Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 80



Sinful Angel Bab 80


Urusan pindah kamar tak terencana mengangetkan tya. Akan tetapi, saat ini menyusul Bisma lebih penting dibanding urusan lainnya. Tya mandi secepat mungkin dan mengepak beberapa baju. Seperlunya saja. Setelah sarapan ia gegas pergi ke apotek. Bertanya pada petugas apotek dan meminta disiapkan obat meriang. Membelinya dari berbagai produk.


Pukul sebelas siang Tya sudah selesai dengan urusannya. Tya meminta Teh Erna membuatkan bubur kacang yang akan dibawanya pergi. Pepaduan kacang hijau, gula merah dilengkapi jahe sarat akan nutrisi dan berguna menghangatkan tubuh. Bandrek bubuk juga Tya bawa, tak lupa minyak angin dan kayu putih pun ikut dijejalkan ke dalam tasnya.


“Mang Eko, tolong angkut semua barang akan saya bawa ke bagasi. Setelah solat Dzuhur kita langsung berangkat. Poppy sedang dalam perjalaan ke sini sekarang.”


“Baik, Neng.”


Sosok Poppy muncul di teras rumah. Diantar sopir kantor yang langsung kembali ke perusahaan. Poppy datang setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor Agra Prime.


“Poppy, maaf ya, merepotkan,” kata Tya begitu Poppy duduk di ruang tamu.


“Tidak apa-apa, Bu. Saya juga memang harus kembali ke perkebunan menyusul Pak Bisma. Ada beberapa berkas yang membutuhkan legalisir dari instansi terkait setempat. Saya sudah mencoba menghubungi Hadi staf analis dan kontak mandor kebun, untuk bertanya terkait kondisi Pak Bisma juga mengkonfirmasi keperluan berkas. Tapi nomor mereka berdua di luar jangkauan terus. Sepertinya Hadi dan mandor kebun sudah pergi ke perkebunan sejak pagi. Dan sepengalaman saya kemarin, sinyal di daerah perkebunan lumayan jelek, timbul tenggelam. Seringnya malah sinyal hilang sepenuhnya,” jelas Poppy panjang lebar.


Adzan Dzuhur berkumandang. Tya dan yang lainnya melaksanakan salat empat rakaat terlebih dahulu. Do’a terselip atahiyat akhir dan dua salam. Tya sampai terisak dalam do’anya, memohon agar Bisma diselamatkan dan disehatkan. Bisma bagaikan pelipur atas kehilangannya akan Caca. Yang tak memandangnya sebelah mata, tanpa memandang harta dan kasta. Walauun Bisma mengatakan menolongnya dengan pamrih hanya sebatas simbiosis, setidaknya Bisma tak pernah memperlakukannya rendah. Tya sangat takut kehilangan. Setelah Caca, ia tak ingin kehilangan Bisma juga. Terlebih lagi rasa takut kehilangan itu kini diperkuat getar cinta yang tumbuh bersemi di hati.


Fortuner putih yang dikemudikan Mang Eko melesat cepat meninggalkan kediaman Bisma. Poppy duduk di depan sebagai penunjuk jalan, sedangkan Tya menempati kursi penumpang. Bibir Tya tak henti menderaikan do’a. Juga tak menyerah mencoba kembali menyambungkan panggilan pada pemilik nomor yang berhasil membuatnya gundah gulana.


“Semoga jalanan enggak macet ya, Bu,” kata Poppy, menoleh pada Tya.


Tya mengulas senyum tipis kendati suasana hatinya sama sekali tidak ingin tersenyum. “Iya. Semoga kita bisa cepat sampai di tempat tujuan. Aku takut Mas Bisma kenapa-napa.”


*****


“Alhamdulillah, Pak. Panen begitu lancar dan didukung cuaca cerah sampai siang. Sepertinya alam pun merestui panen kita hari ini. Langit baru mulai mendung sekarang.”


Mandor kebun sedang bercakap-cakap dengan Bisma di salah satu saung yang letaknya agak tinggi. Menyajikan pemandangan hamparan hijau kebun teh yang sudah selesai dipanen untuk kali ini. mereka baru usai makan siang bersama di pukul dua siang ini, tengah meneguk kopi hitam sembari bersantai ditemani semilir sejuk dan segarnya udara daerah Puncak.


