
Sinful Angel Bab 60
Sambungan telepon dimatikan. Bisma tercenung dengan ponsel masih dalam genggaman. Kalimat panjang lebar Vero menyadarkannya akan suatu fakta yang jujur saja membuatnya tercengang sendiri. Yakni tentang dirinya dan Tya merupakan suami istri sungguhan, yang maknanya saat dirinya mencium Tya di balkon tidaklah melanggar norma, bukan suatu kesalahan.
Kalimat-kalimat Vero saat mereka berbincang cukup lama tadi memenuhi benaknya. Yaitu tentang terlepas dari alasan yang mendasari pernikahan sirinya dengan Tya terjadi, mereka tetaplah pasangan sah yang terikat akan hak dan kewajiban setelah ikrar suci terucap dari lisannya sendiri. Hak dan kewajiban yang harus dipenuhi baik oleh suami maupun istri. Yang namanya pernikahan tetaplah ikatan sakral, bukan permainan. Hal yang luput dari pemikirannya sebab terlalu larut dalam kukungan selimut emosi, luka hati, ditambah tak sudi diolok-olok mantan lagi.
Vero juga menambahkan, mungkin saja Bisma dan Tya memang memiliki garis jodoh karena sebuah pernikahan terjadi pasti karena kehendak-Nya. Hanya saja jalan bersatunya mereka tak lumrah, tak seperti orang kebanyakan. Kalimat penutup Vero pun terngiang-ngiang di telinganya.
Sang Pemilik Alam memang tak selalu memberi apa yang kamu panjatkan dalam do’a, tapi yakinlah apa yang diberikannya padamu adalah yang kamu butuhkan.
Menaruh gawai ke saku celana, Bisma berjalan memutar menghampiri sisi ranjang di mana Tya berbaring. Duduk di tepiannya, Bisma menunduk dalam mengamati wajah Tya yang matanya tengah memejam rapat itu, padahal sebetulnya Tya belumlah tertidur. Sembari bertanya-tanya dalam hati kenapa dirinya berakhir memperistri wanita bersorot mata teduh ini. Masih tak yakin dengan fakta yang baru disadarinya. Diiringi sejumput rasa bersalah karena merasa lalai menunaikan kewajiban yang seharusnya. Seperti kata Vero, terlepas dari apapun, sekarang ini Tya adalah istrinya yang sah.
Tangannya terulur begitu saja. Awalnya ragu untuk menyentuh, tetapi teringat bahwa wanita ini jelas halal untuknya, Bisma membelai rambut Tya yang tergerai, merapikannya agar tidak menutupi wajah cantik nan sendu yang terlelap itu.
“Maaf, menyeretmu terlalu jauh ke dalam masalahku, Tya. Aku ingin menyelesaikan masalah yang kutimbulkan, tapi tanpa kusadari malah menciptakan masalah baru. Mungkinkah saat kamu menyadari kenyataan sepertiku sekarang, kamu akan marah padaku karena merasa terjebak denganku? Mungkinkah kamu merasa ditipu karena posisi dan statusmu kini menjadi istriku yang sah? Aku sama sekali enggak pernah bermaksud mempermainkan yang namanya ijab kabul pernikahan. Hanya saja tanpa sadar aku sudah melakukannya,” gumam Bisma berat, desah napasnya kentara menyesal.
Berlama-lama menatap Tya dan mengingat nasib sebatang kara si gadis yang hidupnya sangat keras tak seberuntung orang kebanyakan, serbuan rasa iba juga ingin melindungi menyeruak tanpa permisi entah dari mana datangnya. Bisma semakin membungkuk, mengecup kening Tya tanpa ragu, menyapukan jarinya lembut di sana setelahnya.
Bisma terkekeh, tertawa sendiri seperti orang gila. Batinnya bertanya-tanya. Mungkinkah dirinya mulai menyayangi dan menyukai wanita ini? Wanita dengan kisah masa lalu kelam yang sama sekali tak pernah terpikirkan akan ambil bagian dalam perjalanan hidupnya. Akan tetapi, sejak kapan rasa itu dimulai?
Bisma tak pernah memandang Tya hina meski tahu masa lalunya kelam. Dia tak punya hak menghakimi. Terlebih lagi Tya yang ditemuinya adalah versi Tya yang sedang berjuang bangkit demi menjadi manusia yang lebih baik lagi. Pribadi Tya yang berterus terang lugas juga tegas di awal jumpa meninggalkan kesan kuat yang tak disangka-sangka, jenis keteguhan dan kegigihan mengagumkan yang tersembunyi di balik tubuh rapuhnya.
Menarik selimut yang terlipat di ujung ranjang, Bisma menyelimuti Tya. Lantas mengusap lembut pipi Tya dan berkata, “Selamat tidur."
Tya membuka mata saat dirasa Bisma sudah berbaring lagi. Merasa sudah cukup memberi jeda. Disentuhnya keningnya sendiri, di mana jejak kecupan Bisma tertinggal. Ukiran melengkung cantik di bibirnya ikut menghiasi. Rongga dadanya serasa dipenuhi ribuan kupu-kupu, terbang ke sana kemari menggelitik kalbu.
Namun, beberapa menit berlalu matanya malah memanas dan berair. Bukan merasa sedih atas apa saja yang tertangkap telinganya maupun laku lembut Bisma yang diterimanya. Namun, ia mendadak takut tak mampu mengendalikan perasaanya sendiri yang mulai meronta tak tahu diri.
Bersambung.