Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 39



Sinful Angel Bab 39


Setelah kesepakan didapat tadi malam, pagi-pagi sekali Bisma sudah menyatroni bagian administrasi rumah sakit. Bisma mengajukan permintaan pemindahan perawatan Tya ke rumah sakit lain di Kota Bandung hari ini juga, lebih spesifiknya ke rumah sakit khusus bedah tulang terbaik di kota yang dijuluki Paris Van Java itu.


Hal ini dilakukan sudah atas persetujuan Tya tentunya. Bisma tidak bisa terus menerus berada di Jakarta sebab seabrek pekerjaan utamanya di Bandung sudah menanti besok pagi. Jika Bisma meninggalkan Tya di Jakarta berjauhan dengannya untuk sementara waktu juga bukan solusi, karena kemungkinan terbongkarnya bahwa ucapannya pada Prita di pesta merupakan bualan semata berpotensi lebih besar terkuak mengingat mantan istrinya itu tinggal di Ibukota.


Selain itu, di sini Tya tidak memiliki kerabat maupun sanak saudara yang bisa Bisma percayai untuk menjaga wanita yang telah setuju menjadi istrinya itu. Tidak ada yang memantau penuh andai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Semisal Tya mendadak kabur misalnya.


Tya sudah bercerita pada Bisma tentang asal usulnya yang berasal dari panti asuhan, benar-benar sebatang kara. Menurut pendapat Tya fakta ini harus diketahui Bisma secara gamblang agar jawaban mereka nanti sinkron seandainya ada orang-orang di sekitar Bisma mendadak bertanya.


Bisma kembali ke kamar setelah persetujuan didapat. Berpapasan di depan pintu kamar perawatan Tya dengan dokter visit pagi yang baru selesai memeriksa kondisi pasien di dalamnya. Bisma menahan di dokter sejenak, lagi-lagi bertanya dan berkonsultasi tentang kondisi Tya. Bertukar kata tak begitu lama sebab dokter masih harus memeriksa pasien lain.


Bisma mendorong pintu putih kamar perawatan Tya, menghampiri dan berdiri di sisi ranjang di mana Tya berbaring.


“Kita akan berangkat ke Bandung siang nanti. Berkas-berkas pemindahan perawatanmu sedang diurus. Setelah pemeriksaan ulang secara menyeluruh, rumah sakit memperbolehkanmu pergi ke Bandung memakai mobil pribadi saya, tidak perlu menggunakan ambulans. Dua orang perawat akan ikut serta dalam perjalanan kita untuk memantau kondisimu selama di perjalanan.”


“Saya serahkan semuanya pada Anda, Pak. Saya ikut saja bagaimana baiknya,” jawab Tya tahu diri. Sadar bahwa meski dirinya memang diperlukan untuk kepentingan Bisma, ia pun sudah banyak dibantu oleh pria itu. Tidak serta merta membuatnya besar kepala ataupun banyak tawar menawar. Ada yang mau menolong tanpa melecehkannya pun sudah beruntung, batinnya.


“Adakah yang perlu dibawa dari rumah kontrakanmu? Benda penting misalnya? Untuk pakaian tidak usah repot-repot membawa, saya sudah menghubungi sekretaris saya di Bandung untuk menyiapkan tektek bengek keperluan wanita mulai dari baju sampai underwear. Semoga ukurannya sesuai, karena saya hanya mengira-ngira,” jelas Bisma apa adanya.


Lagi-lagi Tya menganggukkan kepala. “Terima kasih, Pak. Kalau begitu ceritanya, sepertinya memang tidak ada benda beharga yang bisa saya bawa dari rumah kontrakan. Karena hanya tinggal baju saja yang masih termasuk berharga bagi saya. Tapi, ada sesuatu yang ingin saya minta pada Anda sebelum kita berangkat ke Bandung, Pak. Satu permintaan saja.”


“Bilang saja apa yang kamu minta, jangan sungkan. Bukankah sekarang ini kita adalah partner solutif?” tukas Bisma cepat, mengulas senyum tipis manis yang jarang terlihat. Dan senyuman sekilasnya menular pada Tya.


“Pak, sebelum berangkat ke Bandung, saya ingin ke makam Caca untuk berpamitan. Karena mungkin saya akan jarang berkunjung setelah ini, pasti butuh waktu yang tidak singkat meredam permasalahan Anda hingga situasinya kembali kondusif.”


Tanpa banyak mendebat, Bisma langsung menjawab cepat. “Baik. Kita akan mampir dulu ke makam Caca siang nanti sebelum bertolak ke Bandung, sesuai dengan permintaanmu.”


Bersambung.