
Sinful Angel Bab 50
Bisma membawa Tya ke sebuah klinik kecantikan salah satu yang terbaik di Kota Kembang ini dengan Dokter Aloisa Megara Wisesa sebagai pemilik sekaligus dokter aestheticnya. Pertama-tama, Dokter Aloisa mengecek kondisi kulit Tya guna mengetahui jenis kulit juga keluhannya, guna merekomendasikan terapi yang tepat.
Perawatan paket premium platinum dibayar Bisma untuk Tya. Jenis paket nomor wahid di klinik tersebut. Lengkap dari ujung kepala hingga kaki. Salah satu yang direkomendasikan oleh petugas klinik sesuai hasil pengecekan dokter. Walaupun Dokter Aloisa menyatakan kondisi kulit Tya terbilang cukup baik dengan tidak terlalu banyaknya permasalahan, tetapi Bisma tetap ngotot ingin membayar yang termahal. Di otaknya hanya didominasi pemikiran agar Tya jangan sampai kalah memukau dari Prita nanti.
“Masuklah. Aku akan menunggu di kedai kopi seberang sana dan kupastikan akan berada di sini lagi sebelum kamu menyelesaikan perawatan,” kata Bisma pada Tya yang sudah ditunggu terapis yang akan bertugas melayani Tya.
Tanpa banyak kata maupun mendebat, Tya mengangguk saja. Meskipun dalam hati ia ngedumel saat mengetahui banderol harga yang dibayar Bisma untuk perawatan kecantikannya.
Ya ampun, mahal banget. Treatment di salon biasa saja seperti yang dulu rutin kulakukan saat masih berada di bawah kuasa Jordan padahal sudah cukup rasanya daripada di sini, harga sekali perawatan cukup buat biaya makan sebulan!
Sementara itu, sesaat setelah Tya masuk ke area dalam klinik dan Bisma keluar dari sana menuju sebuah kafe di seberang klinik, seorang wanita cantik berhijab nan anggun yang menggendong bayi perempuan diikuti wanita paruh baya di belakangnya memasuki klinik. Semua pekerja sepertinya sudah mengenalnya, semuanya menyapa ramah. Bukan hanya pada wanita berhijab warna coral itu saja, tetapi juga pada bayinya.
“Mbak Khalisa, mau perawatan rutin ya? Mau tambah yang keset-keset juga kayaknya nih.” Salah seorang petugas klinik di bagian depan menyapa akrab menggoda.
“Tahu aja. Iya, aku mau perawatan kulit, sama tambah ratus,” jawab wanita itu yang ternyata adalah Khalisa. Customer VVIP sekaligus teman karib Dokter Aloisa si pemilik klinik.
“Ish, jangan dulu lah. Disha aja belum genap setahun,” tukas Khalisa, menyengir.
Khalisa menyerahkan Disha pada wanita paruh baya yang menemaninya. Disha adalah putri kandungnya dengan Yudhis. Buah cinta mereka berdua, adiknya Afkar. Afkar tidak ikut serta, sedang les mengaji bersama Farhana, sepupunya suami Aloisa.
“Bi Dije, tolong jaga Disha ya, saya mau perawatan dulu. Sebentar lagi Bang Yudhis bakal nyusul ke sini sepulang dari LBH. Makanan kecil Disha dan MP ASI nya enggak lupa dibawa kan?”
“Semuanya sudah siap,” jawab Bi Dijah cepat.
“Tuan putri, Bunda. Sama Bi Dije dulu ya, Sayang,” kata Khalisa sembari mencium pipi gembul Disha yang amat menggoda untuk dikecup.
“Disha cantik gemes, kita lihat ikan di akuarium samping yuk,” ajak Bi Dijah. Si bayi montok langsung memekik senang dan berceloteh bahasa bayi, entah bicara apa.
Bi Dijah berlalu menggendong si bayi lucu berbaju pink muda itu menuju area samping klinik di mana akuarium berada yang juga dilengkapi playground, sedangkan Khalisa tak membuang waktu, gegas masuk ke dalam bersama terapis mumpung bayinya baru selesai disusui.
Bersambung.