
Sinful Angel Bab 93
Bisma dan Viona sedang duduk berdua di living room. Selepas solat Isya, Viona terlihat lebih terkendali. Meski begitu, dia tak menunda dan mengajak Bisma bicara serius. Masih ingin meluapkan sisa kemarahan dengan mencecar anak bungsunya itu dan meminta Tya meninggalkannya berdua saja dengan Bisma.
Tya tak membantah maupun merasa tersinggung karena tidak dilibatkan. Mengangguk patuh dan gegas menarik diri meski Bisma terlihat ingin menahannya. Memberi ruang ibu dan anak itu untuk bicara dari ke hati karena posisi Bisma memang salah di sini, tak bisa dibenarkan dari sudut pandang manapun. Tahu diri bukan porsinya ikut bercuit di sini.
“Teh Erna, bunda sukanya minum apa sama makan cemilan apa ya? Aku mau bikin minum sama camilan ringan buat Mas Bisma sama Bunda yang pasti bakal lama ngobrolnya.”
Tya memilih pergi ke dapur setelah sebelumnya melipat mukena dan mengganti bajunya dengan gaun tidur sopan. Warna krem nude yang panjang gaunnya semata kaki. Dilengkapi outer dengan model lengan menutup siku beraksen renda cantik di bagian ujungnya.
“Setahu saya, Bu Viona itu seleranya enggak susah. Kalau lagi santai paling suka ngemil bakwan sayur alias bala-bala dan minumnya teh tarik hangat rendah gula. Makanya almarhum ayah Den Bisma dulu mengeluarkan produk teh yang sesuai dengan selera Bu Viona. Saking cintanya almarhum Pak Bima pada Bu Viona. Cuma sayang teh tariknya sekarang enggak produksi lagi semenjak Sinar Abadi dikelola orang lain.” Teh Erna yang sedang mencuci piring di westafel menjelaskan pada Tya.
“Ya sudah, tolong bantu aku siapkan bahan sayurannya ya. Kita buat bakwan sayur. Tapi buat minumnya kalau aku buatkan wedang jahe kayu manis kira-kira bunda suka enggak ya? Konon khasiatnya sangat baik di saat badan kelelahan. Bisa mengembalikan kebugaran. Tadi aku enggak sengaja dengar ternyata bunda langsung menuju ke sini setelah pekerjaan di Jakarta selesai.”
Tya tampak menimbang-nimbang. Ia lumayan paham dengan khasiat-khasiat rempah kering yang tersedia di dapur sejak diboyong ke rumah ini yang ternyata selain sebagai bumbu dapur juga bisa menjadi bahan dasar membuat wedang kaya manfaat. Fasilitas internet yang tersedia Tya pakai untuk menggali banyak informasi yang disukainya, yaitu tentang jamu-jamu tradisional yang entah kenapa menarik minatnya.
“Ya sudah dicoba saja, Neng. Mudah-mudahan Bu Viona suka. Kelihatannya beliau pun memang capek. Saya mau siapkan sayuran buat bikin bakwannya.”
“Oke. Teh Erna cukup siapkan sayuran irisnya. Ngeracik adonan sama menggorengnya biar aku saja. Tolong cepat ya, Teh.”
Tya mencepol rambutnya ke atas. Mulai mendidihkan air dalam kuali gerabah untuk merebus wedang. Tya menggeprek dua ruas jahe segar yang sudah dicuci bersih, lalu menyiapkan satu batang rempah kayu manis kering juga madu asli.
Jahe dan kayu manis direbus di air mendidih, ditunggu hingga kadar airnya menyusut. Selagi menunggu wedangnya siap disajikan, dengan terampil dan cepat Tya membuat bakwan sayur. Menggorengnya telaten memastikan matang sempurna, jangan sampai gosong.
Dua cangkir wedang kayu manis hangat nan harum yang sudah dicampur sesendok madu di setiap gelasnya ditata di atas nampan. Tak lupa sepiring bakwan sayur yang baru diangkat dari penggorengan ditaruh berdampingan.
“Teh, tolong bawa ke living room ya,” pinta Tya pada Teh Erna setelah selesai menata nampan. Tersenyum puas melihat hasil karyanya meski sejujurnya ia was-was dan tak percaya diri dengan hasil olahan tangannya yang terbilang belum begitu mahir.
“Lho, kenapa bukan sama Neng Tya saja? Sekalian pendekatan sama ibu mertua,” tukas Teh Erna yang sedang melipat lap serbet bersih.
Tya mengusap tengkuknya resah. “Anu, Teh. Aku… aku masih canggung,” jawab Tya tak menutupi alasannya kenapa ia meminta Teh Erna yang menyajikan.
