
Sinful Angel Bab 129
Kedua mata Bisma memicing bersama sepasang alis tebalnya yang ikut bertaut. Mengerjap beberapa kali mencerna kalimat Tya untuk sesaat lantaran dibuat bingung dan akhirnya dia memahami apa yang sedang terjadi, pasti Tya mengira yang sedang berlangsung sekarang hanya mimpi.
“Oh iya, aku lupa. Ya sudah, kalau begitu peluk saja,” cicit Bisma penuh pemakluman.
"Boleh cium," pinta Tya tiba-tiba. Menengadah penuh harap. "Aku kangen dicium sayang," ujarnya tak malu-malu sebab mengira sedang mencicipi bunga tidur.
Bisma mengulas senyum. Pandangannya kian melembut. Membelai pipi Tya mesra dan menyahuti, "Dengan senang hati, Cantik."
Bisma lebih membungkuk, menahan tengkuk Tya. Memberikan apa yang Tya mau yang disambut dengan pagutan penuh kerinduan. Bukan ciuman berhasrat, melainkan cerminan tumpahan rindu menggebu tertahan dari keduanya.
Tya merapatkan diri lagi setelah kecupan disudahi. Senyum bahagia terukir cantik meski wajahnya masih pucat.
"Dedeknya enggak disapa?" kata Tya kemudian. Meraba perutnya sendiri. "Dia pasti kangen berat sama papanya. Kayak mamanya."
Bisma lagi-lagi tersenyum hangat. Membiarkan Tya mengira saat ini hanya mimpi, tak ingin merusak suasana hati wanita yang tengah kepayahan mengandung si buah hati.
Telapak tangan Bisma membelai perut Tya. mengelus-elus di sana sembari menyapa. "Assalamu'alaikum, anak Papa. Sehat selalu di dalam sana, Sayangku."
Kondisi kamar yang sengaja hanya menyisakan lampu temaram agar tidur Tya tak terganggu silau lampu utama, membuat Tya tidak menyadari saat ini dirinya tengah berada di rumah sakit. Bahkan infus di tangan kirinya pun luput dari perhatiannya saking senangnya dengan mimpi yang sedang dialaminya. Lebih tepatnya kenyataan yang dianggapnya mimpi.
“Walaupun cuma mimpi, aroma Mas ampuh meredakan mual menyiksa yang mengamuk di lambungku juga pusing hebat di kepalaku. Sering-sering datang di mimpiku ya, Mas adalah obat terampuh yang ada di dunia buatku, sepertinya anak kita marah padaku karena aku membuatnya jauh dari papanya. Sebenarnya aku ingin bilang sangat berat dan menyiksa rasanya mengarungi kehidupan jauh darimu. Tapi dengan Mas datang dalam mimpiku seperti ini pun sudah cukup, setidaknya mampu mengobati kerinduan menggunungku. Baju Mas yang aku bawa sudah mulai kehilangan khasiat ampuhnya, mungkin karena sudah sering dicuci, jadinya aroma Mas yang kusuka mulai luntur dan tidak tercium lagi.”
Tya menderaikan siksa merindu di hatinya panjang lebar tanpa ragu. Sampai hal-hal kecil pun diceritakan. Bertutur keluh kesahnya tanpa beban dan Bisma setia mendengarkan sembari mengusap-usap punggung Tya penuh sayang juga memijat lembut kepala Tya.
“Curhat dalam mimpi kali ini membuat beban kerinduan menggila di dadaku terasa lebih ringan. Makasih ya, Mas. Walaupun cuma mimpi, aku sangat-sangat bahagia. Semoga setiap malam mimpiku selalu begini ya, Mas. Supaya aku bisa mencurahkan rindu beratku,” cicit Tya lagi. Menatap Bisma dengan sorot memohon.
Bisma melabuhkan bibir di kelopak mata teduh yang menatapnya lugu itu. Juga mendaratkan kecupan manis di ujung hidung bangir sang istri.
“Kupastikan mulai malam ini dan seterusnya, mimpimu akan selalu begini, Sayang.”
Dengan senyum merekah seindah kuncup bunga mekar di pagi hari, Tya menenggelamkan diri di pelukan Bisma sedalam-dalamnya. “Janji ya, Mas.”
