
Sinful Angel Bab 95
Selepas waktu Subuh, di dapur rumah Bisma sudah terdengar aktivitas yang mengundang perhatian Viona. Viona yang baru selesai dengan dzikir paginya dan keluar dari kamar, tertarik menyeret kakinya ke arah dapur.
Keriuhan tercipta mulai dari suara blender yang diputar, bunyi wajan dan spatula yang saling beradu, irama talenan yang dipakai memotong-motong bahan makanan sampai suara khas air mendidih menghangatkan suasana Minggu di pagi buta ini.
Viona menghentikan langkah dalam posisi yang masih agak jauh, tetapi ruang pandangnya sudah mencapai dapur. Tampaklah di sana sesosok cantik yang memakai apron sedang sibuk berkutat sendiri. Nampak segar dan ceria dengan rambut yang masih menyisakan sedikit jejak basah sehabis keramas.
“Dapur Bisma terlihat lebih hidup sekarang, berbeda dengan dulu,” gumam Viona sembari menipiskan bibir.
Viona menarik mundur dirinya satu langkah, saat mendapati kemunculan Bisma yang kini melenggang ke dapur dan sepertinya tak menyadari keberadaannya, lantaran memang posisi Viona berdiri sedikit tersembunyi. Bisma terlihat langsung bermanja pada Tya, memeluk dan menempeli Tya yang sedang memasak, juga terdengar kelakar serta canda yang membuahkan tawa. Raut wajah putranya yang sekian lama hanya digelayuti kelabu, kini cerah benderang.
“Mas Bima, putra kita terlihat sangat gembira bukan? Apakah kali ini Bisma tidak salah pilih lagi? Kuharap begitu,” lirih Viona sembari menyebut nama mendiang suaminya sebelum kembali ke kamar tamu.
Tya sengaja memasak dari selepas Subuh demi membuat sarapan untuk menjamu Viona. Mengerahkan kemampuan terbaiknya meski menunya dimasak melalui panduan video di ponselnya. Maklum, menu sarapan kali ini baru dimasak Tya untuk pertama kalinya. Agak uji nyali sebetulnya.
Untuk sarapan pagi ini, Tya memasak bubur ayam kampung. Tya juga membuat risol bihun serta cakwe sebagai pelengkap. Tak lupa kerupuk bawang, emping melinjo plus sambal tersaji di meja. Untuk hidangan lainnya, Tya membuat pisang goreng vanilla wijen, menggunakan pisang tanduk oleh-oleh dari mandor perkebunan Bisma di Puncak. Sebagai makanan penutup yang cocok disantap dengan sepoci teh tubruk panas.
Bisma menarik kursi untuk Viona saat dia dan ibunya sampai di ruang tamu. Bisma sengaja mengetuk pintu kamar tamu dan mengajak bundanya untuk sarapan ketika Tya mengatakan bahwa menu sarapan sebentar lagi matang.
“Ayo, Bun, duduk dulu. Sebentar lagi sarapannya siap," kata Bisma yang juga ikut duduk di kursi lainnya.
Tya gegas mengambil tiga buah mangkuk begitu melihat Viona sudah hadir di meja makan. Menyajikan dan menata toping dengan serius di atas bubur panas yang masih mengepul merebakkan aroma sedap menggoda selera. Membubuhkan kuah kuning, kecap asin, kacang kedelai, irisan seledri, bawang goreng dan yang terakhir suwiran ayam.
Mangkuk bubur di hadapannya cukup membuat Viona takjub karena ia tahu membuat bubur tidak semudah kelihatannya. Dari aroma dan tampilannya pun sepertinya rasanya pun lezat. Belum lagi risol bihun dan cakwe hangat di atas piring saji menggoda liur.
“Ini semua kamu yang bikin?” Viona melontarkan tanya pada Tya yang baru saja duduk di kursi yang bersebelahan dengan Bisma.
Tya mengangguk pelan. “Iya, saya yang memasak. Semoga Bunda suka, ini pertama kalinya saya memasak bubur ayam kampung. Kalau untuk risol dan cakwe, ini merupakan percobaan ke tiga. Mohon maaf kalau masih banyak kekurangannya dari segi rasa, dan kalau boleh tolong berikan riview jujur tentang rasanya, supaya ke depannya saya bisa memasak lebih baik lagi,” tutur Tya sopan dengan ekspresi berlumur senyum berpadu kegugupan.
“Jadi, kamu masak sebanyak ini sendirian? Di mana Teh Erna?" tanya Viona setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tidak mendapati Teh Erna di dapur.
