
Sinful Angel Bab 87
Pukul sebelas malam semua orang sudah kembali. Tya langsung masuk ke villa lebih dulu sedangkan Bisma berbincang sebentar dengan Mang Eko di halaman.
“Mang Eko bisa ikut tidur di rumah pak mandor. Sudah disiapkan kamar di sana. Jangan tidur di mobil,” kata Bisma pada Mang Eko yang menyerahkan kunci mobil padanya. Mang Eko biasanya lebih suka tidur di mobil setiap kali ikut dengan Bisma ke beberapa perkebunan.
“Iya, Den. Tapi Mamang rencananya mau ikut ronda saja sama warga sini. Di saung itu, sambil siduru, juga sambil jaga keamanan sekitar.”
Mang Eko menunjuk sebuah saung yang terbuat dari bambu beratapkan ilalang kering. Letaknya berada di antara bangunan villa dan rumah pak mandor, di sana sudah ada sekitar empat orang bapak-bapak yang sedang bercengkerama. Api unggun di depan saung menghalau udara dingin, tak lupa suara radio jadul melengkapi menghangatkan suasana.
“Den Bisma masuk saja. Kasihan Neng Tya kalau suaminya lama-lama di luar. Lagian cuaca juga makin dingin. Lebih baik cari yang hangat-hangat. Makanya Mamang mau siduru, kalau Den Bisma kan tidak usah siduru juga sudah punya yang menghangatkan sekarang. Mari, Den.” Mang Eko menggoda tuannya dan kemudian undur diri terbirit-birit.
“Hei, dasar tua bangka usil!” Bisma mengekeh sebelum masuk ke dalam bangunan dan mengunci pintu villa. Bisma memeriksa seluruh jendela dan memastikan pintu belakang pun sudah terkunci dengan baik.
Saat masuk ke kamarnya, Tya baru keluar dari kamar mandi terbungkus jubah mandi. Wajah cantik Tya masih menyisakan tetesan air.
“Kamu mandi? Seharusnya jangan mandi, cuacanya dingin banget, nanti kamu flu,” tegas Bisma khawatir.
“Eh, bu-bukan mandi kok, Mas. Cuma bersih-bersih sedikit,” jawab Tya agak tergagap.
Setelah ucapan cinta Bisma padanya, Tya makin sering merasa berdebar tak karuan setiap kali berdekatan dengan Bisma. Walaupun tidak mandi selepas berpergian kali ini, Tya tetap membersihkan raganya terutama di area tertentu. Menggunakan fasilitas air hangat di kamar mandi. Bahkan menyempatkan diri mencukur kilat supaya lebih rapi lagi. Kendati begitu, ia harus menahan hawa dingin yang tetap menyambangi saking rendahnya suhu Puncak.
Ini merupakan kali pertama mereka akan tidur seranjang setelah saling mengungkapkan isi hati dalam kondisi sadar sepenuhnya. Maka dari itu Tya memutuskan tetap mengambil langkah antisipasi. Karena ketika di Bali situasinya jelas berbeda. Bukan mengharap lebih, tetapi setidaknya dirinya sudah bersiap maksimal andai Bisma meminta haknya secara gamblang.
“Oh, kukira kamu mandi. Ya sudah, aku juga mau bersih-bersih. Kalau sudah ngantuk tidur saja, jangan nunggu aku,” kata Bisma setengah hati yang kemudian gegas masuk ke kamar mandi.
“Ffuuhh.” Tya mengembuskan napasnya kencang, memegangi dadanya sendiri. “Kenapa aku jadi deg-degan begini?”
Tya termenung sejenak. Tampak menimbang-nimbang sebelum kemudian membongkar tas baju ganti yang dibawanya. Mencari-cari baju yang akan dipakainya tidur. Yang kira-kira cocok dipakai dan yang kira-kira disukai Bisma. Saat getar cinta merecoki, rasa ingin menjadi yang tercantik bagi sang kumbang tak dipungkiri menggebu dalam hati.
“Duh, kenapa aku malah bawa piyama bergambar kartun Tweety begini sih?” gerutunya kesal, mengomeli dirinya sendiri.
Tya nyaris berjingkrak saat menemukan gaun tidur warna putih. Terselip di antara piyama dan underwear. Modelnya berlengan pendek, panjangnya selutut. Hanya saja kainnya menerawang dengan model kerah V nya bebelahan agak rendah. Sudah pasti memamerkan belahan sepasang aset membusungnya saat dipakai.
