Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 122



Sinful Angel Bab 122


Tiga hari tiga malam Bisma dirawat inap di rumah sakit dan sore ini dia sudah diperbolehkan pulang. Viona pun sama, akhirnya beranjak pulih meski belum sepenuhnya, sama-sama sudah boleh pulang ke rumah.


Bisma baru sampai di tempat tinggalnya diantar Arkana, Poppy dan Vero. Arkana berpamitan lebih dulu setelah berbincang dengan Bisma, tak lupa memastikan kebutuhan pemulihan adik iparnya itu sudah lengkap tersedia.


Arkana langsung meluncur ke rumah ibu mertuanya, untuk membantu Nara menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk pemulihan Viona pasca pulang dari rumah sakit. Memang sudah ada ART yang melayani, tetapi Arkana dan Nara tetap ingin mencurahkan perhatian secara langsung pada orang tua mereka.


Semula, Viona meminta Bisma tinggal di rumah bundanya itu sampai masa pemulihan rampung. Memulihkan kesehatan bersama-sama. Akan tetapi, Bisma tetap meminta pulang ke kediamannya. Dia ingin berada di rumahnya, berjaga-jaga andai Tya memutuskan untuk kembali pulang. Jika itu terjadi, dia ingin menjadi orang pertama yang menyambut, menghadiahkan peluk cium pada si separuh napasnya juga si buah hati.


Teh Erna dan Mang Eko sengaja pulang lebih dulu tadi siang setelah diberitahu hari ini Bisma akan pulang dari rumah sakit. Mang Eko berbenah rumah maksimal sedangkan Teh Erna merapikan kamar Bisma dan menyiapkan makanan sehat utuk tuannya.


Teh Erna memasak menu sesuai pesan dokter yang mengharuskan Bisma makan bubur dulu untuk beberapa hari ke depan, mengingat lambung sang tuan masih dalam masa pemulihan. Efek dari beban pikiran tekanan batin yang merana mendalam.


Poppy bergabung ke dapur, mengecek makanan yang dimasak Teh Erna untuk bosnya. Sementara Vero memapah Bisma yang ingin pindah ke kamar dari sofa malas di living room.


“Bro, bisa tolong bantu carikan Tya? Lebih banyak yang mencari lebih bagus bukan? Aku harus segera menemukan istriku,” pintanya pada Vero setelah dirinya rebah sempurna di kasur.


“Sebelum diminta pun, aku sudah menyuruh orang-orang kepercayaanku membantu mencarikan mulai kemarin. Kemarin malam aku mengetahui kabar sakitmu dari Kak Nara beserta alasannya, saat menginformasikan padaku bahwa pesta resepsimu dibatalkan. Juga, aku akan membantu memastikan perginya Tya dari rumah tidak sampai beredar di luar. Semoga pencarian kita segera membuahkan hasil, semoga Tya segera ditemukan dan kembali pulang sebelum kabar ini terendus publik,” jawab Vero yang duduk di tepi ranjang panjang lebar.


“Thanks, Bro. Tya sedang hamil dan pergi hanya membawa secuil uang yang bahkan untuk mengisi bensin mobil-mobilku pun takkan cukup. Mau ke mana tujuannya sedangkan Tya tak punya sanak saudara. Bagaimana kalau Tya kepanasan dan kehujanan di luar sana sementara aku berada di tempat teduh terlindung dari panas dan hujan? Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat? Sulit sekali rasanya memaksa diri ini bersabar menunggu lebih lama lagi. Ini menyiksa," keluhnya perih, frustrasi.


“Makanya, kamu harus berusaha cepat sembuh. Butuh badan yang kuat dan sehat untuk mencari keberadaan istrimu lebih maksimal. Untuk sekarang, fokus pada pemulihan. Kamu masih bisa menjaga mereka berdua lewat do’a. Memohon kasih sayang Allah menjagakan anak dan istrimu di luar sana, dilindungi dari marabahaya di manapun berada.”


Vero memberi wejangan juga kata penghiburan. Vero tahu ini tak mudah bagi Bisma. Terlebih lagi Tya pergi dengan membawa keturunan yang diimpikan dan didambakan seorang Bisma sejak lama.


“Aamiin. Lindungi anak dan istriku, Ya Allah,” lirih Bisma sembari menangkupkan telapak tangan ke wajahnya.


Vero undur diri setelah berbicang disisipi kelakar penghiburan. Giliran Poppy yang kini masuk ke kamar Bisma, tak lupa tetap membiarkan pintu terbuka lebar, berdiri di sisi ranjang.


