Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 138



Sinful Angel Bab 138


Radhika menyandarkan punggungnya lelah pada sandaran jok mobil setelah mencari-cari informasi tentang status pernikahan Bisma dengan Tya. Memijat pangkal hidungnya yang berdentam pusing saat celah yang diharapkan pupus sudah.


Dari sumber informasi terpercaya, validasi terkait pernikahan Bisma dan Tya sudah didapatkan, dipastikan telah resmi terdaftar secara negara meskipun tanggal tepatnya tidak dibocorkan terkait kode etik informasi pribadi.


“Ck, bikin kesal saja!” kesalnya sembari memukul setir mobil.


Radhika berkirim pesan dengan Prita. Bertanya apakah istrinya itu sudah selesai dengan urusan di butik VN dan ternyata setelah satu jam berlalu Prita mengabarkan belum bertemu dengan Viona. Meminta Radhika menunggu kabar darinya saja kapan suaminya itu harus menjemput.


“Nunggu lama-lama begini bosan juga. Telepon Pak Markus saja lah, cari hiburan biar kepala enggak pening.”


Radhika menghubungi Markus. Gayung bersambut, Markus mengajaknya minum-minum bersama di apartemen pribadinya. Mumpung istrinya, Resya, sedang berlibur ke luar negeri dengan anak-anak beserta keluarga besarnya.


“Share lokasi saja alamatnya, Pak Markus. Saya meluncur sekarang juga. Lagi suntuk, butuh teman ngobrol sefrekuensi. Oh iya, minuman apa yang Anda suka? Saya ingin membawa buah tangan untuk Anda.”


Mobil yang dikemudikan Radhika tancap gas menuju apartemen Markus, berkendara dengan riang sambil bersiul.


****


Di butik pusat VN Fashion, sudah satu jam lebih Prita menunggu kemunculan Viona. Wanita hamil itu duduk tak tenang. Sesekali mondar-mandir sembari melongokkan kepala ke area pintu masuk setiap kali ada yang datang.


“Bunda memangnya makan siang di mana sih? Lama banget. Biasanya dulu juga enggak pernah cari makan jauh-jauh dari butik, pasti masih di sekitaran sini. Kasih tahu saja di restoran mana Bunda makan, biar aku nyusul,” pintanya memaksa pada salah satu karyawan butik yang sudah lama bekerja di VN.


“Maaf, Mbak Prita. Setiap istirahat siang yang meliputi makan siang dan Solat Dzuhur, Bu Viona selalu berpesan tidak ingin diganggu orang luar. Biasanya Bu Viona kembali ke butik sekitar pukul satu siang atau bisa jadi tidak kembali lagi ke sini kalau sedang ada urusan di luar. Jadi, silakan menunggu ya,” sahut si karyawan wanita berseragam VN itu, memberi penjelasan dengan sopan dan ramah.


Prita bangkit dari duduknya, bersedekap menunjukkan kesombongan, mendelik tajam tak terima.


“Orang luar? Jadi maksudmu aku ini orang luar? Kamu enggak ingat siapa aku!” Prita berseru sengit.


“Tentu saja saya masih ingat. Mbak Prita adalah mantan istrinya Pak Bisma yang artinya pernah menjadi menantu Ibu Viona,” tukas si karyawan cepat.


“Nah itu kamu ingat, berarti aku ini bukan orang luar! Jangan asbun kalau ngomong! Aku laporin Bunda baru tau rasa, biar dipecat sekalian!” sergahnya menggertak. Tak sadar posisi siapa dirinya sekarang saking luar biasa tak tahu diri. “Cepat kasih tahu di mana Bunda makan?”


“Maaf, tapi Mbak Prita tetap orang luar sekarang. Sudah bukan anggota keluarga besar Bu Viona lagi. Perlu saya ingatkan, posisi Mbak Prita kini cuma mantan menantu bos saya. Maka dari itu saya tidak bisa membocorkan informasi di mana Bu Viona makan siang,” jawabnya menegaskan tanpa meninggikan nada suara. Berbanding terbalik dengan Prita yang berapi-api, wajahnya merah padam terbakar marah juga malu.


“Kamu, mulutmu lancang!” Prita berteriak marah. “Walaupun cuma mantan menantu tapi aku ini masih bisa dikategorikan keluarga!”


