Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 101



Sinful Angel Bab 101


Mobil Fortuner bernomor pelat ‘D’ memasuki pekarangan sebuah rumah megah yang luasnya sekitar dua kali lipat dari hunian Bisma. Bangunan yang sekelilingnya dipagari beton dan besi dengan arsitektur bergaya Eropa itu didominasi warna hangat nan feminin, perpaduan purple mauve dan putih bersih.


Mobil berhenti sempurna di area carport yang muat menampung empat sampai lima buah kendaraan. Rongga dada wanita berjilbab navy blue yang turun dari Fortuner putih itu berdebar tak beraturan saat sol sepatu flatshoesnya menapak di paving blok carport. Berkali-kali menelan ludah tak karuan saat kedua matanya menyusuri bangunan megah di hadapannya.


“Kenapa ngelamun? Ayo masuk?” Bisma yang hari ini memakai kemeja slim fit navy blue membungkus sempurna bahu lebar dan dada bidangnya, menggamit tangan Tya yang malah terpekur tak kunjung melangkahkan kaki.


“Jadi, ini rumah Bunda?” Tya melontarkan tanya sementara matanya masih bergulir ke sana kemari.


“Bukan, ini rumah janda cantik yang selalu kucintai sampai detik ini,” sahut Bisma santai, sekenanya.


Tya serta merta menghentikan ayunan kaki dan menghentakkan tangannya yang sedang dipegang Bisma. Tatapannya berkilat tajam. Moodnya mudah sekali kacau sejak tadi malam, perasaannya lebih sensitif. Bahkan saat ini langsung tersulut cemburu mendengar kalimat yang meluncur bebas dari mulut suaminya.


“Apa tadi Mas bilang? Rumah siapa ini?” Tya berseru sengit, hidungnya berangsur memerah, pelupuk matanya mulai berair.


Bisma melipat bibir menahan tawa. Bukannya tegang malah tampak senang. Bagaimana tidak, reaksi Tya yang menunjukkan cemburu secara terang-terangan membuatnya bahagia tak terkira, karena itu artinya Tya mencintainya sama besar dengan dirinya.


Lengan Bisma terulur hendak menggamit tangan Tya lagi. Akan tetapi, Tya menepisnya.


“Jawab dulu, rumah siapa ini! Apa itu tadi? Janda cantik yang kucinta?”


“Eh, eh, kenapa kalian malah diam di teras? Ayo masuk. Bunda sudah nunggu dari tadi.”


Suara mendayu Viona memecah wajah galak Tya yang merengut. Bisma terkekeh puas lantas merangkul pinggang sang istri.


“Nah, itu janda cantiknya muncul,” bisik Bisma sembari nyengir kuda.


“Bisma, ajak istrimu masuk.” Viona membuka pintu utama lebar-lebar. “Bunda senang kalian datang masih sore. Jadinya kita punya banyak waktu untuk berdiskusi sebelum makan malam.”


“Biar enggak terjebak macet juga, Bun. Ini kan malam minggu,” tukas Bisma yang diangguki kikuk oleh Tya.


Tya merutuk dalam hati. Akibat mood kacaunya, ia bukannya mencerna kalimat suaminya terlebih dahulu dan malah naik pitam akibat persepsi ambigu. Kalau dipikirkan lagi memang benar ini rumah janda cantik yang pasti selalu Bisma cintai, rumah ibunya sendiri.


“Ih, Mas! Jail banget sih,” gumam Tya merajuk pelan. Kesal juga malu.


“Tapi aku suka lihat muka cemburu kamu.”


Viona tersenyum hangat melihat putranya yang menggoda manis pada Tya, sedangkan yang digoda malu-malu kucing.


“Ngobrolnya lebih baik di dalam sambil minum teh. Nara dan Brilly juga sudah datang, ada di living room.”


Hari ini Viona meminta Bisma mengajak Tya untuk makan malam keluarga di kediamannya. Selain sebagai sarana kumpul keluarga inti, mempererat keakraban serta silaturahmi, Viona juga ingin berdiskusi tahap akhir terkait acara resepsi yang akan berlangsung akhir pekan depan.


“Bunda, nanti aku keluar sebentar sebelum makan malam. Ada janji pertemuan penting di salah satu restoran dekat sini. Aku cuma menghadiri pertemuan sebagai formalitas saja dan akan segera pulang sebelum Magrib. Titip Tya ya, Bun. Jangan dicubitin,” ujar Bisma berkelakar.


“Kalau Bunda cubitin Tya, takut ada banteng ngamuk.” Viona yang sudah hafal betul tingkah iseng Bisma mengulum senyum.


“Hey, bucin!” ejek Nara yang muncul dari ruang tengah bersama putrinya, Brilly. Menyambut Tya dan memeluk adik iparnya itu. “Ya udah, kamu pergi sana. Jangan nempelin Tya terus. Udah ngalahin daya rekat lem uhu kayaknya," usirnya pada Bisma.


Brilly, keponakannya yang berusia lima tahun itu kini mengulurkan tangan pada Bisma setelah menyalami Tya terlebih dahulu. Brilly mau mencium tangan Tya tanpa disuruh juga tanpa drama, mengingat biasanya bocah cantik itu sangat susah didekati, terlebih lagi oleh orang yang baru ditemuinya, tetapi kepada Tya Brilly langsung mau berinteraksi.


“Wih, tuan putri makin tinggi sekarang.”