“Setelah luka Tya pulih, setiap hari Minggu Teh Erna libur bekerja. Sesuai dengan permintaan Tya. Kata Tya, biar Teh Erna punya waktu bersantai juga.” Kali ini Bisma yang menjawab dan refleks menggenggam tangan Tya mesra.
Rasa was-was Viona sebagai orang tua agak mengendur. Dari keterangan Bisma dan pengamatannya secara langsung, Tya ini bukan tipe wanita neko-neko yang manja. Berbeda dengan Prita dulu yang super manja dan apa-apa harus selalu dilayani pembantu. Hanya saja, dulu Viona tak pernah mempermasalahkan hal itu, yang penting Bisma bahagia dengan pilihannya, sesederhana itu keinginannya sebagai seorang ibu.
“Beneran biar Teh Erna bisa bersantai atau karena kalian yang ingin leluasa menghabiskan waktu?” kekeh Viona berkelakar dan seketika wajah Tya memerah mirip kepiting rebus, sedangkan Bisma tertawa senang.
Bisma memimpin membaca do’a sebelum menyantap bubur masing-masing. Tya terus saja mencuri-curi pandang pada Viona yang terlihat menikmati si bubur ayam yang disajikannya. Saat ini suasana jantung Tya bak angin ribut, menunggu harap-harap cemas komentar Viona, teringat dengan kisah Khalisa di masa lalu yang pernah memiliki ibu mertua jahat meskipun Viona tak terlihat demikian.
Viona meneguk segelas teh tubruk hangat setelah menghabiskan sarapannya, mengelap mulutnya dengan tisu dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi makan.
“Masakanmu enak. Cuma kurang garam sedikit. Tapi itu lebih sehat, kebanyakan garam tidak baik untuk kesehatan. Dan sepertinya beban Bunda berkurang sedikit demi sedikit sekarang. Karena mulai sekarang kalau Bisma sakit, ada yang membuatkan bubur sehat yang enak buat putra bungsu Bunda.”
Tya yang sejak tadi sulit menelan, otomatis mendesah lega. Bisma pun ikut tersenyum lepas, memandangi bundanya dengan sorot mata penuh terima kasih.
“Kapan kamu akan meresmikan pernikahanmu terdaftar secara negara?” Viona tak menunda membahas hal penting yang semalam sempat terjeda kantuk.
“Secepatnya, Bun. Aku berencana mengurusnya mulai besok, semoga minggu depan sudah selesai,” jelas Bisma yang sedang memegang cangkir teh panasnya.
“Bagus. Jangan sampai diundur lagi. Lebih cepat lebih baik, demi ketentraman kalian juga demi menghindari kabar tak enak yang mungkin berembus di luaran. Sebagai sesama wanita, Bunda juga tidak mau Tya jadi bahan pergunjingan miring kalau hanya kamu nikahi secara siri karena statusnya kurang kuat. Apalagi kalau Prita tahu hal ini, tahu sendiri seperti apa tabiat mantan istrimu itu.”
Sebetulnya bukan hanya itu alasan Viona ingin Bisma cepat-cepat meresmikan pernikahannya secara negara. Viona melakukannya sebagai antisipasi, berjaga-jaga andai Tya hamil dalam waktu dekat, jangan sampai cucunya nanti digosipkan yang tidak-tidak oleh orang-orang.
Hanya saja Viona tak ingin membahas hal tentang keturunan di depan Bisma, khawatir merusak suasana hati anaknya yang kentara sedang berbahagia. Jujur saja Viona masih terganggu akan prasangka terkait kesuburan Bisma setelah mendapati Prita mengandung oleh Radhika sekarang.
“Tentu, Bun. Aku akan mulai mengurusnya besok,” balas Bisma mantap.
“Tya?” Viona kini beralih pada Tya yang mengerjap tak kunjung menghabiskan sarapannya, pasti Tya sedang gugup sekarang.
“Saya, Bunda,” sahut Tya cepat.
“Besok kamu ada acara?”
Tya menatap Bisma seolah bertanya harus menjawab apa dan Bisma memberi isyarat melalui anggukan tipis.
“Tidak ada, Bunda. Ada apakah?”
“Bagus. Besok minta Mang Eko antarkan kamu ke butik VN Fashion pusat dan temui Bunda di sana. Bunda mau ngukur langsung dan buatkan desain gaun pengantin untuk kamu. Bunda ingin menggelar pesta pernikahan untuk kalian berdua, anggap saja syukuran sederhana. Karena kabar pernikahan sebaikanya diumumkan dan disiarkan, supaya tidak timbul fitnah. Bunda tunggu ya.”
Bersambung.