
Sinful Angel Bab 139
Radhika dibuat terperanjat saat masuk ke dalam apartemen pribadi Markus, disambut oleh tuan rumah yang hanya mengenakan boxer saja, outfit yang sangat tidak lazim dalam menerima tamu.
Di atas meja, botol-botol minuman beralkohol berjejer. Yang paling mencengangkan adalah kehadiran dua wanita seksi yang juga berada di dalam sana, berpose menantang di atas sofa, hanya mengenakan seutas bikini mini guna menutupi aset krusial. Dan yang membuat Radhika kian terhenyak, salah satu wanita seksi itu adalah model Brand Ambassador untuk merek utama air mineral dari perusahaan yang dikelola Markus.
“Se-sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat. Ini, minuman untuk Anda, Pak Markus. Sebaiknya saya pergi, silakan dilanjutkan.” Radhika menaruh paper bag berisi sebotol minuman mahal ke atas meja meja, bergabung dengan botol yang lainnya.
Markus meraih paper bag yang diberikan Radhika, mengintip isinya.
"Wow. Selera yang bagus. Jangan pergi dulu, kedatangan Anda sama sekali tidak mengganggu. Malah sudah saya nantikan sejak tadi. Saya sengaja meminta dia membawa temannya, sebagai hidangan menjamu tamu jauh yang datang. Bukankah Anda bilang sedang suntuk dan butuh hiburan serta teman bicara sefrekuensi? Kita bisa ngobrol-ngobrol akrab di sini sambil bersenang-senang bersama,” ujar Markus sembari menaikkan sebelah alisnya.
“Wah, pa-padahal tidak usah repot-repot, Pak Markus. Saya datang ke sini hanya ingin mengobrol dan minum bersama,” sahut Radhika tergagap.
“Hei, jangan kikuk begitu, Pak. Kapan lagi kita bersenang-senang bersama? Anggap saja sebagai perayaan kerjasama perusahaan kita. Anda sudah pernah memberi saya hadiah, giliran saya sekarang yang ngasih kado.”
“Ta-tapi. Di-dia itu kan?” Kalimat Radhika terputus di tengah-tengah.
Markus mengikuti arah pandang Radhika, menyeringai lebar lantas terbahak saat menyadari ke mana mata Radhika tertuju.
“Iya. Dia Cyra, si model yang terkenal dengan kaki jenjangnya sekaligus BA dari produk utama perusahaan saya. Kenapa kaget begitu? Atau, Anda mungkin mau mencoba bersenang-senang dengan Cyra? Itung-itung nostalgia merasakan sensasi masa lalu. Bukankah dulu, Bu Prita juga adalah BA Sinar Abadi?”
“Ahaha, ti-tidak perlu, Pak. Silakan Anda bersenang-senang saja, saya tidak ingin mengganggu.” Radhika hendak balik kanan daripada matanya terus jelalatan disajikan pemandangan menggoda iman, tetapi lengannya ditahan oleh Markus.
“Tidak usah munafik, Pak Radhika. Saya tahu, istri Anda bukan satu-satunya wanita yang Anda tiduri. Di beberapa pesta bisnis yang Anda hadiri seorang diri, Anda pernah mencicipi kehangatan terlarang juga kan? Karena hari ini saya yang ingin memberi hadiah, silakan Anda memilih duluan ingin daging mulus yang mana.”
Radhika menelan ludah. Otaknya menyuruhnya pergi, tetapi kakinya menolak. Tawaran Markus jujur saja menggiurkan, membuat jakunnya naik turun tak beraturan. Kenikmatan terlarang yang kini mendekati dan bergelayut padanya membuat nalarnya musnah seketika.
“Bu Prita juga sedang hamil besar. Pasti Anda rindu main dengan yang ramping-ramping begini, kan?” Markus lanjut memprovokasi.
Termakan bujuk rayu iblis, tanpa disuruh tangan Radhika langsung merangkul pinggang si model yang ditawarkan tuan rumah padanya, mendorong dan mencumbunya di atas sofa, bertepatan dengan pintu apartemen yang menutup sempurna. Tak ingat lagi pada istri bawelnya yang banyak menuntut sedang menggerutu kesal di tempat lain. Tenggelam dalam kenikmatan terlarang yang tak ragu dicicipinya dengan rakus.
