Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 45



Sinful Angel Bab 45


Sepanjang perjalanan pulang, Tya dan Bisma tampak kikuk satu sama lain. Mereka duduk bersebelahan. Bisma fokus mengemudikan Mercedes-benz Eclass E-200 warna grey miliknya dan Tya duduk di kursi sebelahnya, sedangkan Teh Erna terkantuk-kantuk di jok belakang.


Selepas kejadian di kamar rawat inap tadi. Bisma kentara canggung begitu juga Tya. Tidak ada perbincangan,hanya sunyi yang menyergap perjalanan. Pandangan keduanya lurus ke depan. Sesekali melirik ragu satu sama lain secara bergantian, dan sesekali pula pandangan mereka tak sengaja bertemu membuatnya sama-sama terperanjat.


Kendaraan mereka memasuki daerah Antapani, di mana komplek elit Galuh Residence yang salah satu bangunannya merupakan milik Bisma berada. Tya memandang takjub begitu mobil memasuki kawasan real estate tesebut, mengagumi bangunan-bangunan rumah mewah dari dekat.


"Selamat datang, Den Bisma, Neng Tya."


Mang Eko menyambut sopan kedatangan Tya dan Bisma begitu majikannya itu turun dari mobil bersama Tya. Membukakan pintu utama rumah lebar-lebar supaya Bisma dan istrinya lebih leluasa masuk.


"Te-terima kasih, Pak," kata Tya agak sungkan, lantaran tidak terbiasa menerima perlakuan yang sangat-sangat sopan seperti sekarang ini sepanjang hidupnya.


"Panggil Mang Eko saja, Neng," sahut Mang Eko yang diangguki pelan oleh Tya.


"Ayo, kuantar ke kamarmu. Letaknya di sebelah kamarku." Bisma merangkul bahu Tya. Wanita itu agak berjengit kaget. Secepat mungkin mengatasi situasi keterkejutannya.


Tya memilih mengiyakan saja tanpa banyak kata. Seperti penjelasan Bisma sebelumnya, alasan sebenarnya mereka menikah hanya Vero yang tahu, sedangkan yang lainnya dibiarkan bertanya-tanya serta berspekulasi sendiri seperti halnya Mang Eko, Teh Erna juga Poppy, dan dipastikan mereka bertiga takkan ada yang berani memvalidasi secara langsung pada mereka berdua meskipun terdapat hal aneh dan janggal.


Bisma menggandeng Tya masuk lebih dalam di tempat tinggalnya. Di luar sana, Teh Erna memanggil Mang Eko dari garasi. Dia butuh bantuan mengangkut barang-barang yang dikeluarkan dari bagasi. Keduanya yang sama-sama bertanya-tanya dalam benak, mengerjakan pekerjaan mereka sambil menjadi periview ala lambe turah.


"Mang Eko, kenapa Den Bisma dan Neng Tya kamarnya minta dipisah ya padahal mereka sudah menikah? Kelihatannya Den Bisma juga selalu berlaku lembut sama Neng Tya walaupun kita tidak tahu awal mula hubungan mereka dari mana, begitu juga sorot syahdu mata Neng Tya yang sering memandangi Den Bisma lekat-lekat walaupun sambil curi pandang. Tapi kenapa malah pisah kamar ya? Terus Den Bisma kan sudah lama menduda, enggak butuh yang hangat-hangat gitu? Atau jangan-jangan Den Bisma mengidap kelainan?"


Teh Erna mulai membuka ajang pergosipan. Terdorong penasaran juga tanda tanya yang selama ini memenuhi kepala.


"Hush. Mamang yakin Den Bisma itu masih normal! Jangan asal ngomong. Kalau tentang pisah kamar, bisa jadi karena Neng Tya belum sembuh benar. Jadinya daripada kebablasan, mending pisah kamar dulu. Namanya sekamar pasti susah menahan diri. Apalagi di usia mereka itu lagi legit-legitnya. Kasihan juga kalau Neng Tya kudu mantap-mantap dalam kondisi lengannya yang masih butuh pemulihan. Terus, Den Bisma yang notabene masih muda dan bugar plus sudah lama sendiri, pasti ganas di ranjang dan Neng Tya harus dalam kondisi prima buat mengimbangi. Den Bisma memutuskan pisah kamar pasti mempertimbangkan hal ini." Mang Eko mencerocos panjang lebar, berspekulasi menurut pemikirannya.


"Iya juga sih, masuk akal. Den Bisma kan gagah dan tinggi, pasti tenaganya juga gede. Bener kata Mang Eko, pasti begitu alasannya."


Bersambung.