Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 65



Sinful Angel Bab 65


Di salah satu kamar hotel di lantai satu, bersebelahan dengan kamar tempat Prita menginap dengan Radhika, Prita tengah naik pitam sembari menunjuk-nunjuk si pegawai hotel yang sempat memapah Bisma beberapa jam lalu. Si pegawai bertutur apa adanya saja tentang kejadian di lantai satu tadi, membuat Prita makin kesal merasa kalah telak, menghardik dan mengusir si pegawai tersebut.


“Kenapa semuanya jadi kacau begini! Arghh!” Prita membanting pintu kamar tersebut, mengempaskan bokongnya di tempat tidur lantas mengetikkan pesan yang dikirimkannya pada Radhika.


Rencana kita gagal!


Sebetulnya kekesalan menggunung Prita bukan hanya karena rencananya dengan Radhika gagal total, tetapi juga lantaran rencana terselubungnya pun ikut hancur berantakkan.


Prita dan Radhika memang merencanakan hal tidak baik terhadap Bisma. Hendak menjatuhkan image Bisma di acara besar ini. Tak terima riak-riak kesuksesan menghampiri perusahaan baru Bisma. Digelapkan keserakahan. Sejak semalam, Radhika dan Prita menyusun rencana untuk menjebak Bisma guna menghancurkan reputasi Bisma dan perusahaan barunya yang bisa dibilang masihlah hijau di dunia perbisnisan. Dan ketika di kafe, mereka mendapat angin segar untuk segera menumbangkan Bisma secepatnya.


Radhika setuju dengan ide dadakan Prita untuk mencekoki Bisma dengan alkohol. Rencana yang disepakati berdua adalah, Bisma yang mabuk akan dibawa ke kamar yang semula disewa untuk menyimpan produk pameran mereka. Di saat pesta akan dimulai, Radhika akan ke Ballroom sementara Prita akan menemani Bisma yang mabuk.


Dalam susunan akal bulus mereka, saat waktunya tiba yaitu di tengah-tengah acara pesta penutupan, Prita akan berbaring bersama Bisma yang mabuk dan membuat alibi seolah-olah Prita dilecehkan Bisma, dipaksa Bisma untuk bercinta di saat Radhika sibuk dengan seminar dan pameran. Memanfaatkan hadirin yang banyak mengetahui kisah dahulu bagaimana Bisma memuja Prita. Nantinya Radhika akan berakting mencari-cari Prita yang tidak tampak di pesta, dan akan membawa beberapa hadirin memergoki Bisma yang sedang bersama Prita. Radhika akan berakting murka terhadap Bisma sedangkan Prita tentu harus berlakon teraniaya. Dengan begitu dipastikan image Bisma hancur di ranah perbisnisan, sedangkan Prita akan semakin mendapat simpati.


Hanya saja di tengah perjalanan dari kafe, Prita memiliki rencana sendiri yang tidak dikatakannya pada Radhika. Mereka memang sengaja berpencar untuk menyusun alibi.


Taksi yang ditumpangi Prita berhenti sebentar sebelum sampai di hotel dan dia kembali ke mobil dengan membawa minuman lain yang sudah dicampur afrodisiak, memberikannya pada Bisma yang mulai mabuk. Tidak ingin hanya sekadar akting saja. Digelapkan hawa nafsu juga ambisi.


Harus diakuinya, saat bertemu lagi dengan Bisma yang sekarang semakin matang saja, Prita terbayang-bayang dan merindukan akan keperkasaan Bisma di ranjang di saat dirinya tengah kehausan akan hal itu. Apalagi setelah melihat tanda merah yang dipamerkan Tya, rasa mendamba ingin mencicipi kembali semakin menggebu saja, tak ingat dengan kehamilannya yang seharusnya lebih diprioritaskan. Mendamba kenangan di masa lalu terutama perlakuan Bisma saat di ranjang yang selalu memastikan istrinya mendapat pelepasan lebih dulu dalam setiap percintaan, yang ditutup kecupan manis serta ucapan terima kasih.


Pukul setengah empat dini hari Tya terbangun dari tidur lelapnya. Mengerjap perlahan lantas meringis saat merasakan sekujur tubuhnya seakan remuk redam.


“Akh, badanku,” ringisnya pelan sembari menutup dan membuka kelopak mata perlahan, mengarahkan pandangan pada jam yang tergantung di dinding.


Merasakan ada yang berbeda di balik selimut seolah ada yang menindih perutnya, Tya menyingkap selimut yang membungkus tubuh dan mengintip ke dalamnya.


Tya terkesiap, di sana melingkar lengan kekar yang memeluknya posesif, makin tercengang saat menyadari dirinya tak memakai sehelai benang pun di bawah selimut. Nyaris saja ia berteriak. Buru-buru membekap mulut saat menoleh ke belakang dan mengenali siapa sosok yang memeluk.


Mendesahkan napas lega, Tya menepuk-nepuk dadanya sendiri. Merebahkan kembali kepalanya di bantal bertepatan dengan seluruh ingatan semalam yang terjadi sebelum dirinya tertidur terpampang di benaknya.


“Ffuhh, hampir saja aku bikin keributan di pagi buta begini!” gerutunya sembari menjitak dirinya sendiri.


Menggulingkan posisi berbaringnya perlahan, Tya kini rebah terlentang. Menatap Bisma yang masih tenggelam dalam tidur lelapnya. Mendengkur halus memeluknya erat, sama-sama tak berpakaian.


Kilas balik seluruh kejadian panas tak terencana yang terjadi semalam berputar-putar di benaknya. Pantas saja badannya terasa agak ngilu di beberapa bagian, mengingat betapa gagahnya Bisma semalam. Stamina Bisma ternyata sangat prima di atas ranjang terlebih lagi terpicu zat lain yang membuat Bisma agak liar. Lantas pipi Tya merona begitu saja, sepotong adegan manis lagi-lagi melintas, tepatnya sebelum mereka benar-benar memejamkan mata selepas kelelahan mendaki surga dunia.


“Jangan jauh-jauh dariku, jangan ke mana-mana, aku masih membutuhkanmu, Sayang,” pinta Bisma yang ingin memeluk Tya merapat padanya sebelum meluncur ke alam lelap.


Bersambung.