. Khawatir salah bicara atau dicap sok tahu. Meraih gelas tehnya, ia teralihkan fokus pada cincin di jari manisnya. Urung meminum tehnya, Tya menaruh kembali gelas di tangan dan membuka cincin berlian tersebut.


“Mas, aku mau mengembalikan ini. Maaf telat banget, aku benar-benar lupa. Kayaknya aku punya gejala pikun di usia dini.” Tya terkekeh malu sembari menaruh cincin tersebut ke hadapan Bisma. Banyak hal terjadi membuatnya lupa mengembalikan benda berharga itu.


Ragu-ragu Bisma mengambilnya. Menatap lurus pada benda bertatahkan berlian yang sedang dipegangnya. Lantas menilik jari manisnya sendiri di mana cincin yang modelnya serupa masih melingkar di sana.


Tya mengerjap tak paham. “Lho, kenapa malah dipasang lagi?”


Bisma menatap lekat manik netra Tya yang membiaskan gerombolan sorot penuh tanya.


“Dipakai saja. Prita sudah pernah melihat cincin ini melingkar di jari kita. Jadi sebaiknya jangan dibuka supaya enggak menimbulkan kecurigaan. Ini merupakan jenis cincin kawin dan Prita pasti tahu itu. Kita harus terus memakainya, terlebih saat ini mantan istriku itu berada dekat di sekitar kita.”


“Benar juga. Sampai kapan aku harus memakainya?” tanya Tya impulsif.


“Sampai masalah yang berawal dari keselo lidahku ini selesai,” tukas Bisma cepat. Karena hanya itu jawaban tercepat yang melintas di kepalanya.


Tya mengangguk-angguk paham. “Baiklah. Tapi, jujur saja aku takut menghilangkannya. Cincin ini pasti sangat mahal kan?"


“Kurasa enggak akan hilang. Buktinya saat kamu mengalami kecelakaan pun, cincin ini tetap melingkar erat di jari manismu,” ujar Bisma yang kemudian melirik Rolex di pergelangan tangan kirinya.


“Iya juga sih." Tya mengiyakan setengah hati, meski tak yakin.


“Habiskan teh dan camilanmu. Bila perlu pesan makanan berat juga. Supaya tetap prima mengikuti rangkaian acara pembukaan seminar nanti malam yang pasti berlangsung sampai larut. Jangan lupa, besok pagi akan ada acara sarapan bersama, kemudian pameran produk sampai sore. Dan malamnya akan ada acara pengundian doorprize untuk para pelaku UMKM disertai pesta penutupan seminar. Banyak acara yang harus dilalui, jadi pastikan energi kita cukup. Apalagi kita butuh energi tambahan dalam menjalankan misi khusus,” kekeh Bisma di ujung kalimatnya.


Tya menaikkan kedua alis bersama kedua sudut bibirnya yang juga ikut terangkat naik dan berkata, “Misi memberantas mantan!”


Bersambung