Bisma menggendong Brilly masuk dan si bocah cantik itu langsung berceloteh senang. Tanpa sadar Tya mengusap perutnya sendiri dengan bibir mengembangkan senyum, melihat sikap Bisma yang ternyata begitu hangat dan periang terhadap anak-anak seluruh ruang hatinya seketika syahdu mendayu.


Suami Nara tak lama datang menyusul. Tya diperkenalkan juga pada Arkana yang menjabat sebagai direktur di perusahaan frozen food warisan Viona dari Pak Abdul, ayah Viona. Arkana berasal dari keluarga sederhana kalangan menengah, bukan anak pengusaha seperti Nara. Arkana merupakan salah satu staf teladan di perusahaan ayah Viona yang kemudian berjodoh dengan anak sulung Viona dan Bima.


Viona mempercayakan pengelolaan perusahaan frozen food pada menantunya sebab dia tak memungkinkan memegang banyak pekerjaan. Lagi pula bukan dipercayakan kepada orang lain, melainkan pada ayah dari cucunya sendiri. Arkana pun merupakan pribadi yang amanah serta tetap sederhana dan santun meski telah menduduki jabatan tinggi.


Tya tak pernah menyangka. Dalam perjalanan hidupnya akan mengalami fase duduk berkumpul di sini, duduk di antara orang-orang luar biasa lagi rendah hati yang dinamakan keluarga. Menebarkan positif vibes yang sesungguhnya.


Tya ikut membantu Nara juga ART menata peralatan makan pada meja panjang di ruang makan. Antusias ikut mengerjakan ini itu meski Nara dan Viona melarang.


“Tya, sebaiknya kamu duduk saja, Nak. Biar ART. Kata Bisma kemarin kamu sakit, nanti kambuh gimana?” Viona menahan tangan Tya yang hendak mengambil mangkuk-mangkuk sup. Tulus merasa khawatir.


“Saya sudah baikan kok, Bunda. Kemarin itu cuma masuk angin, Mas Bisma terlalu mencemaskan saya. Duduk terus punggung rasanya pegal juga. Lebih baik bergerak dan beraktivitas,” jelas Tya semringah.


“Bun, aku mau beli puding karamel ke toko kue depan komplek sebentar, sama mau beli susu evaporasi di minimarket. Pudingnya buat tambahan cuci mulut. Ini kan pertama kalinya Tya makan di rumah Bunda, harus dijamu,” kata Nara riang yang kemudian mengambil clutchnya di sofa living room.


“Nah, biar enggak pegal-pegal, kamu ikut Nara ke toko kue depan saja. Pilih kue dan puding yang kamu suka, Nak. Citarasa kue dan puding di sana dijamin enak-enak lho. Langganan Bunda,” usul Viona pada Tya. “Nara, ajak Tya sekalian, sambil jalan-jalan sebentar.”


Nara membawa Tya pergi penuh semangat. Mengendarai salah satu mobil bundanya untuk berbelanja.


Sebuah motor Tiger putih memasuki halaman rumah Viona begitu mobil yang membawa Nara dan Tya melaju keluar. Viona yang hendak beranjak masuk kembali, mengurungkan niat saat melihat siapa tamu yang datang.


Pria yang tidak membuka helmnya itu mengangguk sopan pada Viona, mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari saku jaketnya.


“Ini adalah hasil penyelidikan terkait informasi yang Bu Viona inginkan. Maaf, saya tidak bisa berlama-lama. Masih ada tugas mendesak yang harus saya kerjakan. Jika ada hal yang kurang di pahami, silakan langsung menghubungi saya.”


Pria itu segera berlalu. Viona menatap lurus amplop coklat di tangannya yang isinya adalah informasi lengkap tentang Tya yang ingin diketahuinya secara detil. Saat tangannya hendak membuka isinya, niatannya terhenti ketika melihat mobil Bisma sudah kembali masuk ke garasi. Viona mencegat salah satu ART yang melintas di teras. Menyerahkan amplop di tangannya.


“Taruh amplop ini ke ruang kerja.”


*****


Tya melongo di depan etalase sebuah toko kue yang baginya harganya mahal. Toko kue berdesain iconic dengan cat merah hati dan kincir di atapnya. Tya tak memiliki pengalaman membeli jenis penganan semacam ini, menyerahkan pilihan pada Nara saja.


“Kak, mau beli susu evaporasinya di minimarket sebelah toko ini? Kalau iya biar aku saja yang beli. Kak Nara pilih kue, aku yang belanja ke minimarket. Gimana? Sebentar lagi Magrib.” Tya menunjukkan arloji di tangannya yang menunjukkan waktu pukul setengah enam.


“Mmm, boleh deh. Biar cepet. Beli dua aja cukup, buat bikin sago melon. Tolong ya.”


Tidak sulit mencari merek susu evaporasi yang dimaksud Nara. Tya mengambil dua buah sesuai pesanan kakak iparnya dan ketika mengantre untuk membayar, matanya tertuju ke area display obat. Termenung beberapa saat dengan tatapan lurus pada alat tes kehamilan yang terpajang di sana.


“Apa aku beli test pack aja ya? Buat test sendiri dulu sebelum diperiksa ke dokter kandungan. Tapi gimana kalau ternyata hasilnya enggak sesuai perkiraan Dokter Ambar?" gumamnya bimbang sendiri.


Bersambung.