
Sinful Angel Bab 10
Marsha dan Lily undur diri setelah Bisma mentransfer sejumlah uang yang telah disepakatinya dengan Marsha. Meninggalkan Tya yang kini duduk berhadapan dengannya.
Bisma sangat tahu seharusnya dia menundukkan pandangan, kurang sopan mengamati lawan jenis sedemikian rupa seperti yang saat ini sedang dilakukannya. Bisa dibilang ini merupakan kali pertama lagi dalam kurun waktu dua tahun terakhir ruang pandang Bisma tertarik pesona makhluk berjenis wanita.
Bisma dibuat terheran-heran oleh dirinya sendiri. Mendadak tak ingin berhenti memindai sosok sederhana yang duduk berhadapan dengannya padahal baru awal jumpa. Padahal wujud wanita bernama Cintya ini hanya mengenakan pakaian kusut, tanpa riasan bahkan menanggalkan kerapian.
Kendati begitu, aura sensualnya kental terasa, daya tarik yang hanya dimengerti para pria. Namun, bukan itu yang menyedot perhatiannya, sorot mata teduh menyejukkan kalbu itulah yang membuatnya tak ingin berpaling. Ada sesuatu yang terpancar dari balik tirai iris coklat susu itu, tertarik ingin menceburkan diri dan menyelaminya.
“Agen nomor tiga_”
“Panggil Tya saja, Pak,” potong Tya cepat. “Saya merasa jadi robot dalam film alien saat dipanggil begitu,” ujarnya sembari mengusap tengkuk dengan tak lupa berusaha tetap menjaga tata krama.
Bisma berdeham kikuk. “Ehm, baiklah, Tya. Sebelum hari H yaitu besok malam, saya ingin kita berdiskusi beberapa hal terkait apa saja yang harus kamu lakukan di pesta yang akan kita hadiri bersama nanti,” jelas Bisma kaku.
“Baik, Pak. Tapi, apakah ini pertama kalinya Anda menyewa jasa semacam ini?”
Untuk sejenak Bisma tergugu. Lama kelamaan tak urung mengangguk juga. “Iya, ini pertama kalinya.”
Bibir merah muda agak pucat milik Tya menyunggingkan senyum manis, membingkai kekehan renyah sekilasnya yang sialnya malah membuat Bisma terpana.
“Pantas saja.” Tya mengulum senyum sekarang, tebakan di kepalanya tak pernah meleset membaca ekspresi para pria. Jika diibaratkan, Bisma ini sudah dewasa dan matang tetapi lugu. Bukan tipe liar dan nakal. “Anda terlihat sangat tegang. Rileks saja, Pak. Saya tebak, pasti Anda terdesak situasi sehingga memutuskan menyewa jasa dari Date House.”
“Saya takkan menyangkal, karena memang begitulah situasi saya sekarang,” sahut Bisma apa adanya.
Bisma menuturkan singkat saja langsung pada intinya terutama perihal undangan yang akan dihadiri adalah pesta mantan istrinya. Meminta Tya berperan sebaik mungkin menjadi kekasihnya nanti. Jangan sampai ada cela, karena Prita bukanlah orang yang mudah dikelabui.
“Bonus uang tip?” Tya terlonjak antusias mendengar kata bonus tambahan. Sebab dari total setiap transaksi yang didapat Marsha, para agen hanya akan diberi bayaran 10 persen saja dari total harga negosiasi. “Tapi kalau bisa, uang tipnya langsung diberikan pada saya saja Pak, jangan lewat Mami Marsha,” pintanya terus terang agak memaksa. Tya tidak munafik, dia bekerja begini pun karena butuh uang untuk menyambung hidup.
“Baik. Tapi saya tidak janji memberi. Karena bonus diberikan setelah penilaian performa kerja dilakukan.”
“Saya paham. Akan saya pelajari sebaik-baiknya garis besar yang Anda tuturkan tentang apa saja yang harus saya lakukan di pesta nanti. Anda tenang saja, bersikap anggun berkelas sampai mengundang keributan pun saya bisa,” tutur Tya yang sebetulnya sedang berupaya profesional, hanya saja di mata Bisma justru terkesan lucu mendengar pemaparan Tya tentang membuat keributan.
“Tidak perlu sampai membuat keributan. Tapi kalau terpaksa mungkin ide membuat huru-hara bisa jadi referensi," timpal Bisma yang mulai rileks bertukar kata.
“Siap, Pak. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik, pelayanan jasa terbaik sesuai dengan yang sudah Anda beli. Tapi, ada beberapa poin penting yang ingin saya informasikan kepada Anda agar tidak mengundang kesalahan persepsi nantinya, karena klien kerap kali salah paham terhadap kami. Juga bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk tetap membawa saya sebagai teman pesta atau tidak, mengingat masih banyak agen lain yang kompeten.”
“Silakan,” kata Bisma. Mempersilakan dengan elegan, memberikan ruang pada lawan bicaranya untuk bertutur. Terlebih lagi Tya ini memiliki kepercayaan diri yang menancap kuat dari cara berbicaranya.
“Saya ingin memperjelas. Agen Date House disewa hanya untuk mendampingi ke pesta, hanya wajib menemani sebagai pasangan selama pesta berlangsung. Khusus untuk saya tidak bersedia memakai baju yang terlalu terbuka, saya tidak bersedia minum alkohol, juga tidak menerima transaksi BO selepas acara selesai. Saya sudah pensiun,” jelasnya terus terang saja.
Bisma memicing dalam diam mendengar kata 'pensiun’ dalam artian ambigu. Agak ragu untuk menimpali meski otaknya langsung paham dalam hitungan detik.
“Kenapa Anda bengong, Pak?” Tya mengibaskan tangannya di depan wajah Bisma.
“Ah, bukan apa-apa,” kata Bisma tak enak hati mengungkapkan apa yang berkelebat di benaknya.
Seolah dapat membaca pikiran Bisma, Tya menghela napas panjang, tersenyum simpul kemudian berkata, “Apakah Anda berharap ada wanita baik-baik yang bekerja di bidang semacam ini, Pak? Kalau iya, maka pemikiran Anda terlalu naif. Wanita baik-baik dan terhormat tidak akan sudi bekerja di Date House, sebuah profesi miring yang masih bersinggungan dengan dunia kelam. Dan saya pun tidak akan mengizinkan andai ada yang nekat. Walaupun tidak menemani tidur, tetap saja konotasinya negatif. Saya mantan kupu-kupu malam, Pak. Dan semua agen di Date House dulunya adalah para kupu-kupu malam yang masih butuh pekerjaan untuk menyambung hidup tapi tidak ingin lagi menjajakan raga kami, hanya menjual jasa sebagai pasangan yang menemani ke pesta.”
Bersambung.