
Sinful Angel Bab 20
“Buat kamu.” Bisma menyerahkan sebuket besar bunga mawar merah harum nan segar yang dirangkai cantik berpita dusty pink dipadu hijau itu ke pangkuan Tya.
“Lho, lho. Ini apa, Pak?” Kelopak mata Tya mengedip intens tak mengerti.
“Itu bunga mawar,” sahut Bisma yang sedang sibuk memasang seat belt.
“Iya, saya juga tahu kalau ini tuh Bunga Mawar, bukan sate ayam, Pak. Tapi maksud saya ini buat apa? Jangan bilang ini adalah kompensasi dan tips yang Anda janjikan?” cicit Tya sengit menuntut penjelasan, ekspresinya putus asa seketika. “Maaf sekali, Pak. Mungkin kalimat saya kali ini lancang. Tapi sungguh, saya tidak membutuhkan bunga begini. Bagi saya, seikat kangkung lebih berguna daripada sebuket bunga, bunga ini walaupun mahal tidak bisa dibuat sayur untuk dimakan sebagai pengganjal perut lapar. Juga tidak mungkin saya makan bunga ini, saya ini manusia, bukan dedemit!”
Tya mencecoros menyela sebelum Bisma sempat menjelaskan, kentara keberatan andai tips dan kompensai yang dijanjikan ternyata ditukar dengan sebuket bunga yang pasti harganya mahal. Memang indah, tetapi bagi Tya seikat besar si bunga cantik ini sama sekali tak menarik. Ia sedang tak butuh keindahan, yang dibutuhkannya adalah rupiah untuk bekal bertahan hidup bersama Caca.
Bisma membasahi bibir, menata kalimat sebelum menyahuti. “Bunga ini bukan penukar kompensasi dan tips yang kujanjikan, itu hanya bonus. Ini, semoga bermanfaat.” Bisma merogoh saku jas, meraih lengan kanan Tya dan meletakkan sepuluh juta rupiah uang tunai ke atas telapak tangan.
Tya terpaku, memelototi setumpuk uang di tangan kanannya. Gemuruh di balik dadanya bersorak gembira. Tanpa dihitung pun uang tips dan kompensasi yang diberikan Bisma jauh lebih banyak dari jumlah yang dijatah Marsha dari setiap transaksi klien yang menyewa jasanya.
“I-ini, be-beneran tips dan kompensasi buat saya, Pak?” Dengan tergagap, Tya bertanya memastikan, jangan sampai dia sudah bersorak senang, ternyata cuma halu semata. “Se-semuanya buat saya, begitu?” sambungnya lagi, menatap Bisma tanpa berkedip, menunggu jawaban.
“Iya, itu buat kamu semuanya. Semoga berkenan.”
Tya berjingkrak tak sadar tempat, sampai-sampai kepalanya terantuk atap mobil. Saking senangnya ia terlupa bahwa saat ini dirinya masih berada di dalam mobil.
Tya menepuk-nepukkan uang sepuluh juta itu ke atas ubun-ubunnya. Mengucap syukur yang jelas berasal dari dasar hati. Tak menyadari Bisma menatapnya dengan sorot lain di balik manik maskulinnya, yakni bias prihatin. Pasti hidup wanita yang disewa jasanya ini tidak mudah, pikirnya.
“Pak, kalau niat ngasih saya bonus tambahan, sebenarnya tidak usah belikan bunga. Beli kerak telor atau nasi uduk saja padahal,” ujar Tya tertawa kering agak malu, sembari mengelusi perutnya yang terdengar bergemuruh lapar. Di pesta tadi Tya hanya menyantap sepotong lasagna, itupun tak sampai habis.
Tawa Bisma terbit. Menggosok hidung mancungnya guna meredakan geli melihat kelakuan Tya yang kadang bar-bar, kadang-kadang lucu, tetapi harus diakui sangat professional ketika sedang bekerja.
"Kita cari makan sebelum ke hotel. Saya, juga lapar. Sebetulnya bunga itu bukan sembarang bonus, tapi demi membangun alibi. Maaf, sejujurnya saya hendak merepotkan kamu lagi, mungkin hingga beberapa jam ke depan. Tapi jangan khawatir, saya juga pebisnis, waktu adalah uang, akan saya tambah kompensasinya di hotel nanti.”
“Maksud Anda bantuan yang kayak gimana ya, Pak?” Tya memicing runcing, menyilangkan kedua lengan di depan tubuhnya penuh antisipasi. “Saya sudah bilang, saya ini sudah pensiun menemani tidur!” semburnya galak.
Bisma menaruh telunjuk di depan mulutnya sendiri. “Sssttt, pelankan suaramu. Bukan bantuan semacam itu. Tapi saya terjebak situasi darurat di luar dugaan. Mantan istri saya membuntuti kita. Itu mobilnya, sedan mercy hitam pelat ‘D’.”
Bisma menunjuk ke belakang, Tya menoleh, mengikuti telunjuk Bisma mengarah. Tya membekap mulut saat menangkap sosok di bangku penumpang yang kacanya terbuka sedikit.
“Ya ampun. Bukankah seharusnya dia berada di pestanya? Kenapa malah kelayapan mengikuti Anda?” cicit Tya keheranan penuh tanya.
“Saya juga tak paham. Yang pasti dia sedang menguntit untuk memvalidasi kebenaran pernyataan saya di pestanya tadi. Supaya skenario ini tetap sempurna, saya sangat meminta kesediaanmu untuk melanjutkan sandiwara ini sampai dia berhenti mengawasi. Jadi, saya masih butuh kamu. Maaf, merepotkanmu lagi.”
Bersambung.