
Sinful Angel Bab 107
Di selasar rumah sakit Satya Medika, Bisma berlarian dengan ponsel menempel di telinga. Dia menghubungi nomor Nara lantaran pesan yang dikirimkannya masih belum dibaca dan dibalas.
Bisma datang mendadak ke rumah sakit di sore ini setelah kakaknya tiba-tiba mengabari bahwa sang bunda harus dirawat inap. Membelokkan mobilnya yang sedang di perjalanan pulang, memutar arah dan tancap gas ke rumah sakit.
Bisma celingukan mencari keberadaan Nara. Bahunya ditepuk seseorang di belakangnya dan ternyata kakak iparnya sudah berada di balik punggungnya.
“Bang, Bunda dirawat di ruangan apa?” cecar Bisma tak sabaran.
“Bunda diopname di lantai tiga. Di kamar 323. Nara meminta Abang menjemputmu di sini. Ayo kita ke atas sama-sama.”
Nara keluar dari salah satu kamar perawatan VVIP bertepatan dengan Bisma dan Arkana yang sampai di sana. Nara yang melihat kedatangan adiknya gegas mendekat.
“Gimana kondisi Bunda, Kak?” sembur Bisma khawatir bukan kepalang. Napasnya tersengal akibat berlarian.
“Belum bisa dikatakan baik, tapi sekarang jauh lebih tenang. Tadi Bunda hampir pingsan di rumah karena sejak semalam menolak makan. Jadinya gerdnya kumat. Untung Kakak nungguin bunda di rumah,” sahut Nara menenangkan sembari menepuk-nepuk pundak adiknya.
Bisma hendak memutar gagang pintu, tetapi ditahan cepat oleh Nara. “Mau ke mana?” tanyanya.
“Aku mau masuk, Kak. Mau lihat keadaan bunda,” kata Bisma tak sabaran.
Nara menghela napas panjang. “Sebaiknya jangan dulu. Nanti emosi bunda malah makin menjadi kalau lihat kamu. Tunggu sampai bunda lebih tenang barulah temui bunda. Air yang sedang keruh sebaiknya jangan terus diaduk, malah makin keruh. Dibiarkan tenang lebih baik, supaya jernih kembali,” Nara memberi saran.
“Abang sarankan juga begitu. Setelah bunda lebih tenang, barulah kita duduk bersama memberi pengertian dan membujuk bunda. Berikan bunda waktu, Abang yakin kalau kita berusaha tetap dengan kepala dingin, lambat laun bunda pasti memahami keputusan serta sudut pandangmu dan kita sangat berharap bunda pun bisa menerima Tya. Bagaimanapun juga sekarang Tya adalah istrimu.”
“Tapi aku ingin menemui bunda sebentar saja. Aku cuma ingin melihat,” pinta Bisma sedikit memaksa.
“Bersabarlah. Saat ini biarkan bunda sendiri dulu. Pasti tidak mudah bagi Bunda saat dihadapkan pada fakta mencengangkan. Tapi, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, baik bunda maupun Tya juga kita sama-sama memiliki kekurangan. Bunda pun berhak memiliki persepsi sendiri begitu juga kamu.” Arkana kembali bersuara, seperti biasa, kakak iparnya ini merupakan penengah yang bijak.
Bisma menggulirkan mata menatap Nara dan Arkana bergantian. “Kakak dan Abang sudah tahu duduk permasalahannya?”
Nara dan Arkana mengangguk-anggukan kepala berbarengan.
“Abang tahu dari Nara.”
“Ya, kami sudah tahu. Bunda bercerita panjang lebar tadi pagi dan Kakak juga sudah membaca hasil penyelidikan detektif yang disewa bunda. Sebagai seorang ibu, Kakak paham bagaimana perasaan kecewa Bunda saat ini. Tapi, Tya juga enggak bisa disalahkan di sini. Setelah membaca riwayat hidup Tya, justru Kakak merasa prihatin padanya. Intinya, kamu dan Tya sepertinya harus berusaha lebih keras lagi meluluhkan hati bunda. Juga dari sudut pandang Kakak dan Mas Arka, terlepas dari masa lalu Tya, kami menilai Tya ini anak yang baik dan tulus. Enggak aji mumpung saat kamu peristri juga menyenangkan beripar dengannya.”
