Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 123



Sinful Angel Bab 123


Di sebuah privat dining room sebuah restoran yang berada di salah satu hotel bintang lima di Kota Bandung, Markus dan Radhika juga Prita tampak sedang duduk bersama. Berbincang-bincang sambil menyantap makan malam.


Radhika dan Prita memang berkunjung ke daerah Bandung, tepatnya bagian kabupaten, ke salah satu perkebunan teh terbesar mereka yang terancam disita bank sebab hutang Sinar Abadi semakin membengkak. Kedatangan mereka ke Kota Kembang ini juga untuk menemui Markus, mereka sudah membuat janji bertemu sejak sebulan lalu dan baru terealisasi hari ini.


Markus menyandarkan punggung setelah membaca berkas yang diberikan Radhika. Menaruh di berkas itu kembali ke atas meja lantas memberikan tanggapan.


“Saya sih mau saja memasok air mineral untuk pabrik Sinar Abadi walaupun pembayaran ditangguhkan dengan tempo yang lebih panjang dibanding perusahaan lain yang bermitra. Tapi tentu saja harganya pun berubah, lebih mahal dari biasanya karena tempo pembayarannya berbeda dari yang lainnya. Jadi dua kali lipat. Bagaimana, Pak Radhika? Apakah Anda bersedia?” Markus membuka penawaran terkait negosiasi masalah tempo pembayaran yang diajukan Radhika dan Prita.


Suami istri di hadapan Markus terlihat saling berbisik, berdiskusi sebelum menjawab. Lumayan lama, sepertinya terjadi adu argumen.


“Tak masalah, Pak. Yang penting jangan lupa air mineral untuk kami dipastikan berkualitas terbaik. Harus lebih baik dari yang dipakai perusahaan-perusahaan serupa. Kami ingin produk minuman baru yang akan diriliskan bulan depan benar-benar berkualitas unggulan,” cerocos Prita cepat. Tak peduli dengan hutang pada Markus nantinya jelas-jelas mencekik.


Prita dan Radhika benar-benar sedang kesulitan sekarang. Perkebunan utama teh Sinar Abadi dari semula yang berjumlah empat, kini hanya tersisa dua. Yang dua sudah dijual dan tentu berimbas pada kekurangan bahan baku.


Selain untuk menutup krisis keuangan perusahaan, mereka menjualnya demi menekan biaya produksi, yakni pada berkurangnya biaya pemeliharaan perkebunan. Hanya saja kekurangan bahan baku menjadi masalah baru.


Alih-alih memperluas perkebunan, mereka memilih meminta pasokan bahan baku yang jelas beda kualitasnya dari perusahaan lain yang bergerak di bidang yang hampir serupa, dianggap lebih menguntungkan karena tak perlu repot-repot merogoh anggaran pemeliharaan perkebunan.


Keduanya tak peduli lagi pada kualitas dan citarasa khas. Yakin dengan pamor Sinar Abadi yang sudah berkibar jaya sejak lama, citarasa berubah pun takkan menjadi masalah besar dan yakin peminat Sinar Abadi akan tetap setia.


Di awal-awal bahan baku yang tidak lagi original, perusahaan-perusahaan yang sudah lama bermitra tidak mengutarakan keluhan apa pun terkait produksi teh mereka yang tak lagi sama kualitasnya. Radhika dan Prita serasa di atas angin, meraup keuntungan banyak dari modal yang lebih sedikit. Dihamburkan berlibur mewah ke luar negeri mengusung tema baby moon dan bermain judi di kasino. Dan yakin sisanya masih mampu menutupi hutang-hutang mereka yang jumlahnya sangat-sangat besar.


Hutang tersebut bukan hanya hutang untuk perusahaan, juga mencakup hutang investasi gagal, gaya hidup Prita yang selangit serta tuntutan ayahnya Prita si pengacara licik yang suka berfoya-foya. Si pengacara yang ikut berperan memakai cara kotor agar Prita dan Radhika berhasil merebut Sinar Abadi dari tangan Bisma.


Merasa aman-aman saja dan tergiur ingin meraup untung lebih banyak lagi, mereka pun meminta dipasok bahan baku berkualitas rendah itu lebih banyak dari sebelumnya. Dicampur dengan bahan baku dari perkebunan sendiri yang kualitasnya juga menurun akibat dari pemeliharan yang dipangkas anggaran perawatan kebunnya. Dicampur dalam persentase yang tidak seimbang, tujuh puluh bahan baku luar dicampur tiga puluh persen bahan baku milik sendiri. Bisa dibayangkan betapa rendah kualitas produk yang dihasilkan.


