
Sinful Angel Bab 64
Bisma memerangkap Tya di bawah daksa tinggi tegapnya. Tya tampak tenggelam dalam kuasa gagah dengan otot lengan juga sixpack yang terbentuk pas sempurna.
Bisma menekan dan memperdalam pagutannya dengan napas memburu, terburu-buru. Tergulung gairah menggebu-gebu. Efek dari obat perangsang yang terlanjur mengontaminasi menyiksa tubuhnya, mendorongnya untuk melepas tuntutan dahsyat yang menggulung seluruh saraf dan pembuluh.
“Tenang, Mas. Tenang, pelan-pelan, saja, jangan terburu-buru” ucap Tya sembari mengelus-elus rambut Bisma lembut dengan napas tersengal, tepat saat Bisma melepaskan bibirnya dan kini menghidu rakus kulit lehernya. Saking kencangnya Bisma mencerup bibir merahnya, Tya merasakan bibirnya hampir kebas.
“Ma-maaf,” kata Bisma parau. Masih ingat meminta maaf di tengah nalar yang timbul tenggelam tergerus naluri. “A-aku kesulitan mengendalikan diri, Tya,” desahnya tersiksa dalam deru napas memburu, dadanya kembang kempis sementara bibir dan hidungnya menjelajah, mencumbu rakus agak kasar di sepanjang leher juga bahu Tya. Meninggalkan jejak, bukan hanya satu, tapi berjejak di setiap sesapan.
Tya terus membelai-belai rambut juga punggung Bisma dengan lembut. “Aku enggak apa-apa, Mas. Aku akan ikut membantu. Tapi berusahalah jangan tergesa-gesa, oke, suamiku?” kata Tya begitu saja, menyebut kata suamiku tanpa sadar. Tergerus tak tega mendengar geraman Bisma yang tersiksa. Tya menggulingkan posisi, sehingga kini Bisma lah yang berada di bawahnya.
Bisma yang terengah-engah mengangguk pelan. Kedua tangannya merangkul pinggang Tya dan meraba merajalela di sana. Bisma yang tampak sudah tak sanggup membendung setiap kedutan menuntut di sekujur tubuhnya, ternyata masih berusaha menahan diri saat ingin merenggut sepasang kain mini berenda yang masih melekat di tubuh Tya.
Paham dengan bahasa tubuh Bisma. Tya membukanya sendiri dan membuangnya sembarang, bahkan membantu Bisma melucuti jubah mandinya. Bola mata Bisma menggelap tergerus hasrat disuguhi keindahan yang seringkali membayanginya, membuatnya kesulitan tertidur.
“Lakukan apa yang Mas inginkan dan butuhkan? Bukankah aku ini istrimu? Lakukanlah, Sayang,” ucap Tya yang kemudian memasrahkan dirinya dengan rela disentuh cumbuan Bisma.
Tiga tahun menduda di usianya yang tengah produktif sisi kebutuhan batinnya, bukanlah perkara mudah dalam mengendalikan. Kali ini setelah sekian lama meski direcoki pengaruh obat, Bisma membebaskan sisi primitifnya yang sudah tertahan lama. Menumpahkannya pada Tya begitu dahsyat.
Mereka melebur untuk kali pertama. Mengusak ranjang dan mengusir selimut juga bantal guling hingga berserak di lantai. Geraman jantan memenuhi seantero kamar, berpadu erangan feminin yang lambat laun ikut terdengar.
Cuaca pantai yang panas, membuat Bisma kehausan. Setelah dirasa cukup menemani pengusaha dari Malaysia, Bisma mencari kafe di dekat pantai, bersantai di sana. Lagi-lagi Bisma bertemu Prita dan Radhika, sama-sama beristirahat dan memesan minuman dingin di sana. Hanya saja tempat duduk mereka berjauhan.
Bisma memesan jus jeruk. Segelas jus jeruk dingin langsung diteguknya hingga habis. Masih merasa belum cukup meredam dahaga, Bisma memesan lagi, dan entah kenapa setelah meminum gelas yang kedua, tubuhnya mendadak terasa aneh, mulai merasa ada yang tidak beres.
Dalam kesadaran yang timbul tenggelam. Bisma samar-samar melihat Radhika dan Prita menghampiri dan menawarkan bantuan. Awalnya hanya pusing seperti berkunang-kunang. Bisma ingat dia naik mobil untuk kembali ke hotel bersama Prita, hanya saja tak kuasa menolak karena kepalanya pusing bukan main. Namun, saat sampai di hotel dan dipapah seorang karyawan hotel, bukan hanya kepala pusing yang dirasakan, mendadak seluruh sarafnya mendeteksi reaksi lain, reaksi yang menyulut gairahnya tiba-tiba dengan serangan yang amat dahsyat.
Bisma ambruk menindih sisi tubuh Tya setelah akhirnya dia mengejang panjang, saat tuntutan menyiksanya berhasil mendapat pelepasan yang diinginkan. Peluh membanjiri. Seluruh sarafnya yang tegang berangsur rileks, deru napasnya pun ikut berangsur normal kembali setelah dengan cukup buas melampiaskan rasa menyiksa dorongan zat afrodisiak.
Bukan hanya Bisma, Tya pun sama berpeluhnya. Ia hampir saja kewalahan menerima serangan ganasnya Bisma. Akan tetapi, Tya tahu bahwa Bisma berlaku agak kasar pasti karena terkendali pengaruh obat. Beruntung, Tya cukup terlatih mengimbangi.
Keduanya sama-sama mengatur napas. Namun, Tya kemudian berjengit saat kecupan lembut mendarat di keningnya, disusul gumaman maskulin memenuhi ruang dengarnya. “Makasih, Istriku,” ucap Bisma pelan, menarik tubuh Tya untuk didekap dan menenggelamkan wajah di ceruk lehernya.
Tya tertegun. Seumur hidup, baru kali ini dirinya diperlakukan begitu berharga. Tya mengamati wajah tampan Bisma yang memejam kelelahan, begitu dekat dengannya, hanya berjarak sejengkal saja.
Seulas senyum hangat tersungging di paras cantiknya. Hatinya berbunga-bunga tak bisa dibendung saat Bisma menyebutnya 'istriku' di saat mereka tengah berdua, terlebih lagi dalam situasi intim, bukan demi kepentingan pamer pada sang mantan.
Bersambung.