Seperti permintaan Bisma tadi, meskipun masih belum pulih, bosnya itu meminta laporan terkait urusan perusahaan beberapa hari belakangan.


Selepas efek syok yang dialaminya sedikit mengendur, Bisma teringat akan tanggung jawab besar lainnya selain kepada Tya, yaitu tentang tanggung jawabnya terhadap Agra Prime.


“Pak, ada kabar baik. Hampir separuh dari mitra Pak Radhika ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan kita. Mereka mengeluhkan produk teh Sinar Abadi semakin hari kualitasnya terus menurun, berefek pada citarasa yang tentu ikut berubah. Seolah ada yang hilang, tak seperti dulu lagi. Mereka mengaku sempat ragu pada awalnya, underestimate terhadap produk teh Agra Prime yang terbilang masih baru. Tapi setelah mereka menguji kualitas dan citarasa produk kita beberapa kali, mereka bilang menemukan rasa yang hilang itu dalam teh produksi Agra Prime.”


Poppy bertutur panjang lebar pada Bisma yang duduk bersandar dengan macbook di pangkuan. Telinga Bisma mendengarkan saksama sembari tetap fokus pada layar, menampilkan laporan-laporan yang sudah dirangkum Poppy beberapa hari ini.


Bertambahnya lagi permintaan produk dan perusahaan yang ingin bermitra menjadi pertanda bahwa usaha kerasnya bangkit kembali berbuah lebat. Benar kata Poppy, ini merupakan kabar baik di tengah jiwa raga dirundung gundah gulana kecemasan hebat, sedang dalam fase belum membaik sepenuhnya.


“Seleksi ketat pengajuan kerjasama. Telusuri track record juga pemilik asli perusahaan-perusahaan yang meminta bermitra dan laporkan padaku hari Senin nanti. Meningkatnya minat memang kabar baik, tapi kita tetap harus selektif memilih. Berkaca dari pengalamanku dulu, jangan sampai terjadi hal yang sama lagi. Berjaga-jaga kemungkinan ada kaki tangan Radhika dan Prita yang menyusup untuk bermitra,” titah Bisma pada Poppy yang mendengarkan dengan patuh.


“Baik, Pak. Saya pastikan, hari Senin pagi laporannya sudah siap,” jawab Poppy cepat. “Ada lagi yang ingin Anda tanyakan, Pak? Atau, Anda butuh sesuatu?”


Bisma menutup macbook, menaruhnya di atas bantal.


“Tentang pencarian istriku, apakah sudah membuahkan hasil?” tanya Bisma kemudian, nada bicaranya kentara sangat khawatir juga tak sabar.


Poppy menghela napas. Menggeleng pelan walaupun tak tega saat melihat ekspresi bosnya, sangat tercetak jelas mengharapkan kabar baik.


“Belum, Pak. Semoga segera ada kabar baik.”


Menjelang Magrib, Poppy berpamitan pulang. Bisma gegas mengambil air wudhu saat terdengar adzan berkumandang. Menghamparkan sajadah dan melaksanakan tiga rakaat di rumah saja mengingat kondisinya masih belum sembuh benar. Berdzkikir dan mengambil mushaf untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an seperti rutinitasnya sejak dulu.


Namun, gerakannya terhenti saat di dekat mushaf miliknya, perlengkapan belajar membaca Al-Qur’an milik Tya tertata rapi di sana, bersebelahan dengan mukena juga tasbih yang biasa Tya pakai.


Seketika rindu menyiksa itu kembali menyeruak. Bayang-bayang Tya yang semangat diajari mengaji, bagaimana senyumanya terukir cantik saat berhasil membaca dengan benar, bagaimana bawelnya Tya yang bertanya ingin tahu banyak tentang ilmu agama, semuanya berlalu lalang dalam benak.


Sembari memeluk mushafnya, Bisma bersandar pada dinding kamar. Pandangan nanarnya mengedar ke seluruh kamar dan bayang-bayang Tya semakin memenuhi ruang pandangnya.


Bayangan Tya yang bertelanjang kaki ke sana kemari menyiapkan baju kerjanya. Bayangan Tya yang membantunya berpakaian. Bahkan bayangan Tya yang sedang membuainya saling mencurahkan cinta di atas peraduan, semuanya bergulung-gulung hebat di kepalanya. Menciptakan pusaran bak angin topan, menyapu benteng kesabaran penantiannya yang teramat rapuh hingga porak-poranda.


“Sayang, kamu di mana? Pulanglah, aku hampa tanpamu,” rintihnya pilu.


Bersambung.