Namun, perkiraan mereka meleset jauh. Pada produksi gelombang kedua ini mereka merugi. Banyak mitra yang mengembalikan produk teh dalam jumlah besar membuat Prita dan Radhika kelabakan.


Kualitas buruk dan citarasa yang tak lagi sama merupakan rata-rata keluhan. Sekitar separuh dari perusahaan yang berkerjasama meminta uang mereka dikembalikan jika tak mampu mengganti dengan produk yang kulitasnya sama seperti sebelumnya. Sedangkan separuhnya masih termakan argumen Radhika juga Prita yang bermulut manis, beralasan menurunnya kualitas daun teh adalah akibat dari cuaca yang tahun ini tidak menentu sehingga berimbas pada kualitas teh.


“Tentu. Kulitas terbaik akan dikirimkan untuk Sinar Abadi. Tapi sebagai tanda jadi, jangan lupa dengan permintaan saya,” kata Markus yang kemudian meneguk minumannya dengan gaya congkaknya, menyeringai lebar setelah minumannya tertelan.


“Jangan khawatir, sudah kami siapkan, Pak Markus. Sebentar lagi mereka datang,” sahut Prita bersemangat.


Tak berselang lama, terdengar ketukan pada pintu privat room di mana mereka bertiga tengah makan. Dua orang wanita yang memakai baju kurang bahan dan terbuka di mana-mana masuk ke sana.


“Ini Pak Markus, layani dia dengan baik, bayaran kalian sudah saya transfer pada Mami kalian,” jelas Radhika pada dua orang wanita penghibur yang langsung menempel genit pada Markus.


Markus menatap lapar pada dua wanita cantik berbaju seksi itu. Kedua tangannya langsung merangkul para wanita yang duduk di sisi kiri dan kanannya.


“Coba tunjukkan pelayanan kalian. Apakah kalian benar yang terbaik?” titah Markus tak sabaran.


Salah satu wanita menuangkan minuman beralkohol ke gelas Markus. Yang satunya lagi memotongkan daging steak di piring Markus, menyuapi si pria jelalatan hidung belang itu dengan bahasa tubuh menggoda. Markus terbahak senang, meremas pinggang dan bokong dua wanita penghibur itu kurang ajar, bahkan tak ragu berciuman di depan Radhika dan Prita. Tak peduli jika orang di hadapannya merasa jijik.


“Untuk sekarang cukup. Pergilah ke kamar hotel di lantai empat, kamar yang sudah disiapkan Pak Radhika dan Bu Prita. Tunggu aku datang, manis. Persiapkan diri kalian,” oceh Markus penuh minat.


“Bagaimana, Pak Markus. Barangnya bagus kan?” tanya Prita yang menyeringai puas setelah menyaksikan bagaimana berliurnya Markus.


“Bisa dibilang, Wow. Mereka terlihat segar dan ranum, membuat saya kehausan,” kekeh Markus senang.


“Bisa kita buat berkas perjanjian kerjasamanya sekarang? Lebih cepat lebih baik bukan? Supaya Anda bisa segera bersenang-senang.” Radhika mendesak langsung saja, tak ingin membuang waktu. Memanfaatkan peluang saat Markus sedang oleng oleh para bunga malam yang baru saja tebar pesona.


“Tentu, akan saya minta sekretaris saya membawakan berkas perjanjian intinya sekarang. Tapi untuk berkas lengkapnya baru bisa selesai hari Senin nanti.” Markus menelepon sekretarisnya yang tadi dimintannya menunggu di lobi. Memintanya ikut masuk ke privat dining room dan tak lama kemudian si sekretaris segera menyiapkan berkas yang diperintahkan Markus.


“Pak Markus, saya dengar baru-baru ini Anda juga memasok untuk Agra Prime? Apakah mereka memakai air mineral kualitas terbaik juga atau malah memilih yang standar saja?” tanya Radhika yang tak membuang kesempatan mengorek-orek informasi. Mumpung Markus sedang tidak fokus karena terlihat jelas si pengusaha di hadapannya ini terlihat ingin segera berlari menyusul dua wanita tadi. Ingin mencari celah kekurangan Agra Prime yang sedang naik daun.


