Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 142



Sinful Angel Bab 142


Sudah setengah jam Prita luntang-lantung tak jelas. Akhirnya dia memutuskan mampir ke sebuah restoran cepat saji. Membeli minuman guna melepas dahaga karena dia mulai kelelahan sembari menumpang mengisi baterai. Power Bank yang biasa dibawanya tertinggal di mobil, sehingga di sinilah dia terdampar sekarang demi menghidupkan gawainya yang kehabisan daya.


Tiga puluh menit berlalu dan merasa baterainya sudah cukup terisi, Prita menyudahi mengisi daya. Menghidupkan ponselnya dan kekesalannya semakin menjadi. Pasalnya, tidak ada satu pun riwayat panggilan maupun pesan chat yang dikirimkan Radhika hanya untuk sekadar bertanya apakah urusannya sudah selesai atau belum selama ponselnya mati.


“Sebenarnya Mas Dhika ini pergi cari informasi ke mana sih? Sampai enggak ingat ngabarin istrinya yang lagi bunting dilepas sendirian dari tadi siang!”


Prita menyambungkan panggilan ke nomor suaminya. Agak sulit tersambung, entah pengaruh sinyal dia pun tak paham. Setelah dua kali mencoba akhirnya tersambung juga. Namun, tak kunjung diangkat.


“Ini kenapa enggak diangkat-angkat!” gerutu Prita kesal bukan main. Kejengkelannya semakin menumpuk saja.


Sementara itu di basemen apartemen Markus, Radhika baru saja mengejang menumpahkan gulungan n*fsunya bersama Cyra yang duduk di atas pangkuannya. Pakaian Cyra tersingkap di mana-mana, tak sepenuhnya tanggal. Begitu juga Radhika yang hanya membuka resleting dan menurunkan celananya saja, sementara pakaian lainnya masih lengkap melekat.


“Kamu hebat,” bisik Radhika dengan tatapan sayu penuh kepuasan.


“Anda juga hebat, Pak,” balas Cyra nakal dengan napas tersengal.


Ponsel Radhika yang diletakkan di dekat kemudi berbunyi. Cyra yang masih duduk di pangkuan Radhika menengok ke belakang punggungnya. Sedangkan Radhika kini bersandar dengan mata memejam, menekan sandaran kursi sembari menikmati sisa-sisa denyutan di bawah sana dengan kedua lengan masih memeluk pinggang ramping Cyra.


“Pak Bos, ponsel Anda bunyi,” kata Cyra sembari menepuk lembut pipi Radhika.


Radhika menegakkan punggung, melonggokkan kepala mengintip siapa yang menelepon dan nama Prita lah yang terpampang di layar.


“Ck, kenapa harus sekarang!” sungutnya kesal.


“Istri Anda?” Cyra menebak dengan mudah ekspresi Radhika. Dia sudah sering merayu suami orang terutama pria-pria berduit demi memenuhi gaya hidup hedonnya. Jadi bukan hal aneh lagi baginya dengan air muka para buaya rakus belaian ketika istri sah menghubungi di saat suami mereka sedang berpeluh bersamanya.


Radhika menggangguk malas sebagai respons. Merasa kesenangannya terganggu. Semakin hari hidupnya terus saja dilanda masalah bertubi-tubi. Belum lagi Prita yang selalu ingin mengendalikannya dalam berbagai hal.


Awalnya Radhika tak masalah dengan hal itu karena dia mencintai Prita bahkan nekat bermain gila di saat Prita masih berstatus istri sahabatnya. Membantu Prita untuk merampas Sinar Abadi dari tangan Bisma.


Namun, lama kelamaan dia merasa tak dianggap sebagai kepala keluarga. Merasa dirinya hanya diperlakukan mirip kacung pesuruh Prita. Mulai jengah apalagi setelah obrolan dengan Markus beberapa jam lalu yang memanas-manasinya dengan menyebutnya SSTI. Tidak ingat buah hatinya dengan Prita tak lama lagi akan lahir ke dunia.


“Sebaiknya diangkat. Kasihan istrinya. Sudah tiga kali dia menelepon,” kata Cyra manis, sok pengertian.


Radhika menyambar bibir Cya yang disambut Cyra sama panasnya sebelum memutuskan menyudahi percumbuan di dalam mobil. Meski tak rela, mau tak mau Radhika meminta Cyra bangun dan pertautan mereka pun terlepas.


Cyra berpindah ke kursi di sebelahnya, segera membenahi pakaiannya begitu juga Radhika. Kemudian Radhika memberi isyarat pada Cyra supaya jangan berisik sebelum dia mengangkat panggilan ke empat dari Prita.


[“Mas, kamu di mana sih! Kenapa lama banget angkat teleponnya? Cepat jemput aku sekarang juga!”]


