
Sinful Angel Bab 58
Bisma dan Tya memasuki ballroom di menit-menit terakhir menjelang dibukanya acara seminar. Termasuk terlambat, karena semua peserta seminar hampir 95 persennya sudah nampak hadir.
Mereka terlambat datang akibat terbuai khilaf tak terencana. Menggerus keduanya dalam pusaran pertautan bibir yang enggan terlepas. Awalnya hanya untuk memana-manasi Prita. Namun, siapa sangka saat bertukar saliva raga Bisma dan Tya laksana bijih besi yang menemukan medan magnet. Terbawa hanyut arus misi yang beberapa menit lalu haluannya melaju terlalu kencang.
Saking derasnya arus tersebut menyeret keduanya, sebuah jejak bibir panas Bisma menghiasi bagian leher di dekat telinga kanan Tya. Tercetak jelas di sana sekarang, yang berusaha disembunyikan Tya dengan mengumpulkan rambut panjangnya di sisi kanan lehernya.
Ukiran jejak itu pula yang mendorong Tya secara refleks meloloskan erangan saking kuatnya senyar yang menjalarinya, dan ******* seksi Tya itulah yang akhirnya membubar jalankan naluri mereka berdua yang mendadak menguasai nalar.
Kursi kosong tinggal di bagian belakang. Tak sempat lagi memilih tempat duduk, Bisma dan Tya memilih kursi terdekat dan duduk bersisian di sana.
“Sorry. Aku lepas kendali, aku enggak bermaksud demikian. Kamu baik-baik saja kan?” bisik Bisma yang kentara menyesali impulsifnya, takut Tya merasa dilecehkan olehnya.
Bisma juga tengah meredam gugupnya sendiri imbas dari tindakan tak terduganya pada Tya beberapa saat lalu. Mengingat ini tempat umum, Bisma harus cepat-cepat menguasai diri agar jangan sampai mengundang tanya. Sementara Tya berkali-kali mengusap tengkuknya yang masih menyisakan desir panas dingin. Bahasa tubuhnya sama-sama canggung.
“Eh, aku … aku enggak apa-apa kok, Mas. Santai aja,” ujarnya terkekeh kering, bahkan tawa kikuknya terdengar aneh di telinganya sendiri. Keduanya lantas saling berdiam diri, sibuk dengan spekulasi pikiran masing-masing.
“Acaranya dimulai,” kata Bisma cepat guna memecah kecanggungan. Otomatis pandangan Tya langsung fokus ke depan begitu pula Bisma.
Acara pembukaan disambut tepuk tangan meriah. Sambutan demi sambutan disampaikan orang-orang penting. Bisma memerhatikan dengan saksama saat para Narasumber memberi arahan. Di sesi tanya jawab Bisma aktif bertanya.
Dari banyaknya pengusaha yang menghadiri, lima pengusaha muda terpilih diberi kesempatan ke depan untuk bergabung dalam bincang-bincang langsung mengisi acara dengan para narasumber. Bisma termasuk yang terpilih di dalamnya. Dia pun tak menyangka mendapat kesempatan mengenalkan produk andalannya secara ekslusif di acara sebesar ini, mengingat Agra Prime baru berdiri belum lama. Bagaikan berkah besar tak terduga.
Tya mengamati dari kejauhan. Tak tahu dari mana datangnya, rasa bangga memenuhi sanubarinya melihat Bisma terpilih berkontribusi di depan sana, membuatnya terkagum-kagum dengan cara bicara Bisma di depan umum yang begitu berwibawa. Tya refleks melambai kecil saat Bisma sesekali melirik ke arahnya, menyemangati dengan mengepalkan kedua tangannya.
“Semangat, semangat!” cicitnya antusias.
Radhika yang berada di jejeran depan, terlihat muram saat namanya tidak ikut dipanggil. Padahal biasanya Sinar Abadi dengan produk andalan mendunianya yakni Green Premium selalu ternotice di acara-acara besar, tetapi malam ini malah kalah pamor dengan yang baru bisa booming di pasar tanah air.