Tya menepuk-nepuk sendiri pipinya yang memanas. Desir tersipu merambati nadi. Meski di masa lalu baju seksi bukan hal yang aneh lagi baginya, tetapi di masa kini tetap menghadirkan rasa berbeda saat akan memakainya di depan suami yang dicinta.
“Ayo, Tya. Kamu harus percaya diri. Jangan sampai bikin mata Mas Bisma sepet lihat kamu. Bukankah kata Ustadzah Farhana seorang istri harus tampil menyenangkan saat dilihat suaminya? Bepahala juga katanya kan?” Tya bergumam-gumam bermonolog solo.
Tanpa ragu lagi, Tya mengganti bajunya cepat. Menyemprotkan parfum mahal yang pernah dibelikan Bisma di titik-titik nadi. Menyisir rambutnya digerai rapi. Membubuhkan essence skincare supaya kulit wajahnya semakin halus lembut dan tak lupa mengoleskan lipgloss rasa sroberi di bibir ranumnya. Mengerahkan seluruh kemampuannya.
Tya bercermin, memindai dari ujung kepala hingga kaki. Senyumnya tersungging puas, dirinya tampak cantik dan segar dalam balutan gaun putih tipis dengan wajah tanpa make up di bawah temaramnya cahaya minim lampu tidur.
Hawa dingin menyerbu mengingat gaun tidurnya terbilang tipis. Tya duduk bersandar ke kepala ranjang dan masuk ke dalam selimut yang sudah dilebarkan. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka pertanda Bisma sudah selesai dengan urusan bersih-bersihnya.
“Kenapa belum tidur?” Bisma berbasa-basi begitu melihat Tya masih duduk terjaga dengan ponsel di tangan, padahal hatinya bersorak senang. Merasa dirinya ditunggu. Belum lagi setelah sekian lama tidurnya takkan sendirian lagi tanpa perlu mencuri-curi kesempatan maupun menggunakan dalih seperti halnya tikus jadi-jadian yang tak pernah eksis.
“Belum ngantuk, Mas. Lagi baca pesan masuk yang dikirimkan Khalisa. Baru kebuka, soalnya tadi aku pergi enggak bawa ponsel,” jelas Tya sembari menunjukkan layar gawainya.
Bisma tampak celingukan sekarang. Seperti tengah mencari-cari sesuatu.
“Cari apa, Mas?” tanya Tya.
“Cari handuk kecil buat muka, biasanya kulipat di sini,” jawab Bisma menunjuk nakas samping lemari baju sembari terus mencari.
“Oh, yang kecil warna putih itu ya. Sebentar, aku ambilin. Tadi kugantung di kapstok sebelum kita pergi makan sate.”
“Tadi sengaja kutaruh di kapstok. Biar enggak lembap,” kata Tya sembari serius menyeka.
Bisma tak menjawab, mematung dan mengerjap tak menentu disuguhi pemandangan indah yang sudah lama tak dilihatnya. Sebagai pria normal, saat ruang pandangnya dipenuhi siluet lekuk indah wanita yang disuka menyebabkan serangan dahsyat. Paras cantik Tya dipadu raga seksi menggoda yang hanya dibalut gaun menerawang membuat jakunnya naik turun meneguk ludah. Mendadak sesak napas, bahkan bagian tubuhnya yang lain pun ikut sesak.
“Sudah kering.” Tya hendak menaruh kembali handuk di tangan. Namun, pinggangnya langsung ditahan oleh Bisma.
“Kamu cantik sekali, sangat cantik,” puji Bisma dengan kilatan gairah yang mulai membara di kedua bola matanya.
Tya berusaha untuk tidak gugup meski degupan jantungnya menggila. Menengadah sembari mengulas senyum secantik dewi.
“Baru sadar ya, kalau aku cantik.” Tya mengkerling menggoda, tak sungkan mengalungkan kedua lengan ke leher Bisma dan merapatkan bagian depan tubuhnya.
Bisma tekekeh senang. Mengikis jarak, menggesekkan hidung mancungnya lembut di pipi halus Tya seiring pelukan lengannya yang mengerat.
“Nakal.” Bisma berbisik serak ke telinga Tya. Napasnya berangsur berat. Hasrat yang tadi sore sempat tertunda kini berkobar lebih membara, terlihat dari sorot matanya yang kini berkabut mendamba.
“Mas dingin enggak?” cicit Tya dengan nada manis. Wajah Tya dan Bisma hanya berjarak satu jengkal saja.
