Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 155



Sinful Angel Bab 155


Minggu berganti minggu berlalu, tak terasa kandungan Tya sudah menginjak bulan ke empat lewat tujuh hari. Acara empat bulanan plus resepsi yang telah diatur oleh Viona akan diselenggarakan hari ini.


Resepsi yang semula hendak digelar di hotel, sengaja diadakan di kediaman luas Viona disatukan dengan pengajian empat bulanan mengingat Tya sedang hamil. Dirasa lebih aman dan lebih nyaman untuk sang menantu yang tengah mengandung cucunya itu.


Hunian luas Viona tentu saja sangat mumpuni untuk dipakai menggelar acara besar. Halaman sampingnya saja setara dengan luas delapan rumah tipe tiga kali enam, belum halaman depan dan area belakang yang merupakan area terluas di kediamannya itu.


Undangan disebar ulang. WO kondang ternama di Kota Bandung ditunjuk untuk menyulap rumah Viona menjadi venue resepsi pernikahan. Wara-wiri memastikan segala sesuatunya siap sempurna. Mulai dari dekorasi, vendor acara sampai dengan hidangan katering. Disesuaikan dengan permintaan Viona yang ingin menghelat pesta meriah meskipun diadakan di rumah, tak kalah meriah dengan pesta yang biasa dilangsungkan di hotel-hotel bintang lima.


Farhana sudah tampak hadir besama Yudhistira sekeluarga. Farhana datang lebih awal dan didapuk sebagai pemimpin do’a. Acara pengajian diselenggarakan sore sedangkan agenda resepsi akan berlangsung malam harinya. Keluarga besar Viona berdatangan, ikut memberi selamat dan bersuka cita mendengar akhirnya Bisma dikaruniai keturunan, tak ada yang mempermasalahkan tentang resepsi tertunda yang agak molor.


Tya dibawa duduk di sebelah Viona, begitu cantik dalam balutan gamis dan kerudung berkain maxmara warna sage green. Duduk bersimpuh beralaskan karpet Turki yang sudah tak diragukan lagi kualitasnya.


Tya tak henti menggenang haru sejak acara pengajian dimulai. Tidak pernah menyangka dirinya yang pernah bersimbah hina dina memiliki kesempatan duduk di tempat yang sudah dihias indah, dikelilingi orang-orang yang mendo’akan dirinya juga si jabang bayi. Melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan begitu khidmat, memohonkan do’a terbaik serta keselamatan untuk keduanya.


“Kamu sangat beruntung, Nak. Dikelilingi orang-orang yang menyayangimu begitu besar walaupun kamu dikandung oleh ibu sepertiku. Tidak bernasib seperti ibumu ini yang tidak diharapkan dan tidak diinginkan,” gumam Tya lirih, sangat pelan sembari menyusut sudut matanya dan mengelus perut buncitnya.


Viona mencium pipi menantunya penuh sayang, juga mengelus perut Tya setelah do’a bersama usai dibacakan bersama-sama. Duduk berhadapan, sama-sama berkaca-kaca. Viona menggenggam kedua tangan Tya yang dibalas sama eratnya oleh Tya.


“Selamat atas kehamilanmu, Anakku. Semoga kamu dan cucu Bunda selalu sehat dan bahagia. Panjang umur dalam keberkahan. Beruntunglah bagi para wanita yang dapat mengandung karena pahalamu berlipat dan mengalir deras seiring dengan kepayahan yang kamu rasakan selama mengandung. Solatnya ibu hamil bahkan lebih utama dari 80 rakaat solat wanita yang sedang tidak mengandung. Selama mengandung amanah di rahimmu, sepanjang siangmu mendapat pahala puasa, sedangkan sepanjang malammu laksana pahala qiyamul lail. Menjadi sebab diampuni segala dosa dan khilafmu bagi yang ikhlas menanggung kepayahan dan rasa sakit dari kehamilan yang dijalani.”


Air mata Tya berjatuhan. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru dari rasa bahagia luar biasa yang kini dirasakannya, melimpahi hidupnya. Baru mengetahui bahwasanya pahala wanita yang tengah hamil begitu luar biasa tercurah dari Sang Pencipta.


