Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 48



Sinful Angel Bab 48


Maksud Bisma pulang lebih awal ternyata hendak mengikuti do’a tawasul bersama di rumah Vero. Seringnya Bisma berdo’a sendiri di mushola kantor atau di rumah jika memungkinkan, sesibuk apa pun selalu menyempatkan diri. Tak pernah terlupa mendo’akan ayah tercinta yang sudah berpulang juga para kakek dan neneknya. Hanya tinggal nenek dari sang bunda yang masih ada, yaitu Rima.


“Aku akan pulang setelah solat Isya. Makan malam duluan saja kalau kamu sudah lapar,” kata Bisma yang baru keluar dari kamarnya, sudah wangi dan segar dalam balutan baju koko warna hitam dipadu celana abu-abu.


Bola mata jernih Tya menyusuri sosok di depannya penuh kekaguman. Bagi Tya, ketampanan Bisma bertambah berkali-kali lipat saat memakai baju koko begini. Ia terpesona, dengan kesejukan yang menguar dari sosok pria di depannya ini.


“Saya akan menunggu, nanti kabari saja kalau sudah di perjalanan pulang, biar makanannya dihangatkan dan disajikan, terutama sambalnya yang mau dibuat dadakan,” sahut Tya sembari tersenyum lebar.


Bisma yang sedang fokus membuka aplikasi pesan, menoleh pada Tya. Memperhatikan sekitar, Bisma mendekatkan wajah ke telinga Tya dan berbisik, “Tya, bukankah sudah pernah kukatakan dua minggu lalu? Kamu juga harus berlatih dan membiasakan diri bercakap-cakap dengan bahasa santai saat berinteraksi denganku. Jangan kaku begitu. Hilangkan kata saya, ganti dengan aku. Sepertiku sekarang.”


Tya mengatupkan bibir rapat-rapat. Lantas mengangguk pelan. “Maaf, kelupaan terus,” cicitnya, meringis tak enak hati.


“Duh, mesranya pengantin baru. Pasti lagi ngobrol tentang pindah kamar. Hati-hati batal wudhunya, Den,” ujar Mang Eko sok tahu yang lagi-lagi muncul entah dari mana datangnya. Pria paruh baya yang juga sudah rapi memakai sarung dan koko itu cengar-cengir sembari membawakan kunci Fortuner yang akan dipakai Bisma pergi ke rumah Vero.


Bisma menekuk wajah tampannya dan memicing sengit. “Mamang hobi banget nimbrung kayak nyamuk. Mending panasin mobil, sebentar lagi aku mau berangkat!”


Bisma berangkat sebelum adzan Magrib berkumandang. Mang Eko pergi ke masjid terdekat. Teh Erna masuk ke tempat solat yang juga tersedia di dekat gazebo belakang, sedangkan Tya masuk ke kamarnya.


Tya menghamparkan sajadah dan memakai mukena setelah berwudhu terlebih dahulu. Dua benda yang setiap kali dipakainya selalu berhasil menggetarkan sanubari terdalamnya dan meluruhkan air matanya. Sejak tinggal di sini, Tya benar-benar terdorong ingin berupaya memperbaiki diri lebih baik lagi meskipun pengetahuannya tentang ilmu agama amatlah minim. Bacaan solat berusaha dipelajari lagi dengan lebih sungguh-sungguh berbekal buku tuntunan solat dilengkapi tulisan huruf Alphabet yang ditemukannya menyatu dalam laci di mana Bisma menaruh mukena dan sajadah.


Do’a-do’a yang diketahuinya pun bertambah. Berusaha begitu keras terdorong sebuah keinginan, yaitu ingin mendo’akan Caca seperti tetangga di kontrakannya dulu yang mendo’akan keluarga mereka. Hanya saja seringnya kesempatan seolah tak pernah berpihak padanya. Justru cemoohan yang menghujaninya. Banyak yang mencibirnya tak pantas berkeinginan menjadi insan taat lantaran dirinya berlumur dosa.


Sajadahnya selalu basah di setiap sujud lamanya. Atara rasa syukur berpadu rasa tak pantas, hina dina dipenuhi dosa yang bahkan tak mampu dibayangkannya, tetapi juga tak dipungkiri ia pun ingin meraih kasih ilahi. Meski terjerumusnya Tya ke dalam lembah hitam sama sekali bukan inginnya.


Selesai memanjatkan do’a sebisanya. Tya mengambil mushaf di atas meja rias. Meraba permukaannya, air matanya menderas membasahi pipinya.


Membuka jejaring online di ponsel, Tya membuka laman yang memuat video pembelajaran membaca Al-Qur’an yang sudah sering dikunjunginya. Terbata-bata mengikuti arahan, bersusah payah sampai akhirnya ia menutup video tersebut dan tangisnya pecah kemudian. Marah pada dirinya sendiri, merasa bodoh sebab kesulitan memahami dan mengikuti.


Makan malam bersama usai di pukul delapan. Selepas mengisi perut, Bisma mengajak Tya masuk ke kamarnya. Ada hal penting yang harus dibicarakan katanya.


“Akhirnya Neng Tya masuk juga ke kamar Den Bisma. Pasti gol lah malam ini mah ya, Mang?” Teh Erna yang yang berada di teras sedang bersiap-siap pulang menunggu jemputan bergosip sembari cekikikan.


“Mudah-mudahan saja benar, semoga saja tokcer,” tukas Mang Eko yang malah keasyikan bergosip. “Tadi siang pas Mamang lagi ke rumah Nyonya Viona ada tamu aneh lagi tidak? Yang mendadak kirim paket padahal Den Bisma dan Neng Tya tidak pesan apa-apa?”


“Seminggu ini tidak ada, Mang. Cuma tadi sore ada anak muda luntang-lantung bawa kamera, kayak moto rumah ini sambil lewat. Tapi mungkin cuma perasaan saja. Eh iya, Mang. Den Bisma masih belum bilang ya sama Nyonya Viona tentang pernikahannya?”


“Setahu Mang Eko, Den Bisma masih belum bilang. Lagian itu mah bukan ranah kita buat ngasih tahu. Untung bulan kemarin pas Nyonya Viona berkunjung ke sini sebelum berangkat ke Palembang, Neng Tya masih di rumah sakit.”


Obrolan Mang Eko dan Teh Erna berlanjut. Sementara itu, kecanggungan merebak kuat di kamar besar Bisma.


“Duduklah di sini, jangan tegang begitu. Aku enggak bakalan makan kamu, jangan salah paham,” kata Bisma sembari menepuk kasurnya, meyakinkan Tya yang malah berdiri kaku seperti robot sejak pintu kamar tertutup sempurna.


Satu kamar dengan pria bukan hal baru bagi Tya. Akan tetapi jika prianya adalah Bisma, selalu saja mengundang degup berbeda di jantungnya.


“Baik, Mas.” Tya mengayunkan kaki, duduk di sebelah Bisma, tetap menjaga jarak. “Ada hal penting apa?” tanyanya dengan kedua tangan terjalin di pangkuan.


“Begini, Tya. Sabtu malam besok, aku harus menghadiri seminar para pengusaha muda yang digelar rutin setiap tahunnya, kali ini tempatnya di Bali. Tamunya banyak pengusaha dari luar negeri juga. Kamu akan ikut untuk menemani. Dan dipastikan Prita besama Radhika juga akan hadir di sana, jadi bersiap-siaplah.”


Bersambung.