Bisma mengangguk dengan ukiran semringah tercetak jelas di wajah tampannya. “Ya, Alhamdulillah. Banyak berkah tak terduga di luar perkiraan saya. Allah itu Maha Baik ya, Pak. Asalkan kita jangan pernah lelah berusaha dan berikhtiar.”


“Pak, maaf sekali mengganggu sebentar. Ada panggilan notifikasi missed call yang sangat terlambat masuk ke nomor saya. Juga ada notifikasi pesan baru yang masuk tapi terus saja loading. Missed callnya dari Poppy. Sepertinya ada hal penting karena sudah ada tiga missed call. Tapi di sini sinyalnya terus saja hilang dan baterai ponsel saya juga tinggal sepuluh persen, powerbank saya tertinggal di villa. Apakah Poppy juga menghubungi nomor Anda?” Hadi menginterupsi obrolan Bisma dengan mandor kebun, tetap tak melupakan tata krama saat berbicara pada atasannya meskipun dalam situasi urgent.


“Kayaknya ponselku tertinggal di kamar villa. Kalau begitu kita kembali ke villa sekarang. Poppy tidak akan menghubungimu kalau memang bukan ada hal penting terkait perusahaan.”


Bisma dan Hadi bergegas kembali ke villa diantar mandor kebun. Jaraknya sekitar empat kilo meter. Yang namanya jalan ke perkebunan sudah pasti tidak semulus aspal di jalan raya, banyak bagian yang hancur menyisakan bebatuan sehingga kendaraan tidak bisa melaju cepat, harus bersabar dan lumayan memakan waktu. Apalagi kini gerimis mulai turun, harus ekstra hati-hati saat melewati area jalanan tanah tanpa aspal dan bebatuan yang pasti licin kala air membasahi.


Begitu sampai, Bisma langsung menuju kamarnya guna mencari benda yang lupa tak dibawanya. Begitu juga Hadi, tidak membuang waktu, Hadi langsung mengisi daya ponselnya yang kini mati total. Menunggu dengan sabar sampai terisi sepertiganya sebelum dinyalakan kembali. Sedangkan mandor kebun kembali ke perkebunan sebab urusan di sana untuk hari ini belum rampung.


“Hei, ternyata baterai ponselku habis juga,” decak Bisma yang segera memebongkar tasnya mencari charger. Mengisi ulang daya di gawai persegi panjang berwarna hitam elegan itu.


Bisma memutuskan mandi saja selagi menunggu baterai terisi. Daripada membuang waktu walaupun ponselnya sudah memiliki terknologi fast charging. Lagipula lebih aman menyalakan ponsel di saat tidak sedang tersambung dengan listrik.


Hadi menyalakan ponselnya yang baterainya sudah terisi tiga puluh persen. Beranjak ke teras sembari mengacungkan gawainya tinggi-tinggi supaya mendapat sinyal penuh bertepatan dengan Fortuner putih memasuki pekarangan villa. Mobil putih milik sang bos.


Hadi mengurungkan maksudnya menghubungi Poppy saat sosok yang akan diteleponnya turun dari mobil yang kini terparkir manis, bersama seorang wanita cantik tinggi semampai yang berjalan tergesa di belakang Poppy. Sosok cantik yang pernah satu kali dibawa Bisma ke kantor, wanita yang konon istri baru bosnya, yang dari keterangan Poppy dinikahi secara siri.


“Di mana Pak Bisma?” tanya Poppy cepat pada Hadi yang tampak keheranan.


“Di kamarnya?”


“Gimana kondisi Pak Bisma sekarang? Beliau sakit apa?”


“Hah? Sakit?” imbuh Hadi penuh tanya tak mengerti. Si pemuda berambut cepak itu menggaruk kepalanya tak gatal. “Tapi, Pak Bisma_”


Poppy mengangkat telapak tangan kanannya di udara, memotong kalimat Hadi. “Nanti saja kita bicaranya. Sekarang lebih baik kamu bantu Mang Eko menurunkan barang dan aku akan mengantar Bu Tya ke kamar Pak Bisma. Ayo, Bu,” kata Poppy sopan, mempersilakan.


Tya sedang tak ingin menyapa maupun berbasa-basi. Kepalanya dan hatinya sedang dikerubuti was-was, tak tertarik pada hal lain.


“Ini kamarnya, Bu. Silakan masuk saja. Kalau memang kondisinya gawat, kita bawa saja ke rumah sakit terdekat.”


Bersambung.