
Sinful Angel Bab 114
Pintu tinggi ruang kebesaran presdir Agra Prime berdentam kencang, ulah penghuni di dalamnya yang mendorong pintu sekaligus. Poppy yang sedang menarikan jari di atas keyboard pun berjengit kaget.
Tanpa menoleh maupun berpesan pada Poppy. Bisma melesat menuju lift dengan ponsel di menempel di telinga. Berlarian tunggang langgang begitu pintu lift terbuka di lantai dasar. Tak memedulikan langkah kaki juga sekitar. Berlari lurus menuju parkiran, menyenggol dan menubruk beberapa karyawan yang berjalan dari arah berlawanan tanpa mengucap kata maaf seperti biasa.
Nomor Tya tersambung saat dihubungi, tetapi tak kunjung diangkat. Sudah lima kali Bisma menyambungkan ke nomor yang sama dengan hati tak menentu.
Sungguh dia merasa bersalah. Alih-alih ingin menjaga hati Tya juga sang bunda dalam upayanya mencari titik terang agar bundanya bersedia memahami dan menerima pilihannya dengan lapang dada, tak disangka Tya justru sepertinya sudah mengetahui duduk perkara semrawut antara Viona dan dirinya.
Pembicaraan Tya empat mata dengan bundanya sudah pasti membahas terkait masa lalu Tya yang tak bisa bundanya terima. Bisma meremat dadanya sendiri yang berdenyut nyeri lagi perih. Tya pasti terluka hati dengan penolakan keras sang bunda.
Terlebih lagi Tya sekarang sedang hamil, mengandung anaknya. Konon katanya perasaan wanta hamil itu lebih sensitif, lantas apa kabar hati Tya sekarang, hancurkah? Sedihkah? Pasti lebih dari itu bukan?
“Sayang, tolong angkat teleponnya. Ayolah,” gumam Bisma yang semakin dihantui rasa was-was.
Bisma melajukan mobilnya keluar dari parkiran masih dengan ponsel di tangan. Tangan kanannya mengendalikan setir mobil sementara tangan kirinya masih sibuk menempelkan gawai ke telinga. Sebenarnya berbahaya menggunakan ponsel di saat tengah berkendara, hanya saja saat ini Bisma tak memedulikan hal itu.
Terus tak mendapat respons, Bisma beralih menghubungi nomor Teh Erna dan Mang Eko dan tetap sama tidak diangkat juga. Lantas dia menghubungi nomor telepon rumah dan setelah dua kali mencoba disambungkan akhirnya diangkat juga.
“Teh Erna. Kenapa Tya enggak mengangkat teleponku?”
Bukan jawaban menenangkan seperti harapannya, Teh Erna justru terdengar panik dan berkata terbata-bata.
“Den, kebetulan sekali Den Bisma menelepon. Neng Tya. Itu… Neng Tya_”
“Tya kenapa, Teh? Jangan bilang kalau terjadi hal buruk pada istriku? Apa Tya terjatuh? Cepat jawab!” seru Bisma yang membentak tanpa sadar. Pikiran buruk langsung merecokinya. Tidak mungkin Teh Erna panik kalau istrinya baik-baik saja.
“Den, Neng Tya tidak ada di rumah. Neng Tya tidak ada di rumah,” tutur Teh Erna berulang-ulang dengan suara gemetar.
“Apa maksudnya Tya tidak ada di rumah? Pergi sama Mang Eko?” cecar Bisma menuntut penjelasan.
“Tidak Den. Mang Eko justru baru kembali dari luar sama saya. Neng Tya minta dibelikan rujak buah yang dijual dekat klinik kecantikan yang biasa didatangi Neng Tya perawatan. Ingin dibeli langsung, tidak mau delivery, mungkin bawaan bayi. Karena jauh dan biar cepat, Neng Tya meminta Mang Eko mengantar saya pergi membeli. Saya sempat menyarankan Mang Eko saja yang membelinya biar saya menemani di rumah, tapi Neng Tya merengek dan meminta saya harus ikut. Katanya sambal uleknya harus saya cobain dulu rasanya supaya pas, karena Mang Eko pasti kurang paham dengan rasa sambal rujak. Tapi saat saya kembali, rumah sangat sepi. Saya sudah mencari Neng Tya ke seluruh rumah, tapi tidak ada," jelas Teh Erna panjang lebar.
“Aku sedang dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi sampai. Teh Erna coba periksa ke kamar mandi yang ada di kamar saya. Dobrak saja pintunya sama Mang Eko bila perlu, saya takut Tya jatuh pingsan di kamar mandi.”
Pedal gas diinjak lebih dalam. Sedan hitam itu melesat dalam kecepatan tinggi membelah jalanan Kota Bandung. Rinai hujan mulai turun membasahi, menyapa bumi.
“Cintya, Sayang. Jangan membuatku takut,” desah Bisma kalut dibelit ketakutan. Mencengkeram setir kuat-kuat.
Mercy hitam yang dikendarai Bisma diparkirkan sembarang di depan kediamannya. Kedua kakinya berderap cepat masuk ke dalam rumah. Bertepatan dengan Teh Erna dan Mang Eko yang keluar dari kamarnya.
Teh Erna dengan wajah pucat tergopoh-gopoh menghampiri tuannya. “Ampun, Den. Di kamar mandi juga tidak ada.”
“Seluruh rumah sudah disisir oleh saya dan Teh Erna, tapi Neng Tya tidak ada di manapun.” Mang Eko ikut angkat bicara.