*****
Langkah kaki Viona terhenti saat melihat seseorang tak diundang dan tak diharapkan bertemu muka lagi berada tepat di hadapannya. Menginjakkan kaki di butik kesayangannya. Air mukanya jelas tak suka, terganggu.
“Prita? Sedang apa kamu di sini?” tegur Viona ketus yang di telinga Prita malah terdengar seumpama sapaan ramah, tertutup ambisi membuat peraba rasanya tumpul.
“Akhirnya Bunda kembali juga. Aku menunggu di sini sudah lebih dari tiga jam. Para karyawan semuanya keras kepala, tidak ada yang mau membantuku mengabari Bunda tentang kedatanganku kemari yang ingin bertemu langsung untuk menyampaikan hal yang sangat penting bagi kelangsungan image keluarga besar Bunda. Bahkan mereka hanya menyajikanku secangkir teh tanpa camilan selama tiga jam ini. Padahal aku sedang hamil besar, enggak punya rasa kasihan sama sekali.”
Prita merajuk dengan wajah memelas, mengadu tak sadar diri siapa dirinya bagi Viona, menjelek-jelekkan sikap para karyawan. Mengatasnamakan kedatangannya demi nama baik keluarga Viona yang tentu saja ditunggangi licik dengan kepentingan pribadinya.
Viona bersedekap, menatap Prita dengan ekspresi datar.
“Mereka semua yang bekerja di sini hanya menjalankan tugas dan mematuhi aturan yang sudah dibuat. Juga, tempat ini adalah butik pakaian, bukan kafe yang menyajikan banyak menu, bukan tempat untuk mengeluhkan tentang makanan,” jelas Viona menekankan kalimatnya, membuat Prita memberengut tak suka.
Akah tetapi, Prita buru-buru menormalkan air mukanya. Tak ingin membuang-buang waktu dan kesempatan bertemu Viona yang ternyata sangat sulit sekarang.
“Oh iya, Bunda. Aku ingin menyampaikan suatu hal yang sangat penting. Bisa kita bicara berdua? Di ruangan Bunda misalnya. Bukan apa-apa, cuma tidak enak kalau sampai banyak telinga yang menguping,” ucapnya percaya diri, ingin dianggap pahlawan berjasa, belum tahu bahwa fakta yang dibawanya hanya akan menobatkannya sebagai pahlawan kesiangan.
Viona tampak menimbang-nimbang. Hendak menolak namun dia pun penasaran dengan apa yang hendak disampaikan Prita. Datang jauh-jauh dari Jakarta sudah pasti hal penting lah yang dibawa meskipun Viona ragu. Lantaran aura tak mengenakkan menguar kuat.
“Ruangan pribadi hanya untuk urusan pribadi bersama orang-orang penting. Kita bicara saja di kafe sebelah. Bukannya kamu ingin makan camilan?”
Kalimat awal Viona sebenarnya merupakan kalimat sarkas. Jelas menegaskan bahwa Prita bukanlah orang penting lagi baginya. Hanya saja Prita tak cepat tanggap lantaran terlalu fokus pada kata-kata Viona di bait terakhir. Dirinya merasa melambung tinggi saat mantan mertuanya itu menawarkan jamuan.
Kedua bola mata Prita kian berkilat-kilat senang dengan respons Viona. “Boleh banget, Bunda. Ngobrol di kafe memang paling ideal. Aku juga lapar, belum makan siang gara-gara lama nunggu, Bunda,” cicitnya bersemangat.
Viona menghela napas dalam. Menatap perut buncit Prita dan merasa prihatin dengan nasib si jabang bayi nantinya yang memilki ibu seperti Prita. Sebagai seorang ibu, Viona iba pada si bayi, berdo’a semoga bayi di kandungan Prita selalu dalam lindungan dan keselamatan. Bagaimanapun juga bayi itu tak berdosa, yang berdosa adalah kelakuan orang tuanya.
Meski Prita jelas tak tahu diri, tetapi Viona tak sampai hati membiarkan bayi di dalam sana yang pasti butuh nutrisi.
“Kamu bisa sekalian pesan makan selain camilan, Prita. Bayimu pasti kelaparan juga di dalam sana.”
Bersambung.