
Sinful Angel Bab 125
Tya lagi-lagi muntah hebat sore ini setelah beberapa waktu belakangan memang kembali mual muntah secara intens. Makanan yang susah payah ditelannya keluar lagi seluruhnya, lambungnya menolak diisi makanan.
Farhana gegas mengambilkan kayu putih dan membalurkannya ke punggung Tya, sementara yang diolesi kayu putih terkulai lemas dengan wajah pucat sembari memeluk dan membaui kaus polo yang mulai lusuh mengingat setiap hari Tya peluk setiap kali mualnya mengamuk, juga demi mengobati rasa rindunya pada Bisma yang kian menumpuk. Bahkan saat dicuci pun, Tya menunggui kaos polo tersebut hingga kering, sangat takut sepotong pakaian itu raib.
“Dek Tya, sebaiknya mala mini libur saja membuat jamu dan wedang. Untuk orderan yang minta diantar besok pagi, nanti biar saya yang memberi tahu para guru di sekolah juga para jamaah majlis taklim yang sudah memesan, bahwa yang bikin jamunya lagi kurang sehat dan orderan diundur pembuatannya. Lagi pula Dek Tya menerapkan sistem jual beli dengan tidak menerima uang sebelum orderan diantar. Jadinya tidak terlalu menjadi beban,” saran Farhana setelah selesai mengoleskan kayu putih di punggung dan tengkuk Tya.
“Sepertinya saya memang enggak kuat bikin pesanan malam ini. Tapi, jadi tidak enak sama Ustadzah, sudah membantu memasarkan jamu dan wedang buatan saya, sekarang juga saya merepotkan lagi dengan harus memberitahu konsumen tentang orderan yang diundur pembuatannya,” cicit Tya sangat pelan sembari mengelusi perutnya sendiri.
“Tidak merepotkan sama sekali. Saya hanya memasarkan sekalian beraktivitas menjalani rutinitas. Justru saya sangat menyukai semangat dan kegigihan Dek Tya, baik semangat dalam berjualan maupun semangat belajar mengaji dan mengkaji ilmu agama. Selalu berkobar, semangat empat lima,” ujar Farhana berkelakar, menghibur Tya.
Senyum tipis terukir di bibir pucat Tya. “Ustadzah, terima kasih banyak atas segala kebaikannya pada saya. Juga terima kasih tidak mengolok-olok tekad orang berlumur dosa seperti saya yang ingin belajar melangkah di jalan yang diridhoi Allah meski terseok-seok,” ucap Tya tulus dari dasar lubuk hati.
“Sudah sepatutnya sesama manusia saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan. Mendukung saudaranya yang ingin berhijrah dalam sebenar-benarnya hijrah. Memberikan kesempatan kedua. Semua orang memiliki dosa masing-masing. Namun, noda itu ada yang terlihat tapi ada pula yang tak nampak.”
Tya menghela napas panjang. “Ya, dan noda dosaku terpampang nyata Ustadzah,” lirih Tya perih.
Farhana menggenggam tangan Tya. Menepuk-nepuknya lembut. “Tentang cerita kelam yang tak bisa terhapus dari jejak perjalanan yang sudah berlalu, jangan pernah lelah berdo’a dan meminta, memohon agar aib di masa lalu Allah ampuni dan tutupi, hanya Allah sebaik-baiknya tempat meminta pertolongan. Minta dengan kepercayaan penuh dari dasar hati tanpa keraguan sedikit pun. Dan ingat, masih lebih baik mantan pendosa yang bertaubat dengan taubatan nasuha, daripada jadi mantan orang baik yang berakhir buruk di akhir hayatnya.”
Tya lagi-lagi merasakan dorongan mualnya naik kembali ke permukaan, melangkah cepat dengan kaki lemahnya menuju kamar mandi, padahal sudah tidak ada apapun yang bisa dimuntahkan.
Farhana panik. Selama tinggal bersamanya, muntah-muntah Tya kali ini merupakan yang paling parah. Dia memang seorang janda yang ditinggal mati suaminya, tetapi dari pernikahannya Farhana tidak dikaruniai keturunan, sehingga tak begitu paham dan tak berpengalaman menangani mual-mual hebat pada wanita hamil seperti yang sedang dialami Tya sekarang.
“Dek Tya, sebaiknya kita pergi ke dokter saja ya. Saya takut kamu dan dedek bayi kenapa-napa. Belum lagi berat badan Dek Tya sepertinya menurun,” usul Farhana dengan nada teramat khawatir setelah membantu Tya membasuh mulut dan memapahnya kembali ke kursi semula
Tya menggelengkan kepala, meneguk air hangat yang disodorkan Farhana kemudian menjawab, “Tidak usah, Ustadzah. Saya kayaknya mau periksa ke bidan terdekat saja supaya lebih hemat, biar uangnya juga bisa cukup buat saya belikan susu hamil dan biskuit asin. Keuntungan berjualan sengaja saya tabung tujuh puluh persennya buat biaya melahirkan, perlengkapan bayi dan bekal saya nanti. Saya tidak mungkin terus menumpang. Kalau masih ada yang bisa dihemat, kenapa tidak.”
“Dek Tya bisa pakai uang saya dulu. Yang penting sekarang sebaiknya segera diperiksa ke dokter spesialis. Soalnya mual muntahnya sangat berbeda dari biasanya.” Farhana menyarankan setengah memaksa.
“Jangan, Ustadzah. Saya yakin, ke bidan pun sudah cukup.”
Farhana menghela napas panjang. Dia tahu Tya memang bukan sosok aji mumpung meski kesempatan terpampang di depan mata.
“Ya sudah, setelah salat Magrib, kita langsung berangkat ke bidan terdekat.”
