Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 158



Sinful Angel Bab 158


Dengan perasaan tak menentu, Prita mondar-mandir di depan para pegawainya dengan ponsel menempel di telinga. Sembari mengigiti kukunya tak henti, Prita terus menghubungi nomor Radhika sudah yang ke sepuluh kalinya namun masih tak kunjung tersambung.


Nomor ponsel suaminya itu terus saja di luar jangkauan, pesan terakhir dilihat pun masih di waktu kemarin pagi, sewaktu Radhika mengatakan akan berangkat ke perkebunan langsung dari Bandung tanpa pulang dulu ke Jakarta.


“Kalian yakin sudah memeriksa dengan teliti? Kemarin suamiku bilang kalau sudah waktunya tiga perkebunan itu panen, tapi kenapa laporan dari kalian malah bilang perkebunan utama dijual!” bentak Prita melampiaskan kekesalannya.


“Kami sudah sangat yakin seyakin-yakinnya Bu. Kami sudah mencari informasi pada notaris yang ikut terlibat dalam proses jual beli. Semuanya sudah dijual atas persetujuan Pak Radhika dan pembayarannya pun dimuka. Notaris tersebut juga mengirimkan Copian tentang surat yang ditandatangani Pak Radhika ke surel perusahaan beberapa saat yang lalu, katanya mungkin diperlukan untuk arsip Sinar Abadi,” jelas salah satu pegawai tim audit yang akhir-akhir ini harus lembur demi mengecek keuangan perusahaan yang semakin krisis. Menyodorkan laptop di hadapannya kepada Prita.


Degupan was-was memukul-mukul rongga dadanya saat Prita membaca email masuk yang disebutkan karyawannya. Menelan ludah berkali-kali masih mencoba untuk tetap tenang. Setelah selesai membaca copian jual beli, Prita mengecek sendiri semua rekeningnya juga meminta bagian accounting memeriksa rekening perusahaan, siapa tahu memang ada dan masuk yang nominalnya sejumlah dengan harga tiga perkebunan yang tertera dalam surat copian.


Dia masih berpikir positif mungkin suaminya sengaja menjual perkebunan itu untuk membeli lahan subur lain yang memang sedang mereka cari, mengingat kualitas daun teh dari tiga perkebunan itu terus menurun akhir-akhir ini.


Namun sayang, semua rekening yang diperiksanya, tak bertambah jumlahnya. Hanya satu rekening Prita yang masih ada isinya. Itupun tidak banyak, bahkan tidak mencapai satu milyar, sedangkan dana yang harus dikeluarkannya setiap bulan terutama untuk kebutuhan pribadinya serta perusahaan jumlahnya tidak sedikit.


Di saat situasi di ruangan itu semakin genting, si sekretaris memberitahu Prita bahwa ada notifikasi dari kartu kredit yang dipegang Radhika dari sebuah toko berlian di Semarang satu jam lalu, tertera membeli perhiasan sebanyak 350 juta. Kartu yang pembayaran tiap bulannya ditanggung perusahaan.


“Mas Dhika ini sebenarnya apa-apaan sih? Lagi pailit malah beli-beli berlian? Atau jangan-jangan, itu buat hadiahku saat melahirkan nanti?”


“Tapi, bukannya bapak di perkebunan? Tapi ini kenapa alamatnya di Semarang bu? Sejak kapan Sinar Abadi punya perkebunan di Semarang?” tukas si sekretaris kebingungan.


Petugas accounting yang diminta Prita mengecek semua rekening perusahaan menghampiri Prita.


“Data di tiga hari terakhir ini sama sekali tidak ada dana yang masuk, Bu. Cuma pengeluaran besar beberapa hari lalu yang terdeteksi setelah diaudit, Bu. Yang laporannya sudah dikirimkan ke surel alamat ibu. Yakni pemindahan dana hampir separuh dari saldo aktif perusahaan yang biasa kita pakai untuk dana pabrik. Dananya terkirim ke rekening pribadi Pak Radhika. Kalau dana perusahaan terus menipis dan perkebunan pun sudah tidak kita miliki lagi, Sinar Abadi terancam bangkrut, Bu.”


“Diam! Jangan seenakanya menyebutkan kata terlarang itu di sini!” jeritnya marah.


Prita yang terlalu asyik menggoreng berita yang disebarkannya sampai abai akan pesan-pesan dan laporan penting lagi genting yang masuk ke ponselnya. Sejurus kemudian Prita mundur beberapa langkah dengan menopang tubuhnya pada deretan meja-meja kerja di sana, meraih kursi terdekat dan duduk di sana sebab tubuhnya seperti kehilangan tenaganya sekarang.


“Mas Dhika memindahkan dana sebesar itu untuk apa!” serunya mulai resah. “Itu kan dana produksi!”


“Maaf, Bu. saya juga tidak tahu. Ibu kan istrinya, pasti lebih tahu. Sedangkan kami cuma karyawan,” sahut si karyawan takut-takut sembari menunduk.


Keterangan demi keterangan tak terduga membentuk gasing yang terus berputar di kepala Prita. Dengan tangan gemetar, ia mencoba menghubungi lagi ponsel Radhika dan kali ini tersambung, membuat Prita membuang napas lega.


“Ough… goyanganmu membuatku gila!”


“Kamu selalu hebat, Mash. Ah… ah!”


“Jadi… aku ini hebat kan? Memang cuma kamu yang paling mengerti aku Hah… hah!”


“I-iya. Kamu yang paling he-hebat… akh! Ahh… lebih dalam lagi, Mash….”


“Akh… begini, Sayang. Kamu suka?”


“Suka banget, ahh. Mas Dhika… ough.”


“Mas Dhika! Siapa wanita yang bersamamu! Kamu main gila ya Radhika Suroso! Aku ini sedang hamil besar, bajingan!”


Prita berteriak murka sembari memegangi perutnya. Bahunya naik turun begitu kontras. Wajahnya merah padam. Kentara amarah sedang mengerumuninya. Tak ada jawaban, malah lenguhan dan erangan di sana makin menjadi berpadu racauan senonoh juga suara ranjang berderit.


Tepat ketika Prita hendak berteriak lagi, sambungan telepon dimatikan oleh si pemegang ponsel di seberang sana.


“Bangsat! Jawab aku di mana kamu sekarang? Berani-beraninya kamu mengkhianatiku!”


Prita mengamuk melempar apa saja yang teraik tangannya, bahkan ponselnya pun terlempar jauh. Tak ada yang berani menghentikan amukan Prita yang membabi buta. Prita baru berhenti saat perutnya mendadak sakit disusul cairan hangat yang merembes di antara kedua pahanya dan saat menunduk dia dibuat semakin terkejut dengan cairan warna merah muda yang mengalir membasahi betisnya.


Bersambung.


Assalamualaikum wr. wb. Halo teman-teman pembacaku tersayang semua, semoga di manapun kalian berada selalu sehat dan bahagia. Maaf baru bisa update kembali, beberapa hari terkahir kondisi kesehatanku sedang kurang baik.


Jangan lupa selalu jaga kesehatan ya dan selamat menunaikan ibadah puasa.


With Love


Senjahari_24