Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 14



Sinful Angel Bab 14


Nyaris terjengkang begitulah reaksi Bisma andai keseimbangan tubuhnya tak kokoh menapak. Bagaimana tidak, wanita yang disewanya datang dengan penampilan jauh dari espektasi. Alih-alih anggun dan elegan seperti bayangannya, Tya justru muncul dengan dandanan yang menurutnya terlalu binal. Riasan wajahnya sudah cantik, hanya saja lipstiknya terlalu menor, sama-sama pink pigmented seperti bajunya.


Bisma menahan rasa ingin mencela yang hendak menyembur dengan dehaman beberapa kali padahal tenggorokannya tak gatal. “Ehm, masuklah,” titahnya pada Tya yang masih mematung dan ternganga.


Bisma mengibaskan tangan di depan wajah Tya beberapa kali, lantas menepuk pundak Tya sebab Tya malah melongo. “Hei, Tya, kenapa bengong.”


Tepukan di pundaknya membawa kembali fokus Tya yang berhamburan diporak-porandakan pesona paripurna mas duda. Harus diakuinya, Bisma adalah pria paling menawan yang pernah ditemuinya. Aura bersih memancar dari wajah tampan itu yang diukir jambang halus di sepanjang rahang.


Tya dibuat terkesima saat Bisma tampil super rapi dalam balutan setelan resmi dan terlihat baru selesai bercukur, meski saat mengenakan baju santai pun seperti di pertemuan pertama mereka kliennya kali ini memang menawan dalam level berbeda.


“Pak, Anda ganteng sekali,” celetuk Tya tak menutup-nutupi hal super berkesan yang tertangkap matanya. Memindai Bisma dari ujung rambut hingga kaki berulang kali.


Bisma nyaris saja tersedak udara yang dihirupnya saat Tya dengan gamblang memujinya tampan. Spontan terbatuk. Pujian Tya sama sekali tidak ada unsur merayu di dalamnya, sebenar-benarnya pujian jujur. Namun tetap saja, berefek pada pipinya yang memanas juga meningkatkan intensitas degupan jantungnya.


“Ehm, sebaiknya cepat masuk. Kurang baik mengobrol di ambang pintu. Ada beberapa hal yang harus kita perbincangkan sebelum berangkat ke Ritz Carlton. Maaf kalau terkesan lancang sampai harus di dalam kamar, ini karena yang akan kudiskusikan termasuk poin krusial, kalau di luar khawatir ada yang menguping.” Bisma menggeser dirinya ke samping, memberi Tya akses jalan masuk.


“Baik, Pak,” sahutnya mantap.


Tak perlu berpikir panjang, Tya mengangguk cepat. Ia sudah cukup terlatih membaca body language para pria. Mana yang hidung belang, mana yang bukan. Bisma ini sangat jelas terpampang adalah pria baik-baik, bukan bajingan, sehingga entah dari mana datangnya Tya merasa aman saat berada di dekat Bisma.


Tanpa ragu, Tya melangkah mantap. Akan tetapi, stiletto murah yang dipakainya membuatnya terpeleset.


"Arghhh!" Tya memekik saat tubuhnya tersungkur ke depan nyaris mencium lantai marmer. Beruntung sepasang lengan kekar dengan sigap meraih pinggangnya dan menariknya cepat.


"Duh, maaf, Pak. Ini karena sepatu saya licin," kata Tya terus terang.


Pandangan Bisma merambat turun pada alas kaki Tya. "Buka sepatumu," perintahnya.


"Maksudnya, Bapak ingin saya pergi nyeker ke pesta?" imbuh Tya tak paham, menatap Bisma penuh tanya.


"Pokoknya buka saja. Segera masuk," perintahnya seraya menutup pintu dan melangkah lebih dulu.


Patuh, Tya membuka sepatunya, menentengnya masuk ke area dalam. Kamar yang disewa Bisma begitu luas dan mewah. Tya asyik melihat-lihat, meraba-raba sofa empuk yang didudukinya, sedangkan Bisma terlihat sedang menelepon di dekat jendela tepat di sebelah ranjang, entah sedang apa.


"Sofanya empuk banget. Pasti yang kayak gini harganya super mahal," gumamnya sendiri sembari menekan-nekan permukaan sofa.


Bisma kembali menghampiri. Berdiri di depan Tya yang sedang duduk, menenteng bathrobe di tangan.


"Sudah dibuka sepatunya?" tanya Bisma.


Tya mendongak. "Sudah, Pak," sahutnya sembari mengangkat kedua sepatu yang ditentengnya.


"Setelah sepatu, sekarang bukalah bajumu."


Kalimat Bisma membuat Tya terperanjat. Wajahnya seketika merah padam. Dan tanpa aba-aba sepatu di tangannya melayang di udara.


Bersambung.