
Sinful Angel Bab 160
Benih kesombongan dan keserakahan dalam dada, merupakan paket komplit yang ketika akhirnya meledak meluluh lantakkan si empunya di saat waktunya memanen. Seperti yang dialami seorang wanita berambut coklat yang pasca melahirkan disuguhi kejadian demi kejadan buruk tak terduga menimpa hidupnya. Terus saja dihadapkan dengan situasi badai berpetir, tak mendapat curahan pelangi nan indah lumrahnya para ibu yang baru saja melahirkan.
Prita sudah diperbolehkan pulang setelah hampir seminggu di rumah sakit, sedangkan bayinya masih belum bisa ikut pulang. Prita hanya pernah melihat anaknya sekali dan terlihat tak tertarik, dibutakan kemarahan menggebu pada ayah dari si bayi, menggerus rasa cinta seorang ibu yang seharusnya terenyuh saat melihat anak yang dilahirkannya susah payah itu tertangkap ruang pandang.
“Ibu serius mau berangkat ke Magelang dalam kondisi seperti ini?” tanya Rini begitu mereka sampai di kediaman Prita dan mendaratkan pinggul di ruang tamu.
“Iya, Rin. Tapi tidak sekarang, mungkin minggu depan setelah badanku lebih enakan,” sahut Prita lemah, bukan membentak dengan nada tinggi seperti yang biasa dilakukannya. “Bagaimana dengan perusahaan?”
Rini menghela napas berat, terdiam sejenak sebelum menjawab. “Sepertinya yang harus dipikirkan Sinar Abadi sekarang adalah perihal dana pesangon untuk seluruh karyawan.”
Prita membuang napas lelah, bersandar dengan kedua mata memejam sembari mengelus lembut pada bagian bekas sayatan operasi di perutnya. Mungkinkah sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada perusahaan yang pernah dirampasnya dari Bisma? Beginikah akhir kisahnya? Bangkrut, diselingkuhi, ditipu dan ditinggalkan dalam kondisi hancur. Seperti halnya yang dirasakan Bisma dahulu.
Baru terasa, gumpalan penyesalan di dada semakin nyata. Jika Bisma masih menjadi suaminya, saat ini pasti dia sedang mereguk bahagia sempurna setelah melahirkan bayi yang dikandungnya. Namun, apa mau dikata. Semuanya hancur karena ambisi ingin menguasai, disilaukan singgasana tertinggi.
“Tentang si bajingan itu, apakah sudah ditemukan di mana dia sekarang dan dengan betina mana di bermain gila?”
Rini menggelengkan kepala. “Pak Radhika seolah hilang ditelan bumi. Mobil yang dipakainya terakhir kali berangkat dari sini pun sudah berpindah tangan, sudah dijual. Sedangkan tentang wanita yang bersamanya, berdasarkan informasi yang masuk, ada yang pernah melihat bapak menggandeng wanita keluar dari sebuah hotel bintang lima di Bandung bulan lalu. Si saksi mata ini tidak begitu yakin karena si wanita memakai masker, tetapi mirip dengan seorang model yang juga menjadi salah satu Brand Ambassador perusahaan air mineral yang sebelumnya dipimpin Pak Markus. Namanya Cyra Fransiska, tapi sayangnya si model itu sudah berakhir kontraknya dengan perusahaan tersebut di pertengahan bulan.”
“Pak Markus?” Prita menukas waspada. “Rini, ambilkan ponselku dan sambungkan dengan nomor kantor Pak Markus sebab nomor pribadinya yang lama sudah tidak aktif. Selain untuk mengorek informasi tentang si laki-laki tak berguna itu juga gundiknya, aku mau meminta bantuannya terkait persoalan somasi yang dilayangkan Bisma,” perintahnya tak sabaran.
Prita bermaksud meminta Markus untuk memberikan keterangan pada publik karena dirinya pun mendapatkan informasi masa lalu Tya dari Markus. Informasi yang dipakainya sebagai senjata yang kini malah menjadi bumerang untuknya.
“Maaf sekali, Bu. Tapi Pak Markus sudah tidak mengelola perusahaan air mineral lagi. Beliau sekeluarga pindah ke Batam dan mengelola restoran milik mertuanya yang ada di sana bersama dengan istrinya. Mungkin itulah faktor penyebab nomor pribadinya tidak aktif lagi. Saran saya, lebih baik sekarang ini Anda fokus pada bayi Anda dan kondisi Anda sendiri. Jangan sampai ada penyesalan lain di kemudian hari.”