“Sabar dong, Ta. Dengerin dulu alasanku. Tadi ban mobil mendadak kempes dan handphoneku kelupaan keselip di dekat jok, jadi kurang kedengaran pas kamu nelepon barusan. Aku mencoba mengganti ban sendiri tapi peralatan yang dibawa enggak memadai, jadi nunggu montir yang dipanggil ke tempat di mana mobil kita terparkir dan montirnya lama datangnya.”


[“Pokoknya cepetan beresin itu urusan ban! Aku capek jalan kaki tak tentu arah sementara ponselku mati dan Mas sama sekali enggak nanyain kabar rencanaku gimana, bikin kesal saja. Jemput aku di restoran cepat saji dekat kantor pusat Sinar Abadi yang dulu. Jangan lama-lama!”]


Dia tidak mungkin segera meluncur menjemput Prita dalam kondisi awut-awutan begini, sudah pasti menimbulkan kecurigaan. Radhika harus membersihkan jejak-jejaknya bersama Cyra di mobil ini terlebih dahulu dengan rapi agar tidak tercium oleh Prita.


Meski terdengar dengusan geram, Prita menyetujui ide Radhika.


[“Ya sudah. Aku tunggu Mas di Swiss Belhotel. Nanti kukirimkan nomor kamarnya.”]


“Kita masih bisa ketemu kok, Pak Bos. Saya sih mau-mau saja kalau diminta datang ke Jakarta juga. Yang penting sesuai,” ujar Cyra penuh arti saat Radhika dengan lesu menaruh ponsel ke dalam saku celana.


Wajah kusut Radhika seketika cerah kembali. “Itu bagus. Aku akan menghubungimu segera, manis. Tapi, aku juga punya penawaran buat kamu.”


“Apa itu?”


“Aku ingin menjadikanmu simpananku.”


*****


Bisma hanya bisa diam tak berkutik saat tiba-tiba Tya merengek ingin mencukur jambang di rahangnya yang mulai tumbuh panjang di saat waktunya naik peraduan. Ingin mencukur hingga habis padahal biasanya Bisma tetap menyisakan pendek saja.


Bisma terdiam, duduk di tepian ranjang seperti robot dengan ekpsresi horor, berbanding terbalik dengan Tya yang bercicit senang saat diizinkan mencukur. Bertengger manja di pangkuannya, mulai menggulirkan pisau cukur.


“Hati-hati ya, Sayang. Aku takut tajamnya pisau cukur melukai jarimu.”


“Iya, iya. Jangan bawel terus, aku pasti hati-hati. Makanya Masnya diem,” sahut Tya gembira.


Meski ngeri-ngeri sedap, Bisma mengiyakan kata-kata Tya. Bukan hanya takut jari Tya terluka, tetapi ia juga ngeri wajah tampannya tergores pisau. Namun, mau bagaimana lagi selain diam dan menyerah daripada Tya badmood.


Sepertinya di fase mengidam ini membuat tabiat Tya terkadang tak biasa yang diiringi permintaan tak biasa pula. Seperti tengah malam kemarin sekitar pukul dua pagi, Tya mendadak bangun dari tidurnya dan menangis ingin makan cilok bumbu kacang.


Beruntung bahan makanan yang tersedia di dapur vila masih memungkinkan untuk memenuhi keinginnan Tya. Teh Erna sigap membuatkan dan Bisma pun ikut turun tangan. Membuat semangkuk cilok bumbu kacang di dini hari yang langsung disantap Tya dengan lahap.


Tya juga jadi lebih sering ingin bermanja-manja padanya, posesif, bahkan mudah berkaca-kaca yang sama sekali sangat tidak mencerminkan seorang Tya yang tangguh dan kuat. Kata Teh Erna, biasanya itu bawaan bayi.


“Nah, selesai deh. Kalau gini kan makin ganteng,” guman Tya semringah bersamaan dengan Bisma yang bernapas lega karena akhirnya momen mendebarkan yang terasa horor telah berlalu.


“Kamu suka?” kata Bisma mendongak, kemudian memeluk Tya yang duduk di pangkuannya lebih merapat.


Pertanyaan Bisma malah membuat Tya mengerutkan kening. Tya meraba-raba rahang suaminya. Mengamati lekat dengan dahi yang semakin terlipat dalam.


“Kenapa, Sayang. Ada apa?” tanya Bisma keheranan saat melihat raut cantik istrinya yang tampak aneh.


“Aku kayaknya lebih suka jambang Mas yang kayak tadi deh. Kenapa setelah dicukur jadi enggak ada sensasi berpasirnya di tanganku? Gimana cara balikinnya biar kayak tadi lagi?” ujarnya tanpa dosa, agak memaksa, membuat Bisma kebingungan harus menjawab apa, takut salah bicara.


Bersambung.