Nara bertutur sembari mengulas senyum menghibur. Paham akan kegundahan dan kesulitan yang tengah dihadapi adiknya.
Bisma menjauh sedikit dari Nara dan Arkana. Membuka ponselnya dan menghubungi nomor Tya. Benar kata Arkana, Tya pasti cemas menunggunya, padahal sebelum melajukan mobilnya dari kantor tadi, Bisma sudah mengirimkan pesan pada Tya bahwa dia sudah pulang dari perusahaan.
Sementara itu di rumah, Tya sedang mondar-mandir di teras sembari memegangi ponsel, menunggu kedatangan suaminya.
Berkali-kali melongokkan kepala setiap kali terdengar deru mesin mobil yang lewat. Mulai dilanda cemas takut terjadi hal buruk di jalanan, lantaran Bisma masih belum muncul padahal sudah satu jam berlalu dari waktu Bisma mengirimkan pesan padanya.
Buru-buru Tya mengangkat panggilan saat gawai di tangannya berdering memunculkan nama ‘Suamiku’ di layar, mengucap salam disusul berondongan pertanyaan.
“Kenapa masih belum sampai? Mas enggak kenapa-napa di jalan kan?” seloroh Tya cemas.
“Aku baik-baik saja, Sayang. Maaf, mendadak ada pekerjaan susulan, jadinya aku puter balik lagi ke kantor. Mungkin sekitar jam tujuh atau jam delapan aku pulang. Makan malam duluan saja, jangan telat makan, kamu harus jaga kesehatan.”
Bisma tak mengatakan hal yang sebenarnya. Mengingat Tya juga belum seratus persen pulih, Bisma tidak ingin istrinya itu terbebani beban pikiran berat untuk saat ini.
“Syukurlah kalau Mas baik-baik saja. Sesibuk apapun, Mas juga jangan sampai melewatkan makan malam. Mau kuantar makanan ke kantor? Kebetulan aku dan Teh Erna sudah masak ikan bakar kesukaan Mas. Nanti biar Mang Eko yang antar.”
“Enggak usah, Sayang. Nanti biar aku makan di rumah saja.”
“Tapi nanti keburu lewat jam makan malam. Aku takut Mas jatuh sakit.”
“Tenang saja. Aku bisa beli camilan berat dulu untuk pengganjal lapar. Biar makan malam tetap di rumah.”
“Ya sudah. Beneran ya, makan camilan dulu. Semoga pekerjaannya lancar biar Mas bisa segera pulang. Aku menunggu, kangen berat. Selamat bekerja Sayangku.”
Tya tercenung di teras, menekuri ponselnya yang panggilan teleponnya telah disudahi. Bisma mungkin tidak menyadari bahwa ia menangkap suara lain selain suara sang suami.
Tya sangat yakin Bisma bukan sedang di kantor, tetapi di rumah sakit. Terdengar dari percakapan lain yang ikut terdengar oleh Tya meski samar, suara wanita dan pria yang membahas dan menyebut kata ‘bunda’ serta ‘opname’. Dan Tya lumayan familiar suara milik siapa yang bercakap-cakap tadi, itu adalah suara Nara dan Arkana.
Air muka Tya menyendu. Sudut matanya memanas.
“Bunda sampai masuk rumah sakit semua ini pasti gara-gara aku kan? Bunda dan Mas Bisma jadi berseteru juga gara-gara aku kan? Kapan kamu akan tersadar dengan posisimu, kenapa kamu masih kukuh ingin berada di sini? Di sini bukan tempat untukmu, Cintya. Kamu tidak layak ada di tengah-tengah Mas Bisma dan keluarganya. Kamu hanya jadi penyebab perpecahan hubungan ibu dan anak,” lirihnya sedih. Mulai menyalahkan diri.
“Mama harus bagaimana, Nak?” ucap Tya parau sembari mengelus perutnya sendiri.
Bersambung.