
Sinful Angel Bab 62
Tya membukakan sepatu dan kaos kaki yang dipakai Bisma sementara si empunya terbaring terlentang dengan dada tersengal, seolah habis berlari maraton. Bisma tampak tidak baik-baik saja, wajahnya semakin memerah. Tya khawatir bukan main. Duduk di tepi ranjang, ia menepuk-nepuk pipi Bisma dan menyeka keringat yang berembun di dahi.
Suhu tubuh Bisma memang lebih hangat dari biasanya, tetapi bukan demam. Tya sudah hafal bagaimana suhu tubuh seseorang saat terserang demam. Sakitnya Caca memberikan pengalaman yang melatih sensitivitas kulit punggung tangannya dalam mendeteksi seseorang sedang demam karena sakit atau tidak. Hanya saja Tya bingung apa penyebabnya Bisma tampak kepanasan saat ini.
“Mas, Mas Bisma. Sebenarnya kamu ini kenapa? Masuk angin kah?” Tya kembali bertanya, menyeka keringat yang berembun di dahi, sementara yang ditanya terlihat kesulitan mengatur deru napas memburu dengan mata memejam rapat disertai tangan yang sesekali mengepal kuat.
Tya berusaha tidak panik meski was-was. Berinisiatif membuka kemeja Bisma yang bagian belakangnya sudah agak basah, efek dari peluh yang terus berembun dari pori-porinya. Dengan cepat, Tya membuka kancing kemeja Bisma satu persatu. Hanya saja setiap kali tangan Tya menekan dadanya, Bisma menggeram berat seperti tengah menahan sesuatu, membuat Tya bertambah panik.
“Mas, sakitkah di bagian sini?” Tya yang semakin cemas, malah meraba-raba dada Bisma dengan tangan yang mulai gemetaran dan itu malah membuat Bisma semakin menggeram berat saja. Kebingungan harus bagaimana, Tya meraih gagang telepon di atas nakas yang terletak di dekat kepala ranjang. “Aku akan mengubungi layanan kamar untuk meminta bantuan, sabar sebentar ya, Mas.”
Saat Tya hendak menyambungkan telepon. Lengannya ditahan cepat oleh Bisma. Bisma membuka matanya yang sedikit memerah.
“Jangan hubungi layanan kamar. Tolong siapkan saja air dingin di bathub, aku butuh berendam,” pinta Bisma serak, menghentikan niatan Tya, jakunnya naik turun tak teratur.
“Hah, berendam air dingin? Ini sudah hampir setengah sembilan malam, Mas. Nanti malah tambah masuk angin,” jawab Tya yang kentara sangat khawatir.
“Oke, aku siapkan secepat mungkin.”
Menerobos kamar mandi, Tya memutar keran sampai habis agar air memenuhi bathub segera. Setelah penuh, Tya membantu memapah Bisma yang terus menggeram sembari sesekali meremas bahu Tya sepanjang langkah kakinya.
Tya mendudukkan Bisma yang masih tersengal parah di kloset, tetapi kini ia kebingungan bagaimana membantu kelanjutannya.
Membasahi bibir sembari menetralkan napasnya sendiri yang ngos-ngosan efek memapah Bisma, ragu-ragu Tya menawarkan bantuan lain. “Mas, mau dibantu buka bajunya? Yakin bisa berendam sendiri? Bukan bermaksud lancang, a-aku cuma khawatir Mas kenapa-napa. Jatuh misalnya. Jatuh di kamar mandi sangat berbahaya.”
Bisma kembali membuka mata. “Aku bisa sendiri, Tya. Aku akan berhati-hati. Tolong pesankan minuman dingin. Apa saja, yang penting jangan soda,” pintanya.
Tya dan Bisma bertukar pandang beberapa saat. Kemudian Tya mengangguk cepat. “Baik, Mas. Hati-hati ya. Kalau butuh bantuan panggil saja aku.”
Meninggalkan Bisma di kamar mandi, Tya gegas memesan susu murni dingin lewat layanan kamar. Hanya itu yang terlintas. Mungkin saja Bisma salah makan yang menyebabkannya mendadak tak baik-baik saja. Atau mungkin alergi sesuatu. Selain lebih sehat, setahunya susu murni dapat membantu menetralisir zat tidak baik yang terlanjur masuk ke dalam tubuh.
Bersambung