Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 43



Sinful Angel Bab 43


Poppy dan Teh Erna yang juga hadir di sana. Membantu merapikan lagi rambut dan pakaian rumah sakit yang dipakai Tya untuk sesi foto sebagai dokumentasi selain potret momen ijab kobul tadi. Sebelum akad, Teh Erna sudah membantu menyisir dan mengikat rambut panjang Tya dicepol ke atas. Minimal, walaupun wajah Tya pucat dan masih dihiasi perban di pelipis, setidaknya masih bisa dibuat terlihat lebih rapi. Meski begitu, pahatan cantik Tya memang tak bisa bersembunyi di balik perban dan pipi pias.


Bisma berpakaian rapi selayaknya mempelai pria walaupun tidak terlalu mencolok. Mengenakan setelan jas hitam dipadu kemeja putih, hanya minus dasi saja. Jujur, dalam hati Tya merasa agak insecure. Bisma begitu tampan dan gagah, sedangkan ia hanya terbalut pakaian rumah sakit. Tya khawatir fotonya terlihat jelek, hanya itu yang terlintas di pikirannya saat ini, berhubung baru kali ini dirinya difoto menggunakan kamera yang dilihat selintas pun pasti harganya mahal.


Ranjang diatur ditegakkan di bagian punggung agar Tya bisa duduk tetap dengan posisi landai. Bisma memosisikan diri duduk di pinggir sebelah kiri Tya, merapat lebih dekat sesuai intsruksi Poppy. Wali hakim dan penghulu berdiri di sebelah kanan ranjang, sedangkan Vero dan Mang Eko berdiri di sebelah kiri Bisma.


Poppy mengambil gambar sekitar lima kali sesuai titah sang bos. Setelah itu, Poppy menyarankan agar Bisma difoto berdua dengan Tya.


“Bu Tya, untuk pengambilan gambar selanjutnya tolong salim dan dicium punggung tangannya Pak Bisma, ya. Dan Pak Bisma kalau bisa ekspresinya lebih santai lagi,” Poppy memberi instruksi antusias dengan tetap menjaga tata kesopanan. Mengungkapkan saran pada Bisma yang terlihat agak tegang.


Tak banyak drama, dua manusia berlainan jenis yang tanpa mereka sadari sepenuhnya sudah menjadi suami istri itu patuh saja, kendatipun Tya hanya bisa menggunakan tangan kiri untuk melakukan hal tersebut dan Bisma refleks menyodorkan tangan kanannya.


Poppy begitu bersemangat mengarahkan moncong kamera. Kentara ikut senang saat sang bos akhirnya melepas masa duda, meski dia pun sebenarnya dibuat terkaget-kaget juga penasaran level dewa akan keputusan bosnya ini, mendadak menikahi wanita yang belum pernah terlihat dekat sebelumnya walaupun secara siri. Akan tetapi, bagi Poppy alasan sang bos bukanlah ranahnya, poin pentingnya di sini adalah Bisma menikahi wanita daripada malah jadi berubah haluan.


“Nah, untuk gambar terakhir, Pak Bisma silakan cium kening Bu Tya. Tolong yang mesra ya, Pak. Biar hasil fotonya bagus,” kata Poppy lagi, bertutur dengan senyum lebar gembira.


Bisma terbatuk mendengar kalimat Poppy. Teh Erna cepat-cepat menyodorkan sebotol air mineral pada majikannya itu, sedangkan Tya berdeham kikuk sembari menelan ludah.


“Iya, Pak, cium kening. Atau, maunya cium yang lain juga boleh, yang penting mesra,” ujar Poppy polos saja, karena mengira bosnya ini menikah dengan wanita bernama Cintya ini karena cinta.


“Hah, cium yang lain!” seru mereka berdua serempak bersamaan. Ragu-ragu, Bisma menoleh pada Tya. Keduanya sama-sama mengerjap salah tingkah. Mirip anak remaja yang baru memasuki fase puber.


“Ayo, Pak, Bu. Sebaiknya segera. Waktu yang diberikan rumah sakit untuk acara khusus ini tinggal tersisa beberapa menit lagi.” Popy menunjukkan pergelangan tangannya dan mengetuk arloji yang melingkar di sana.


Bisma mengendalikan air mukanya yang untuk sesaat tadi dilanda kikuk dan gugup tiba-tiba. Kembali memasang raut berwibawanya.


“Ehm, ehm, oke. Kamu juga ambil gambarnya yang bagus. Jangan cuma pandai mengarahkan gaya!” tegasnya agak menggerutu.


“Siap, Bos!”


Tya bukanlah gadis perawan suci. Dia sudah pernah sering bersentuhan dengan laki-laki ketika masih terjebak di lingkaran setan Jordan yang teramat ngeri. Namun, saat Bisma mengecup keningnya dengan kelembutan ada yang berbeda kini. Hal yang tak pernah dirasakan si segumpal daging bernama hati selama ini. Seorang pria memperlakukannya sopan dan menghargai merupakan pertama kali, laksana angin sepoi sejuk membelai membanjiri, disertai rasa aman tak biasa melingkupi diri.


Bersambung.