
Sinful Angel Bab 51
Sudah setengah jam Bisma kembali dari kafe, menunggu sembari membaca koran di ruang tunggu klinik kecantikan. Di sebelahnya, duduk seorang pria tampan perlente yang sedang asik bermain dengan bayi cantik dan lucu di pangkuannya. Sepertinya anaknya, karena pria itu menyebut dirinya papa. Senyum Bisma ikut mengembang, saat si bayi tertawa senang ketika papanya menciumi perutnya.
Tak berselang lama, Tya keluar dari area dalam menuju ruang tunggu. Di belakangnya, seorang wanita cantik berhijab sama-sama menuju area yang sama. Si bayi yang digendong pria di sebelah Bisma mendadak merengek saat melihat kemunculan wanita berhijab yang berjalan di belakang Tya. Wanita tersebut mempercepat langkah, menyalip Tya dan tak sengaja menyenggol lengan kanan Tya yang baru pulih membuat Tya meringis kecil.
“Aduh, maaf. Saya tidak sengaja,” kata si wanita berhijab itu cepat yang tidak lain adalah Khalisa. “Saya buru-buru karena bayi saya menangis,” jelas Khalisa yang seketika membeku begitu ia dan Tya bertemu pandang.
Keduanya mengerjap, tengah berusaha saling mengingat. Keduanya merasa familiar, hanya saja karena Tya dan Khalisa kini penampilannya agak berbeda terlebih Khalisa, butuh waktu beberapa menit untuk dapat saling mengenali satu sama lain.
“Mbak Tya?” ucap Khalisa terkejut. “Ini beneran Mbak Tya, kan?” tanyanya memastikan.
Tya mundur satu langkah. Memindai wanita berhijab yang menyapanya. “Khal? Khalisa? Ini kamu?” kata Tya sama-sama dengan nada penuh tanya.
Tanpa basa-basi, Khalisa serta merta memeluk Tya. Tya pun balas melakukan hal serupa. Sama-sama terisak tak menyangka dipertemukan lagi di situasi berbeda.
Bisma serta Yuhdis yang melihat Tya dan Khalisa berpelukan langsung menghampiri. Khalisa memperkenalkan Yudhis pada Tya. Menyebut kata suamiku dengan penuh cinta.
“Selamat atas pernikahanmu. Jadi, ini adiknya Afkarmu?” tanya Tya, sembari menggoyangkan tangan Disha gemas yang sedang memegangi telunjuknya.
“Iya, aku dan Bang Yudhis sempat nyari Mbak ke mana-mana, tapi nihil. Setelah melahirkan aku menyudahi pencarianku karena harus fokus mengurus bayiku dan suamiku semakin sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, setiap malam aku selalu berdo’a. Semoga suatu saat Allah swt mempertemukan kita kembali. Aku belum sempat ngucapin terima kasih atas kebaikan dan pengorbanan Mbak kala itu, pada masa itu. Aku sungguh berterima kasih,” tutur Khalisa sungguh-sungguh, matanya berkaca-kaca.
“Sudah, padahal jangan jadi beban pikiran. Aku juga enggak membantu banyak,” jawab Tya tulus.
“Mbak sama siapa ke sini? Mbak kelihatan beda, makin cantik,” kata Khalisa, memuji apa adanya.
Tya membasahi bibir, seakan bingung meneruskan kalimat sembari menoleh ragu pada Bisma. Sungkan mengucap, takut salah berkata.
“Halo, perkenalkan. Saya Bisma, suaminya, Tya.” Bisma yang berdiri di samping Tya sejak tadi, dengan jantan memperkenalkan diri, merangkul Tya lembut.
“Ja-jadi, Mbak sudah menikah?” cecar Khalisa antusias.
Tya mengusap tengkuk sebelum kemudian mengangguk pelan. Ia tak berani mengakui Bisma sebagai suami secara terang-terangan. Takut dirinya malah sok tahu. Takut Bisma tak mengijinkannya memperkenalkan Bisma sebagai suami pada temannya. Mengingat pernikahan siri mereka hanya untuk kepentingan masing-masing.
“Alhamdulillah, selamat, Mbak Tya.” Khalisa ikut terharu juga ikut senang. Ditilik sekilas pun, Bisma ini jelas pria baik-baik. Terpancar dari karismanya yang menguarkan positif vibes.
“Makasih, Khal.” Tya mengulas senyum. ada getar tak biasa yang menyusup dalam kalbu saat mendapat ucapan selamat atas pernikahannya yang sebenarnya tak seperti yang dipikirkan Khalisa. Sesuatu menggelitik sanubarinya, tetapi entah apa Tya pun belum mampu memahaminya.
“Sudah lama, Mbak?”
“Baru mau dua bulan,” jawab Bisma yang menimpali cepat saat menangkap raut wajah yang Tya kembali ragu membuka mulut.
“Wah, masih pengantin baru. Semoga segera diberikan momongan,” imbuh Khalisa sepenuh hati. Bukan hanya sekadar kata, tetapi juga do’a.
Khalisa dan Yudhis mengajak mereka makan malam bersama di sebuah restoran terdekat yang lokasinya tak jauh dari klinik. Intuisi Yudhis yang peka mengusulkan acara mendadak ini. Dia paham, pasti sang istri masih ingin berbincang lama dengan seseorang yang pernah dicari-carinya, orang yang pernah berjasa menyelamatkannya dari kubangan nista.
Bisma yang juga melihat Tya begitu dekat dan jelas kangen dengan wanita berhijab ini memilih mengiyakan. Lagi pula kebetulan perutnya pun mulai keroncongan.
Bersambung.