Prita tergugu dan kembali menangis. Semua harapan meminta bantuan punah. Bahkan ayahnya yang biasanya selalu mengusahakan yang diinginkannya meskipun hal tersebut melanggar, kini tak berdaya. Tak mampu menolong diri sendiri apalagi dirinya.
*****
Pandangan Prita menerawang ke luar jendela melalui kaca yang dibelai air hujan. Menyapu pada kepadatan tol dalam kota saat mobilnya akhirnya memasuki kembali kawasan Jakarta.
Matanya yang sembab memandang nanar. Merenungi nasibnya yang benar-benar jungkir balik. Sinar Abadi yang jaya itu kini tinggal kenangan, selain harus menanggung kehancurannya sendiri, dia juga dihadapkan dengan kenyataan lain yang tak kalah beratnya.
Prita baru mengetahui bahwasanya lembaga hukum milik ayahnya bermasalah. Sehingga seluruh aset berharga sang ayah kini berada di bawah penyelidikan pihak berwajib tepat satu hari sebelum ayahnya mengembuskan napas terakhir. Boro-boro mendapat warisan, seluruh aset terancam hilang dari genggaman jika terbukti aset-aset tersebut berasal dari fee dan money laundry dari beberapa pejabat korup yang menjadi klien ayahnya, membuat ibu tirinya terus menangis karena takut kehilangan harta yang dinikmatinya selama ini, lebih berduka ketimbang kehilangan sang suami.
Aset tersisa milik Prita pibadi hanya tinggal rumah yang ditempati dan satu unit kendaraan yang dipakainya sekarang. Mercy hitam hadiah dari Bisma untuknya dulu yang murni miliknya seutuhnya. Sementara untuk bangunan rumah mewahnya, Prita masih memiliki tanggungan pembayaran kepada develover dan pihak pemborong yang baru dibayar separuh. Sedang mempertimbankan untuk menjualnya demi membayar sisa tanggungan dan berharap sisanya masih bisa dijadikan pegangan bekal kehidupannya ke depan yang entah akan seperti apa.
“Rin, sesampainya di Jakarta kita ke rumah sakit. Kata dokter, hari ini putraku kemungkinan sudah bisa dibawa pulang,” kata Prita dari kursi tengah pada Rini yang duduk di jok depan bersebelahan dengan sopir sewaan.
“Baik, Bu. Semoga bayi Anda sudah sepenuhnya sehat.”
“Setelah aku sampai di rumah sakit, bisakah kamu mencari tukang pembuat spanduk yang bisa membuat banner dalam waktu cepat? Aku ingin bannernya selesai besok.”
Rini menoleh ke belakang. “Memangnya buat apa, Bu?” tukas Rini penasaran.
“Aku ingin menjual rumahku. Dijual cepat saja. Tolong bantu uruskan ya, sampai benar-benar terjual. Untuk sekarang aku masih sangat butuh bantuanmu, kondisiku yang belum pulih benar tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Setelah rumah terjual, keterikatanmu padaku selesai. Kamu bebas mencari pekerjaan lain karena aku pasti tidak bisa menggajimu lagi.”
Rini menatap prihatin. Prita yang arogan tidak ada lagi. Hanya ada wanita yang kini sebatangkara juga hancur.
“Saya akan tetap menjaga ibu walaupun saya bekerja dengan orang lain. Seperti pesan bapak saya di kampung. Dulu sewaktu saya pertama kali bekerja dan ditunjuk menjadi manajer Ibu dari agensi model yang menaungi Ibu kala itu. Sewaktu saya masih sangat amatir dalam dunia kerja dan sempat melakukan kesalahan yang mengakibatkan salah satu rancangan gaun yang akan dipamerkan di catwalk rusak, Anda lah yang membela saya supaya tidak dipecat. Anda juga menyerahkan semua honor hari itu untuk membayar biaya rumah sakit ayah saya karena gaji saya bulan itu tak dibayarkan agensi sebagai sangsi,” tutur Rini yang kembali mengenang masa-masa itu. Masa di mana Prita walaupun agak liar tetap memiliki sisi lembut hati sebelum akhirnya ketamakan membinasakannya.
Gurat tipis sekilas terukir di wajah Prita yang terlihat makin tirus itu. Rini masih mengingat moment bertahun-tahun silam itu yang Prita sendiri padahal sudah tidak ingat. Rini mengulas senyum begitu juga Prita, lantas Prita kembali fokus menatap ke luar jendela.
Bersambung.