Mata Tya akhirnya memejam lagi. Deru napasnya kembali halus teratur, pertanda Tya sudah jatuh kembali dalam lelap seperti sebelumnya. Bisma memandangi wajah Tya yang tertidur lekat-lekat dan lagi-lagi mengecupi wajah Tya penuh sayang.
*****
Pagi-pagi sekali Farhana datang kembali ke rumah sakit. Viona menyambut kedatangan Farhana dan mengajak sarapan bersama di kedai bubur ayam kampung yang berlokasi di seberang rumah sakit. Ingin menjamu Farhana meski dalam situasi darurat.
“Tidak usah repot-repot, Bu Viona. Saya bisa sarapan di sekolah. Sengaja datang pagi-pagi ke sini buat nganter barang-barang Tya karena siang nanti saya harus mengajar dan sudah ada jadwal mengisi kajian sampai sore,” ucap Farhana menjelaskan seraya menyerahkan sebuah kantung belanja yang terbuat dari kanvas berisi barang-barang Tya.
“Sama sekali tidak merepotkan, sekalian saya sarapan juga. Maaf, hanya sarapan sederhana. Setelah Tya pulih, saya ingin mengundang Ustadzah makan di rumah sambil berdo’a bersama. Mungkin bisa sambil selamatan empat bulanan kandungan Tya,” tukas Viona yang kemudian memesan menu sarapan bubur komplit untuk mereka berdua lengkap dengan teh tubruk panasnya.
“Jadi ini isinya barang-barang milik Tya?” tanya Viona sembari membuka tas kanvas tersebut.
“Iya, Bu. Saya sudah memastikan membawa semuanya.”
Saat membuka lebar tas tersebut. Isinya membuat Viona nyaris menangis karena tidak ada kemewahan yang Tya bawa dari rumah Bisma. Hanya membawa perintilan sederhana lagi secuil untuk pergi dan bertahan hidup.
Isinya hanya satu setel mukena parasut, beberapa potong baju muslim, satu buah stoples bekas sosis siap makan berisi uang, dompet usang dan satu potong kaus polo laki-laki.
“Ustadzah, kenapa ada kaus polo laki-laki? Apakah Ustadzah salah memasukkan barang ke dalam kantung ini? Kayaknya bukan punya Tya.”
Kehadiran sepotong kaus di dalam kantung membuat Viona mengernyit penuh tanya. Mengeluarkan baju tersebut dan menunjukkannya pada Farhana.
“Kaus itu yang saya ceritakan semalam, Bu. Kata Tya ini adalah kaus suaminya. Baju yang dipeluknya setiap malam,” jawab Farhana yang menggali lagi ingatan obrolan mereka semalam. “Biasa dipeluk saat tidur dan dihirup ketika mual itu yang saya perhatikan. Yang membuat saya tak tega adalah, setiap kali baju ini dicuci Tya menungguinya hingga kering. Menjaganya posesif, sangat takut kehilangan. Kata Tya, baju ini barang berharga.”
“Lalu toples berisi uang ini apa maksudnya?” Viona menunjuk si stoples bertutup oranye di dalam tas.
“Itu keuntungan dari hasil penjualan. Tya sangat berhemat, begitu gigih ingin punya tabungan. Tapi yang membuat saya terharu, dia menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli beras dan mengisi wadah beras milik saya. Kata Tya, ingin ikut berkontribusi walaupun hanya sedikit. Dan selama tinggal dengan saya, Tya bersikeras mengerjakan pekerjaan rumah meskipun saya melarang keras karena kondisinya sedang mula muntah mengidam. Katanya sebagai biaya sewa menumpang tidur. Sungguh pekerja keras di balik raga lembut dan ayunya.”
Tak terasa buliran hangat yang memanas di kelopak mata Viona luruh membasahi pipi. Bukan air mata kesedihan, justru air mata haru dan penuh syukur. Putranya memang bukan mempersunting bunga indah nan suci murni tanpa jejak noda dan dosa, tetapi Tya lebih berharga dan bernilai dari Prita yang konon katanya keturunan terhormat.
Bersambung.