Prita mengempaskan lagi bokongnya di sofa ruang tunggu. Menyugar rambutnya kasar, frustrasi dengan argumen skak mat yang diutarakan si karyawan lantaran Prita tentu tak memiliki nomor ponsel pribadi Viona yang teranyar. Mantan mertuanya itu menutup semua akses komunikasi dengan Prita selepas perceraiannya dengan Bisma.


Prita memijat kulit kepalanya yang berdenyut sakit akibat akumulasi kejengkelan yang menumpuk. Semua rencananya hari ini tak berjalan lancar membuatnya dongkol bukan kepalang. Mulai dari kegagalan menemui Bisma yang ternyata sedang berlibur, ditambah sekarang menemui Viona pun sulitnya tak main-main.


“Gimana, Mbak Prita? Mau menghubungi Bu Viona atau menunggu?” tanya si karyawan lagi.


“Saya mau menunggu saja di sini sambil lihat-lihat koleksi VN. Lanjutkan saja pekerjaanmu sana!” usirnya gengsi.


Sementara duo benalu sedang kesal tak karuan, dua sejoli yang menjadi incaran mereka malah sedang merajut indahnya asmara di tempat berlibur yang sejuk nan syahdu. Dikelilingi hamparan hijau kebun teh. Dibanjiri oksigen minim polusi. Dikepung keindahan sejauh mata memandang.


Selepas makan siang, Tya menepati janjinya mempersembahkan keterbukaan yang semalam dijanjikan pada suaminya. Keduanya rakus meneguk madu cinta. Mengayuh bersama dengan kelembutan agar si jabang bayi tak terganggu kedamaiannya. Mendaki nirwana setinggi-tingginya di atas empuknya peraduan.


Pasangan yang belum lama kembali bersama itu saling mencumbu penuh rindu, saling merayu bersama engah lenguhan bersahutan di dalam kamar vila. Mengenyahkan dinginnya udara yang menyapa raga, digantikan dengan peluh yang berembun, meremang dari setiap pori-pori kulit dan kutikula.


Erangan panjang nan jantan bepadu teriakan feminin nan seksi menjadi penanda bahwa tuntutan ragawi mereka telah terpenuhi. Tya terkulai lemas di dada Bisma. Menjatuhkan dirinya di sana dengan peluh membanjiri. Kepuasan tercetak jelas di raut wajah mereka, dibanjiri kebahagiaan tak terkatakan.


Sigap, Bisma menarik selimut yang tergulung kusut di atas kasur yang masih terjangkau tangannya. Menutupkannya ke raga mereka yang masih dalam posisi intim agar Tya tidak masuk angin, lantas mengusap-usap punggung lembab Tya yang naik turun secara konstan, masih dalam fase menetralkan napas.


Lantai yang dilapisi karpet tampak tak karuan, dipenuhi dengan pakaian mereka berdua yang dilempar serampangan saat keduanya sudah tak sabaran sama-sama ingin memadu kasih.


“Gimana perutnya, ada yang sakit?” tanya Bisma penuh perhatian, menggulingkan Tya dengan lembut ke sisi tubuhnya dan memeluknya mesra, melingkupi Tya dengan dekapan posesif.


“Enggak ada, Mas. Yang ada cuma enak,” bisik Tya sensual nakal ke telinga Bisma. Kemudian menenggelamkan wajahnya yang memanas ke ceruk leher sang suami, bersembunyi karena merasa malu dengan kalimat vulgarnya sendiri.


Bisma terkekeh senang, mengecup pipi Tya gemas. “Tidurlah sebentar. Pasti kamu capek kan habis naik-naik ke puncak gunung penuh semangat kayak barusan?” goda Bisma membalas keisengan Tya.


“Ya, aku butuh tidur, Tuan. Peluk, biar enggak dingin.”


Sesuai permintaan sang istri, Bisma memeluk Tya lebih merapat sembari mengelusi punggung halus Tya lembut hingga istrinya itu benar-benar terlelap terbungkus selimut.


Meraih ponsel di dekat bantal, Bisma memeriksa pesan masuk. Mang Eko yang mengirim pesan lengkap dengan tangkapan gambar Prita dan Radhika. Memberi kabar bahwa mantan sahabat dan mantan istrinya itu datang mencarinya.


"Mau apa lagi mereka?"


Bersambung.