Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 23



Sinful Angel Bab 23


Prita Arhdya ialah seorang model. Usianya satu tahun di bawah Bisma, cantik berwajah indo. Daksanya sudah pasti tinggi semampai, namanya juga model. Paras kebule-buleannya didapat dari Ibunya yang masih memiliki darah keturunan Belanda, sedangkan ayahnya merupakan seorang advokat asli Magelang.


Sosok Prita yang terbungkus keanggunan murni dari luar, menjadikannya salah satu mahasiswi populer di kampus tempat Bisma dan Radhika menimba ilmu bisnis selepas kuliah pertaniannya usai. Prita menjadi primadona idaman. Dan Bisma pun menaruh hati meski terpendam. Akan tetapi kebanyakan tidak tahu, bahwa Prita tidak sepolos kelihatannya. Sudah sering bergonta-ganti pacar sejak SMA dan merupakan pribadi licik. Beberapa kontes model pun dimenangkan lewat jalur belakang. Hanya saja image keluarga terpandang menutup kebobrokan di belakang.


Bisma memendam rasa hatinya itu sampai studi bisnisnya usai. Selain tak berani mengungkap, dia juga sibuk mengambil banyak studi. Dia juga takut ditolak, mengingat sang bunga dikerubuti banyak kumbang yang sama-sama mengadu nasib ingin dipilih termasuk Radhika di dalamnya.


Beberapa tahun berlalu. Kala itu tepatnya ketika Bisma baru memimpin Sinar Abadi Grup setahun lamanya yakni sejak Bima Prasetyo sang ayah berpulang, dia bertemu lagi dengan Prita.


Prita Arhdya terpilih menjadi Brand Ambassador produk teh unggulan kualitas terbaik dari PT. Sinar Abadi Grup yaitu The Java Tea. Dimutakhirkan produknya di bawah pengelolaan Bisma dan dikembangkan cara pemasarannya menggunakan model secantik Prita, ternyata hasilnya membuat merek tersebut semakin dilirik dan semakin sukses di pasaran, baik luar maupun dalam negeri.


Sejak saat itu Bisma dan Prita sering bertemu dan berinteraksi lebih dekat. Prita yang sudah berpengalaman dapat mengetahui dengan mudah bahwa pimpinan Sinar Abadi Grup ini memiliki ketertarikan padanya, tak menyiakan kesempatan meski saat itu Prita sebenarnya sedang menjalin hubungan dengan seorang photographer. Prita tentu saja memilih yang lebih berduit ketimbang yang baru merintis, tak peduli dengan sisi melankolis. Berambisi menguasai bisnis besar Sinar Abadi Grup saat mengetahui Bisma amat memujanya.


Sementara Bisma itu berbeda dengan Prita, yang jika diibaratkan adalah mutiara yang baru keluar dari cangkang dalam hal percintaan. Naif, sama sekali tak memiliki pengalaman menjalin hubungan pria dan wanita.


Walaupun usianya satu tahun di atas Prita, Bisma terbilang masih hijau dalam urusan asmara. Dan Bisma juga merupakan tipe pribadi yang jika sudah menemukan yang klik dengan hati maka akan sepenuhnya mencintai. Dan sisi itulah yang membuatnya terkecoh akan belangnya seorang Prita yang besar kepala merasa banyak diinginkan para pria. Merasa para pria tunduk di ujung telunjuknya. Bahkan membuat hubungan persahabatan Bisma dengan Radhika hancur berantakan karena ambisinya.


*****


Radhika bergegas pulang ke kediamannya untuk menyusul Prita begitu pesta usai. Prita menghilang di tengah-tengah pesta dan sopirnya mengabari bahwa istrinya meminta diantar pulang ke rumah. Dia hampir kehilangan muka di depan para rekan bisnisnya lantaran sang istri tidak mendampingi hingga acara rampung, padahal ini merupakan pesta anniversary pernikahan mereka yang ingin dirayakan Prita secara besar-besaran.


“Aku pulang tanpa pamit karena tadi enggak tahan dengan aroma-aroma yang bercampur baur di tempat pesta kita, Mas. Aku mual-mual dan muntah-muntah efek dari hamil mudaku. Jadinya aku meminta sopir mengantarku pulang,” jelas Prita beralasan.


“Kenapa malah memilih pulang sendiri? Kamu kan bisa naik ke kamar yang kita sewa untuk beristirahat,” tukas Radhika dengan nada rendah, berusaha meredam kekesalan. Duduk di tepi ranjang di mana Prita berbaring dan istrinya itu belum berganti pakaian, masih memakai gaun hitam.


“Aku enggak suka dengan pewangi ruangan di kamar hotel. Bikin mual juga, yang terpikir hanya ingin pulang ke rumah. Aku begini juga karena bawaan bayi kita lho,” sahut Prita dengan raut wajah memelas.


Radhika menyugar rambut, menghela napas panjang, menyentuh permukaan perut Prita dan mengelusnya perlahan. “Tapi lain kali jangan menghilang tanpa pamit lagi. Bukan apa-apa, kamu itu sedang hamil, aku hanya takut terjadi hal-hal buruk.”


Prita bangkit, memeluk membujuk. “Iya, Mas. Lain kali aku bakal bilang.”


“Istirahatlah, aku mau bersih-bersih dan ganti baju.”


Prita mengangguk lembut, memandangi suaminya yang masuk ke kamar mandi dengan tatapan hangat dan senyuman manis. Setelah pintu kamar mandi tertutup sempurna, Prita mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mengetikkan pesan pada sopirnya.


Ingat, tutup mulutmu tentang apa yang terjadi tadi. Kalau Mas Dhika bertanya, jawab sesuai dengan apa yang sudah kuperintahkan! Uang tutup mulut sudah terkirim ke rekeningmu. Kalau Mas Dhika sampai tahu yang sebenarnya, kamu akan kupecat tanpa gaji dan pesangon!


Bersambung.