Farhana mengendarai mobil karimun edisi lama yang masih terawat rapi itu dalam kecepatan sedang. Bidan terdekat sedang libur praktek, dan mau tak mau Tya harus mengunjungi tempat praktik bidan yang lebih jauh dari rumah dinas.
Semula Tya hendak naik angkutan umum saja karena tak enak hati terus menerus merepotkan Farhana. Akan tetapi Farhana melarang, khawatir Tya pingsan di jalan melihat betapa pucatnya wajah Tya dan dinginnya tangan Tya sekarang.
“Bu bidan. Bagaimana ini? Bagiamana kondisi adik saya.” Farhana mengguncang lengan di bidan yang sedang memeriksa kondisi Tya.
Tya terbaring lemah nyaris pingsan. Wajahnya sepucat kertas, titik-titik keringat dingin menghiasi dahinya. Merintih lirih memanggil-manggil nama Bisma dengan sudut mata basah. “Mas… Mas Bisma,” rintihnya sedih.
“Bu, sebaiknya adiknya dibawa ke rumah sakit yang lebih besar sekarang juga. Butuh perawatan lebih lanjut dan pemeriksaan intensif oleh dokter kandungan selain terkait rendahnya tekanan darah adik Anda. Demi keselamatan si ibu dan bayinya, sebaiknya bersegera.”
Farhana kebingungan sekarang. Membawa Tya yang sedang hamil ke rumah sakit hanya oleh dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain sangat berisiko, harus ada yang menjaga Tya selama di perjalanan, minimal menyangga duduknya di saat Farhana menyetir.
Berpikir cepat, Farhana merasa sudah saatnya suami Tya tahu bahwa istrinya ada bersamanya dan sekarang dalam konsisi tidak baik-baik saja. Memutuskan untuk memberitahu sebelum terjadi hal yang lebih fatal pada Tya dan bayinya meskipun Tya pasti melarangnya. Namun, Farhana tidak tahu kontak Bisma. Akhirnya dia menghubungi kontak nomor Khalisa.
Sementara itu, rumah Khalisa sedang kedatangan tamu. Viona dan Bisma yang datang selepas Magrib. Kunjungan dadakan yang membuat Khalisa agak terkejut.
“Jadi, wedang yang tadi siang dibawa ke butik itu buatan temannya Ustadzah Farhana?” Viona langsung to the point bertanya tentang asal muasal wedang. Sudah tak sabar ingin mencari informasi.
“Iya, dari keterangan Ustadzah Farhana memang begitu? Apakah ada yang salah dengan produknya, Bu? Apakah ada karyawan butik yang sakit perut setelah meminum wedangnya?” Khalisa yang kaget balas bertanya dengan intonasi waspada. Yudhis yang duduk di sebelah Khalisa meremas bahu istrinya, memberi isyarat supaya tetap tenang.
“Sama sekali bukan. Tapi, wedang yang Anda bawa ke butik VN dan saya pun tadi sempat mencicipi, sangat mirip dengan wedang juga jamu buatan Tya.” Bisma kini ikut buka suara.
“Apa?” sambar Khalisa penuh tanya. Dia memang pernah mencicipi wedang buatan Tya beberapa kali, tetapi tidak pernah memperhatikan dan mengingat-ingat rasanya dengan detail.
“Ya, citarasanya sangat mirip. Saya ke sini ingin mencari petunjuk terkait si pembuat wedang yang katanya teman Ustadzah Farhana. Saya ingin langsung datang dan bertanya pada Ustadzah Farhana untuk dipertemukan dengan si pembuat wedang. Walaupun mungkin bukan Tya yang membuat, tapi dari segi rasa dan konsentrasi rempahnya sangat serupa dengan buatan Tya. Mungkin saja ada petunjuk tentang keberadaan Tya, mungkin saja Tya pernah berbagi resepnya pada temannya Ustadzah Farhana itu,” tutur Bisma menerangkan.
“Kalau memang Pak Bisma merasa ini sebuah petunjuk, saya akan menghubungi Ustadzah Farhana sekarang juga dan meminta izin bertamu ke rumahnya, semoga waktu beliau sedang senggang.” Yudhis mengutarakan usulan yang langsung diangguki semua orang.
“Biar aku yang telepon, Bang,” kata Khalisa yang mengeluarkan ponselnya dari saku gamis yang dipakainya.
Saat jarinya mencari kontak Farhana, sebuah panggilan masuk ke ponselnya, panggilan dari nomor yang hendak dihubunginya. Khalisa mengucap salam, seketika waspada saat mendengar nada suara Farhana di seberang sana kentara sedang dalam situasi darurat. Sinyal yang terputus-putus membuat ucapan Farhana kurang jelas. Khalisa mengaktifkan loud speaker agar suara dari seberang sana lebih terdengar.
“Halo, Ustadzah, ada apa gerangan? Maaf, tadi sinyalnya putus-putus, bisa diulangi?” pinta Khalisa.
“Begini, Khalisa, maaf sekali merepotkan malam-malam. Bisa tolong datang ke tempat praktik bidan yang lokasinya tidak jauh dari tempat Afkar les bimba? Saya sedang butuh bantuan. Juga saya minta tolong supaya mengubungi suaminya Dek Tya sekarang juga. Ini darurat. Dek Tya sedang berada di bidan sekarang dan harus segera dibawa ke rumah sakit.”
Seketika Bisma merebut ponsel di tangan Khalisa seperti orang gila. Tak peduli lagi tata krama saat mendengar sosok yang dicarinya disebut namanya di seberang telepon.
“Sebutkan alamat lengkapnya sekarang juga!”
Bersambung.