Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 75



Sinful Angel Bab 75


Makan malam berjalan tanpa banyak kata. Selama acara bersantap berlangsung, Bisma mengamati bahasa tubuh Tya yang tampak kikuk.


Tya yang ditemui Bisma bukanlah pribadi yang mudah grogi. Selalu teguh pendirian serta percaya diri. Akan tetapi malam ini, Tya di hadapannya lebih mirip gadis muda yang terus salah tingkah ketika sedang berada di dekat pemuda yang ditaksir.


Bisma memeriksa jadwal alarm bangun pada jam digital di meja nakas sebelum naik ke tempat tidur. Memastikan waktunya tidak salah. Disetel pukul setengah empat pagi seperti biasa.


“Sudah lewat jam sepuluh rupanya. Arghh, sebaiknya aku segera tidur, besok ada jadwal meninjau perkebunan baru di Puncak.”


Bisma meregangkan punggung pegalnya sebelum memasrahkan diri dipeluk empuknya si kasur mahal. Menarik selimut sebatas perut dan membaca do’a-do’a rutin sebelum tidur sembari menunggu kantuk datang.


Kelebatan-kelebatan bayangan Tya yang belingsatan di meja makan saat makan malam tadi terlintas di benaknya. Bisma melipat bibir, mengulum tawa geli dan sejurus kemudian dia membasahi bibir, tampak berpikir.


“Mungkinkah Tya juga punya rasa yang sama denganku? Tapi, hatiku ini benar-benar berdebar untuknya kan?” tuturnya penuh tanda tanya pada langit-langit kamar.


Sementara itu di kamar sebelah, Tya baru selesai melipat baju-baju yang tadi berserakan di atas ranjangnya dan menatanya kembali ke dalam lemari sampai rapi. Tya hampir mengeluarkan masing-masing separuh isi dua lemari di kamarnya. Mengakibatkan kamarnya bak kapal pecah.


Membasuh wajah dan menyikat gigi tak lupa dilakukan sebelum naik ke peraduan. Tya juga mengganti baju olahraganya dengan si gaun tidur merah marun yang tadi batal dipakai. Mematikan lampu utama dan gegas merebahkan daksa lelahnya di tempat tidur.


“Capeknya. Sok sibuk sekali ya aku hari ini, kayak orang penting aja,” kekeh tya mengomentari dirinya.


“Kira-kira tadi aku kelihatan norak gak ya pas makan malam? Kelihatan aneh enggak ya gara-gara pakai baju olahraga?” ujarnya resah sembari menggigit kuku, berspekulasi overthinking hingga kepalanya pusing. “Haish! Sebodo amat lah, lebih baik tidur!” kesalnya pada dirinya sendiri.


Memiringkan posisi tidur, Tya meraih guling hendak memeluknya. Namun, ia terperanjat kaget saat pintu kamarnya diterobos dengan bising keributan, dan pintu yang diterobos tadi dibanting kencang hingga tertutup lagi.


Tya nyaris terlonjak dari atas tempat tidurnya akibat menegakkan punggung dalam sekali sentak. Bukan hanya masalah pintu yang diterobos penyebab keterkejutannya, tetapi juga ditambah seseorang yang merangsek masuk tanpa izin itu ikut meloncat naik ke atas ranjangnya dan sontak Tya memelotot membulatkan mata.


“Mas Bisma mau ngapain!” Tya memekik, menyilangkan kedua lengan di depan tubuhnya.


“Tya, di kamarku ada tikus!” seru Bisma panik. Memeluk dan membenamkan wajah di bahu Tya mirip bocah yang meminta perlindungan ibunya ketika diserbu rasa takut.


Tya gelagapan dipeluk tanpa peringatan. Lingkupan kedua lengan Bisma hampir mencekiknya saking eratnya. Tya yang semula hendak berteriak ketika Bisma meloncat ke atas ranjangnya dan memeluknya tiba-tiba, mengurungkan niat saat mengetahui penyebab Bisma menerobos masuk ke kamarnya untuk pertama kali. Karena sebelumnya Bisma belum pernah begini.


“Tikus? Kok bisa ada tikus masuk ke rumah bagus begini bahkan sampai ke kamar Mas?” Tya akhirnya bertanya setelah mampu mengatur napasnya yang berantakan. Sementara Bisma yang masih menyurukkan wajah di bahunya terlihat masih menetralkan laju pasokan oksigen ke paru-parunya.


“Aku juga enggak tahu kenapa. Tadi tiba-tiba saja ada tikus yang keluar dari sudut kamar pinggir lemari!” sahut Bisma heboh yang masih membenamkan wajah dan belum melonggarkan dekapan.