“Tya enggak ada bilang apapun atau kirim pesan sama Teh Erna sewaktu Teh Erna beli rujak? Misalnya bilang mau pergi beli sesuatu, ke minimarket dekat sini mungkin? Selama ini Tya enggak pernah keluar rumah tanpa izin dulu padaku maupun memberitahu Teh Erna atau Mang Eko.”
Teh Erna menggeleng. “Tidak ada, Den. Neng Tya tidak ada kirim pesan apapun. Saya takutnya ada penjahat masuk dan nyulik Neng Tya dia di saat Neng Tya sedang sendirian di rumah. Karena beberapa bulan lalu sering ada orang tak dikenal yang sepertinya mengawasi rumah ini, walaupun sudah lama tidak terlihat lagi,” tutur Teh Erna, mengungkapkan kekhawatirannya yang memang masuk akal.
Merogoh ponselnya, Bisma kembali menghubungi nomor Tya. Sayup-sayup dering ponsel yang sangat familiar terdengar dari ruang kerja meski samar, membawa kaki Bisma terayun ke sana.
Saat pintu didorong, bunyi dering ponsel itu semakin nyaring terdengar memenuhi telinga, dan si benda yang menjadi sumber bunyi itu tergeletak di atas meja kerja pribadinya. Berkelap-kelip dan bergetar.
Teh Erna dan Mang Eko yang mengikuti tak berani melangkah masuk, menahan diri di depan pintu dengan mata ikut mencari menyapu ke dalam sana. Bisma pun mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Berharap menemukan sosok si pemilik hati yang sedang dicemaskannya. Namun nihil, Tya tidak ada di sana, baik raga maupun aromanya.
“Sebenarnya Tya ke mana? Handphonenya ada di sini tapi orangnya enggak kelihatan.”
Mendekati meja di mana ponsel tersebut tergeletak dan bermaksud mengambilnya, gerakan tangannya terhenti saat yang didapatinya di sana bukan hanya si gawai pintar milik sang istri, tetapi juga cincin yang biasa melingkar di jari manis Tya, dompet, serta dua buah kartu gold dan black yang pernah diberikan Bisma untuk Tya. Bersebelahan dengan sebuah amplop panjang yang di bagian depannya tertulis rangkaian hurup ‘Teruntuk Suamiku Tercinta’.
“Amplop apa ini?”
Jakun Bisma bergerak resah. Keningnya terlipat. Firasat tak enak menusuk-nusuk jantungnya saat mendapati benda-benda pribadi Tya tergeletak di sana.
Ragu-ragu Bisma mengambil amplop tersebut, meski enggan mengeluarkan isi di dalamnya. Mengambil napas panjang, Bisma membuka si kertas yang terlipat rapi itu dan dengan hati-hati mulai membaca rangakaian kata demi kata yang tertera di sana.
Assalamualaikum, kekasih hatiku
Pasti aku bikin Mas terkejut saat menemukan surat ini kan? Tapi aku yakin jantung Mas kuat dan berkualitas terbaik. Seperti yang Mas bilang, buatan Allah, bukan kayak pepes tahu buatanku yang pasti rapuh, hehe.
Mas, Sayangku, Cintaku. Maaf, aku harus melakukan ini. Maaf karena aku telah lancang melangkahkan kaki keluar dari rumah tanpa meminta izinmu. Tapi hanya ini cara dan usaha yang bisa kulakukan agar hubungan Mas dan bunda yang memanas karena aku membaik lagi.
Gara-gara aku, hubungan Mas dan bunda jadi retak. Andai aku enggak pernah masuk dalam kehidupan Mas, maka semua itu enggak akan terjadi.
Penolakan bunda terhadapku amat kupahami. Semua ibu di dunia ini pasti tidak ada yang ingin anaknya beristrikan mantan kupu-kupu malam bersayapkan noda dan dosa. Aku tidak mau Mas jadi anak yang durhaka pada ibunya. Aku pasti akan merasa berdosa sepanjang hidupku andai membiarkan itu terjadi. Memiliki orang tua yang menyayangimu adalah berkah besar, Mas. Anugerah yang tak pernah kurasakan dan kumiliki. Dan surgamu ada di kakinya, dalam ridho dan restunya.
Maaf, aku pergi tanpa pamit padamu, Mas. Tapi tenang saja, aku sudah berpamitan pada bunda. Beberapa baju muslim yang Mas belikan aku bawa. Aku juga mengambil uang sebanyak lima ratus ribu dari uang tunai yang biasa Mas isikan di dompetku. Aku harap Mas mengikhlaskan apa yang kuambil, jangan dijadikan catatan hutang ya. Aku khawatir enggak bisa bayar, hehe.
Mas, terima kasih atas segala cinta dan penghargaan yang telah Mas curahkan untuk wanita hina sepertiku. Hal terbaik dalam hidupku adalah menjadi istrimu. Meskipun pada akhirnya aku harus sadar dan menampar diriku sendiri dengan kenyataan, bahwa tidak seharusnya aku serakah ingin memilikimu sepanjang hidupku. Sungguh aku tak pantas, cerita kelamku akan selalu meninggalkan jejak noda yang tak bisa terhapus.
Oh ya, untuk hadiah paling berharga di rahimku, tolong biarkan aku memilikinya, hanya dia satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku mungkin memang enggak bisa memberinya kemewahan. Tapi percayalah, aku akan merawat buah hati kita dan mengusahakan yang terbaik semampuku. Mencintai dan menyayanginya dengan segenap jiwa dan ragaku. Semoga anak kita tidak malu lahir dari ibu sepertiku.
Jaga kesehatan ya, Mas.
Dari Cintya Angela, yang selalu mencintaimu sampai aku menutup mata.
Bersambung.