“Mereka juga memakai yang terbaik. Meminta dipasok air mineral dengan PH yang paling ideal untuk dipadukan dengan produk teh mereka pribadi sudah berjalan dua bulan ini. Dipakai untuk memproduksi teh kemasan siap minum berbagai varian dari Agra Prime yang sedang booming sekarang.”


Prita yang semula serius mendengarkan dan berharap menemukan celah kekurangan yang akan digunakannya untuk merusak pamor perusahaan si mantan suami, berdecak kecewa saat tidak menemukan apa yang dicarinya.


Selain rasa iri yang berkobar lantaran pamor mereka kini tak sejaya dulu, Prita dan Radhika dibuat kesal saat mendegar hampir separuh mitra mereka yang mengajukan kompalain berakhir memutus kerja sama dan memilih mengajukan kerjasama dengan perusahaan baru Bisma. Merasa ladang uang mereka dicuri, tak berkaca bahwa semua itu terjadi akibat ulah mereka sendiri, bahkan terlupa perusahaan yang mereka genggam pun adalah hasil mencuri.


“Bekerjasama dengan Pak Bisma itu memang termasuk tak banyak drama. Pembayaran pun dimuka. Hanya saja orangnya kurang asyik, terlalu bersih. Tidak seperti kalian yang memahami sisi lain dari saya,” kata Markus kemudian.


“Ahaha, Anda terlalu memuji. Tapi dia itu memang tak bersedia memahami sisi berbisnis dari segi ini. Pemikirannya terlalu lurus sejak dulu. Jadinya ya, kaku. Padahal, hal semacam ini sudah lumrah di kalangan pebisnis bukan?” ucap Radhika menjelekkan.


Rahika mengekeh mengejek Bisma, disusul Prita yang sama-sama tertawa remeh sembari mengelusi perutnya yang sudah membuncit saat bayinya di dalam sana mendadak menendang-nendang tak karuan, seolah tengah mengamuk.


Markus juga sudah tahu bahwa Prita ini mantan istri Bisma dan Radhika dulunya merupakan sabahat Bisma. Akan tetapi tentang masalah intern dua orang ini dengan Bisma di masa lalu, Markus sama sekali tak berminat ikut mengurusi. Yang terpenting baginya adalah meraup keuntungan sendiri, masa bodo dengan hal lain.


“Tapi, ada satu hal yang membuat benak saya dipenuhi tanda tanya tentang dia sekarang.” Markus tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. Otomatis Prita dan Radhika pun ikut melakukan hal yang sama.


“Tanda tanya bagaimana, Pak Markus?” sambar Prita cepat. Jelas tertarik dengan kalimat Markus, mengundang rasa penasarannya meluap-luap.


“Sebenarnya, ini sangat mencengangkan dan pasti kalian tidak akan percaya. Saat sosok pria seperti Pak Bisma yang naif dan kaku mendadak menikah dengan seorang wanita dalam tanda kutip, walaupun sekarang memang wanita itu jelas sudah berubah 180 derajat dari berbagai aspek,” sambung Markus menuturkan.


“Tanda kutip? Maksudnya bagaimana?” tukas Radhika tak sabaran.


Markus menegakkan kembali posisi duduknya. Tersenyum miring. “Kalian sudah pernah bertemu dengan istrinya Bisma yang sekarang?”


Prita dan Radhika mengangguk bersamaan. “Tentu saja kami pernah berjumpa. Memangnya kenapa?” balas Prita balik bertanya.


“Perlu kalian ketahui, istrinya Bisma dulunya adalah primadona sebuah kelab malam terbesar di Bandung yang digrebek kurang lebih dua tahun lalu, yang markasnya sekarang dihancurkan dan sedang dalam pembangunan untuk dijadikan lapangan olahraga oleh pemerintah setempat,” jawab Markus, membuat Prita dan Rahika membulatkan mata.


“Primadona kelab malam? Mak-maksudnya, istri Bisma yang sekarang itu dulunya adalah wanita malam?” Sorot mata Prita jelas bersorak berkilat-kilat mengiringi kalimatnya. Jika benar, ini merupakan celah yang empuk yang sedang dicarinya.


“Ya. Namanya Cintya Angela. Salah satu kupu-kupu malam tercantik dan terbaik yang pernah kutemui. Entah Cintya memang sudah berhenti dengan profesinya yang dulu, atau mungkin hanya menjadi gundiknya Pak Bisma sekarang. Sungguh mencengangkan bukan?"


Bersambung.