Tya mencerna kalimat Bisma dan di detik kemudian ia mati-matian menahan tawa yang ingin menyembur.


“Tunggu, jadi Mas Bisma takut tikus ya? Masa badan gede begini takut sama tikus yang ukurannya lebih kecil?” imbuh Tya tanpa tedeng aling-aling. Sungguh, bagi Tya fakta ini mencengangkan sekaligus menggelikan.


“Oke, oke. Kalau gitu, Mas tunggu di sini. Biar kutangkap tikusnya,” kata Tya tanpa ragu sembari bermaksud mengurai pelukan Bisma di sisi tubuhnya. Menepuk-nepuk lengan Bisma menenangkan.


Bisma mengangkat wajahnya dan menatap Tya dengan sorot tercengang. “Mau ditangkap? Memangnya kamu berani?” tukas Bisma tak percaya, lantaran kebanyakan wanita justru takut dengan binatang pengerat yang satu itu.


“Berani lah, Mas. Kalau cuma tikus itu urusan kecil. Aku sudah biasa menanganinya,” sahut Tya, menjentikkan jari penuh percaya diri. “Sejak kecil, kejadian tikus masuk rumah bukan hal yang aneh. Apalagi sewaktu tinggal di kolong jembatan, bukan cuma tikus, biawak aja masuk ke tempatku berteduh,” jelas Tya apa adanya penuh semangat. Tya tak menyadari bias mata Bisma menyendu terhalang temaram suasana kamar setelah mendengar penuturannya.


Tya hendak beringsut menurunkan kaki. Namun, Bisma menahannya dan memeluknya lebih erat. “Mau ke mana?”


“Mau ke kamar Mas, aku mau nangkap tikusnya biar Mas Bisma bisa istirahat. Aku janji bakal beraksi secepatnya. Jadi sekarang, lepasin dulu tangannya,” pinta Tya sembari menepuk-nepuk tangan Bisma lembut. Menghibur dan menenangkan.


Bukannya melepas pelukan, Bisma malah menarik Tya dalam sekali tarikan hingga terbaring di ranjang bersisian dengannya. Memeluk lebih erat dan kembali menyurukkan kepala di leher Tya.


“Jangan ke sana! Nanti kalau tiba-tiba tikusnya pindah ke sini gimana? Aku benci tikus!” ujar Bisma merajuk lebih parah dari sebelumnya.


Jantung Tya sebetulnya terasa terjun ke dasar perut sekarang saking gugupnya dipeluk begitu rapat oleh seseorang yang berhasil menabuh melodi debaran indah di hatinya. Hanya saja saat ini Bisma benar-benar tampak sedang ketakutan, bukan waktunya meresapi desir rasa dalam dada.


“Nah, terus maunya gimana?”


“Biarkan aku tidur di sini malam ini. Aku enggak mau tidur di kamarku dulu,” pinta Bisma. Dan ucapannya sukses membuat Tya yang terbaring terlentang menelan ludah gugup.


“Gi-gimana kalau tukeran kamar saja buat malam ini? Mas tidur di sini dan aku tidur di kamar Mas.” Tya mengutarakan solusi win win solution.


Bisma menggeleng kukuh di leher Tya. “Enggak mau! Temani aku tidur. Jangan ke mana-mana, aku takut. Perkara tikus diurus besok saja sama Mang Eko. Aku benar-benar harus beristirahat cukup soalnya besok mau ke luar kota.”


Mendengar keluhan Bisma, Tya akhirnya menyerah, membiarkan Bisma mendekapnya hingga akhirnya ia pun mengikuti Bisma memejamkan mata.


Satu jam berlalu, rupanya Bisma belum benar-benar tertidur. Perihal tikus sebetulnya hanya alasan saja karena sebenarnya di kamarnya tidak ada hewan itu sama sekali.


Kedua mata Bisma terbuka sempurna, menatap Tya yang mengatupkan kelopak rapat di bantal dan kasur yang sama dengannya dengan binar berbeda.


Membelai lembut sisi wajah Tya, Bisma beringsut sedikit untuk mendaratkan kecupan di kening Tya, turun ke hidung dan semakin turun mengulum mesra si bibir ranum yang sedikit terbuka, mencuri ciuman, terbawa perasaan.


Ditatapnya lagi paras cantik Tya begitu lama, lantas mulutnya bergerak mengucap kata.


“Tya, aku cinta kamu.”


Bersambung.


Hari ini double up. Jangan lupa hadiahnya, Cinta 🥰