“Tentu saja iya. Kamu sendiri gimana? Enggak kedinginan pakai baju begini di suhu daerah Puncak yang semakin malam makin rendah?” Sebelah alis Bisma naik bersama seringai jahil yang terukir. Mendaratkan ujung telunjuknya di pundak Tya dan memutar-mutar nakal di sana.
“Masa iya enggak. Ya dingin lah. Jadinya butuh dihangatkan,” ujar Tya yang mengekeh manja.
“Butuh bantuan?” Bisma masih asyik berbalas godaan. Tya merupakan perwujudan istri yang diidamkan para lelaki di saat waktunya naik peraduan. Tak ragu menggoda lebih dulu. Tidak terlampau mendominasi, tetapi tetap percaya diri terbalut sipu manis.
“Butuh banget dong. Ayo, hangatkan aku, suamiku, " goda Tya lagi.
“Aku juga butuh kamu menghangatkanku, Sayang.”
Tak mampu menahan desir godaan lagi, Bisma menggiring Tya ke tempat tidur. Merebahkannya lembut disusul dirinya mengukung di atasnya. Mengecup kening Tya kemudian membacakan do’a jima yang ditiupkannya ke ubun-ubun Tya sebelum kecupan dan sentuhan lebih intim dicurahkan.
Diperlakukan lembut dan berharga membuat Tya merasa dirinya benar dipuja sebagai istri juga wanita, bukan hanya pemuas nafsu semata. Bisma menyentuhnya dengan cinta dan pemujaan. Memenuhi kekosongannya secara keseluruhan. Bukan hanya memenuhi kebutuhan raga, juga mengisi penuh kebutuhan batinnya dengan sempurna.
Hawa dingin yang memenuhi ruangan, berubah panas kala dua insan itu bergelora dipeluk hasrat dan cinta membara. Jam terus bergulir digerus erangan dua insan yang tengah mengeratkan ikatan batin mereka.
Tak ingin hanya menerima, Tya pun memberi yang terbaik yang ia mampu. Mempersembahkan yang paling spesial untuk Bisma seorang. Membuat Bisma makin memuja dan tergila-gila dengan kepiawaian yang disuguhkan sang istri untuknya di saat otaknya sepenuhnya sadar. Diguyur manisnya madu asmara yang lebih lezat dari yang pernah diteguknya. Membawanya mendaki nirwana yang lebih indah. Meraih kemenangan surga dunia bersama-sama berpadu teriakan nikmat yang menggema dari keduanya.
Bisma ambruk di sisi tubuh Tya dengan napas tersengal setelah kebutuhan ragawinya terpenuhi. Menarik selimut dan memeluk raga Tya yang sama-sama lembab berpeluh dan juga tengah kembang kempis menetralkan napas. Menghujani kecupan sayang di kening dan pipi Tya.
“Sayangku, makasih,” ucap Bisma penuh ketulusan membuat Tya tersenyum haru dalam deru napasnya yang masih berkejaran.
Tya memiringkan posisi berbaringnya. Mengecup bibir panas si pria yang dalam peleburan dua raga menyusuri tubuhnya mencumbu tanpa ampun. Balas memeluk dan menempelkan pipinya di dada bidang Bisma.
Seperti biasa, Bisma selalu gagah dan prima saat di atas ranjang. Hanya saja kali ini tidak beringas tak terkendali, tidak seperti sewaktu di bawah pengaruh zat afrodisiak. Lembut dan lebih intim saat memesrainya, menghujaninya dengan kelezatan surga dunia yang lebih syahdu dan bermakna.
“Jangan cium-cium sembarangan. Bisa-bisa kamu enggak akan tidur semalaman,” kekeh Bisma yang memeluk Tya lebih erat dan menutupkan selimut lebih rapat, melindungi tubuh mereka dari cuaca puncak yang semakin dingin menusuk.
Tya kembali menengadah, mengelus-elus rahang tegas Bisma nakal. “Siapa takut,” ujarnya terkikik yang langsung disergap Bisma dengan hujan kecupan gemas.
“Nantangin nih ceritanya? Kalau gitu, ayo kita begadang, Istriku.”
Dua sejoli itu kembali menautkan raga dan hati. Entah berapa kali mengulang dan mengulang lagi. Menyusuri malam mendaki singgasana penyatuan getar cinta dua hati. Merajut simpul janji dalam sanubari.
Bersambung.