“Aamiin, makasih Bunda. Terima kasih sudah menyayangi anakku dan menerimaku yang banyak kekurangannya ini,” ucap Tya serak terisak-isak.


“Semua orang memiliki kekurangan masing-masing, hanya berbeda porsinya. Begitu juga Bunda. Manusia tidak luput dari salah dan lupa. Yang penting kita semua tak pernah bosan memperbaiki diri dari hari ke hari.”


Bisma yang memakai baju koko warna senada dengan gamis Tya ikut bergabung. Mencium punggung tangan bundanya penuh takzim kemudian duduk di dekat Tya. Mencium kening sang istri bersama do’a yang ditiupkan ke ubun-ubun Tya.


*****


Bisma mengenakan setelan jas biru tua, berdasi senada dengan gaun pengantin Tya. Senyum bahagia terus terpancar dari keduanya ketika mereka diantar ke pelaminan. Cantik dan tampan laksana ratu dan raja.


Para kolega Bisma, Viona, Arkana dan Nara semuanya diundang. Para pejabat dan orang-orang penting pun turut hadir. Mereka memberi selamat dan turut mendo’akan kandungan Tya.


Tak ketinggalan Vero pun datang bersama Rona sang istri. Bisma menghampiri meja di mana Vero duduk sedangkan Tya disandera oleh Khalisa juga Rona. Menggoda wanita hamil itu dengan seputar obrolan wanita.


“Bro, akhirnya kecebongmu bersemi dan bertumbuh dengan subur di ladang yang tepat, selamat.”


Vero menepuk pundak Bisma. Mengekeh iseng seperti biasa, meski terbalut canda Vero turut berbahagia dari lubuk hati untuk Bisma, yang pernah hampir tak berminat pada wanita lagi kini malah sedang menanti dipanggil ayah oleh darah dagingnya.


“Thanks, Bro. Ternyata rasa bahagianya tak dapat diungkapkan saat tahu aku akan menjadi seorang ayah,” tukas Bisma dengan senyum merekah yang terus menghiasi rupa tampannya.


“Begitulah, tak terkatakan. Bahkan aku berencana membuat Rona hamil lagi. Selain mebahagiakan, istri yang hamil juga selalu bertambah pesonanya, makin seksi,” ujarnya sembari menggosok hidung.


“Aku setuju, itu fakta.” Keduanya terbahak bersama di riuh dan meriahnya acara pesta.


Sementara di ibukota sana Prita sedang dongkol membaca liputan berita tentang resepsi di rumah Viona. Sedangkan dia tengah dipusingkan dengan laporan keuangan perusahaan yang minusnya semakin menukik tajam dan baru tadi sore dia meminta bagian accounting melakukan audit menyeluruh.


“Katanya Mas Dhika pergi ke Bandung buat menjalankan misi lainnya karena misi yang pertama enggak berhasil. Tapi ini kok Bisma sama si mantan per*k itu malah menggelar pesta meriah. Gimana sebenarnya cara kerja Mas Dhika sih? Jadi presdir enggak becus, muasin istri juga enggak becus!” kesal Prita sembari mencengkeram kuat ponselnya, lantas melemparnya ke ujung sofa.


“Haruskah aku melancarkan cara terakhir untuk membuat Bisma kembali dibawah kendaliku, yaitu dengan menyebarkan masa lalu istrinya pada pers?” gumamnya menimbang-nimbang resah, tak sabar lantaran usaha suaminya tak kunjung berhasil.


“Sinar Abadi bisa-bisa gulung tikar kalau terus merugi dan aku enggak sudi itu terjadi!” geramnya mengomel sendiri. “Ngandelin Mas Dhika juga sekarang malah jadi lamban, payah kayak senjata tempurnya! Aku enggak terima Bisma berbahagia sedangkan aku terancam miskin di sini! Enggak, ini enggak boleh terjadi. Aku harus bertindak!”


Dengan perut buncitnya yang sudah kepayahan, Prita mengambil ponselnya yang tadi dicampakkan. Tanpa pikir panjang menghubungi salah satu wartawan kenalannya dan meminta berita miring tentang istri dari mantan suaminya disebarkan saat ini juga.


Bersambung.