Di sampingnya, Prita terlihat komat-kamit dengan muka kesal karena Radhika tidak ikut dipanggil ke podium. Omelan istrinya itu ditanggapi Radhika dengan isyarat mata, meminta Prita tenang dulu sebab mereka masih di tempat umum.
“Tahan diri, Ta. Jangan mengajakku berdebat di sini. Ingat, kita harus menjaga sikap. Di sini banyak orang berpengaruh juga ini tempat umum,” tegur Radhika balas berbisik.
“Gimana aku bisa tenang. Ini acara penting. Pokoknya di acara pameran besok, produk kita lah yang harus jadi bintangnya bagaimanapun caranya. Bila perlu negosiasikan lewat belakang. Ingat, Mas. Kita butuh dana besar untuk menutup kerugian gagal panen salah satu perkebunan kita tahun ini dan saat ini adalah kesempatan emas. Mumpung banyak pengusaha sukses dari dalam dan luar negeri yang sedang mencari mitra. Aku enggak mau ya, kalau sampai kemewahanku disita bank!” Prita menekankan kata-katanya, sama sekali tak peduli andai suaminya itu dilanda stress berat akibat tuntutannya.
“Tenanglah dulu. Jangan membahasnya di sini. Khawatir ada yang menguping. Kita bicarakan di kamar nanti setelah acara selesai.”
Seminar pembukaan berlangsung kondusif. Selepas acara inti rampung, dilanjutkan dengan ramah-tamah singkat mengingat waktu sudah hampir tengah malam. Ada beberapa saja yang ikut, kebanyakan memilih gegas kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat mengingat acara besok masih panjang, yang menurut jadwal akan dimulai pagi-pagi sekali.
Bisma masih tertahan di bangku VIP bersama para Narasumber juga panitia yang sangat tertarik dengan inovasi barunya. Mau tak mau Tya menunggu di ballroom yang mulai lengang itu.
Kebelet ingin buang air kecil, Tya mencari toilet terdekat. Dan saat hendak membilas tangan setelah selesai dengan urusan kantung kemihnya, ia bertemu Prita yang juga sama-sama hendak mencuci tangan. Tya tetap tenang, menyabuni kedua tangannya dengan gerakan luwes dan santai.
"Kamu istrinya Bisma kan?" ketus Prita, memindai Tya dari ujung kaki hingga kepala.
“Eh, Bu Prita ya? Halo, tak menyangka kita berjumpa di sini,” sapa Tya berbasa-basi dengan nada manis.
“Kayaknya kamu tidak mengenal Bisma dengan baik. Sebagai mantan istrinya, setahuku dia tak suka istrinya menggerai rambut di acara penting. Lebih suka yang ditata rapi ke atas seperti saat kamu menghadiri pestaku. Padahal acara hari ini sangat krusial buat para pengusaha, tapi sayang pendampingnya kurang paham dengan selera suami sendiri yang selalu ingin meninggalkan kesan rapi," celetuk Prita malah nyinyir saat melihat Rambut Tya tergerai terkumpul di sisi kanan.
Tya mengambil tisu, mengeringkan tangannya lantas menoleh. “Ah, terima kasih atas perhatiannya. Sebenarnya saya memang tahu tentang hal itu, tapi malam ini Mas Bisma yang meminta saya menggerai rambut,” tutur Tya sembari tersenyum cantik.
“Begitukah? Masa?” cibir Prita, terkesan tak percaya.
“Iya, karena suatu hal, jadi terpaksa digerai. Duh, gimana ya menjelaskannya.” Tya meraih seluruh rambutnya, mengangkatnya lantas menunjukkan jejak cap bibir di sisi lehernya kepada Prita. Si tanda merah tak terencana yang tak disangka sangat berguna sekarang.
“Inilah penyebabnya, sengaja digerai biar menutup ini. Kami masih termasuk pengantin baru. Jadinya ya begitulah, saya yakin Pasti Anda sangat paham,” ujar Tya tersipu penuh arti. “Saya duluan ya, Bu Prita. Khawatir Mas Bisma mencari.”
Tya melenggang ringan keluar dari sana, meninggalkan Prita yang kini mengepalkan tangannya kesal.
Bersambung.