“Bu Viona itu sebenarnya baik lho, orangnya penyayang dan enggak membeda-bedakan status seseorang walaupun beliau berasal dari keluarga kaya, anak satu-satunya lagi. Cuma memang pembawaannya tegas dan berwibawa. Enggak mau coba, Neng?"
“Tapi saat ini aku betulan gugup, Teh. Nanti pas bawa nampannya malah tumpah gimana? Lihat saja sendiri, kakiku gemetaran,” tutur Tya yang membuat Teh Erna otomatis menurunkan pandangan. “Jadi, tolong sajikan ke living room ya, mumpung wedang dan bakwan sayurnya masih hangat."
Di living room. Pembicaraan berlangsung kondusif kendati atmosfer tegang masih melingkupi. Tak lagi ada teriakan maupun amukan. Kali ini Viona bertukar kata dengan intonasi normal meski sesekali terdengar penekanan dari nada bicaranya. Viona tentu masih dongkol dan Bisma yang sangat paham letak kesalahannya, tak mendebat keras luapan kesal sang bunda.
Viona duduk di sofa, sedangkan Bisma memilih duduk di lantai beralaskan karpet empuk di dekat kedua kaki sang bunda. Menjelaskan duduk perkara yang membuat bundanya murka. Menjawab telaten semua pertanyaan sembari memijat kaki bundanya. Seperti yang sering dilakukannya dulu di saat Viona sedang marah padanya.
Hanya saja dia menceritakan yang sekiranya layak diceritakan. Mengenai masa lalu Tya Bisma tak mengulas bagian itu, sebisa mungkin menutup rapat aib kelam sang istri, karena sebagai suami dirinya harus menjadi pakaian untuk istrinya sekarang. Biarkan masa lalu berada di belakang, karena yang akan mereka songsong adalah masa depan.
“Aku sungguh minta maaf, Bunda. Sudah berbuat lancang di belakang Bunda. Mungkin ini terdengar seperti alasan saat aku mengatakannya sekarang. Tapi tadi siang aku berencana datang ke rumah Bunda dan mengajak Tya, untuk mengenalkan Tya dan menjelaskan tentang pernikahan siriku dengannya pada Bunda. Ingin meminta do'a restu. Aku bahkan menelepon Bunda berkali-kali tapi enggak diangkat. Jadinya aku menelepon ke rumah dan ART bilang Bunda lagi ke Jakarta.”
“Bunda sengaja enggak angkat teleponmu. Bunda kesal dan ingin balas dendam sama kamu karena kamu juga susah dihubungi!” kesal Viona yang malah ditanggapi dengan senyum manis dan kekehan tipis dari putranya.
“Bunda kalau lagi galak begini makin mempesona. Pantesan ayah selalu bucin sama Bunda sampai akhir hayat.”
“Jangan merayu. Lagi enggak mempan!” ketus Viona yang sebenarnya mulai melunak.
“Sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Sewaktu Bunda menelepon, ponselku kehabisan daya. Kemarin itu posisiku lagi di Puncak terkait pekerjaan dan lagi super sibuk. Jadinya aku kelupaan mengisi daya,” sahut Bisma beralasan.
Memang benar dia sangat sibuk waktu itu, tetapi sibuk mengeloni sang istri setelah pernyataan cinta dua hati, bukan sibuk dengan pekerjaan.
Viona memicing tajam pada Bisma lagi. Memukul bahu anaknya. “Tapi kamu tetap saja brengsek karena memanfaatkan gadis sebatang kara untuk diseret dalam urusan kepentinganmu. Kamu enggak boleh seenaknya begitu sama anak orang walaupun kamu mampu! Lagi pula menikah itu bukan lelucon!”
“Ampun, Bun. Aku tahu alasanku menikahinya diam-diam secara siri memang enggak bisa dibenarkan. Tapi sungguh, aku cinta sama Tya. Aku jatuh cinta pada istriku walaupun terbilang terlambat menyadarinya. Aku bermaksud menemui Bunda pun untuk membicarakan pernikahanku ini lebih lanjut. Aku ingin melegalkan pernikahanku dengan Tya diresmikan secara negara juga, karena aku sadar ijab kabul sakral yang kuucapkan bukanlah permainan.”
“Permisi, Bu Viona, Den Bisma. Maaf, mengganggu, saya mau menyajikan ini. Buat teman ngobrol.”
Teh Erna masuk ke living room. Duduk bersimpuh dengan sopan dan memindahkan isi nampan ke atas meja depan sofa. Aroma sedap wedang menguar merelaksasi, menyebar semerbak ke seantero ruangan.
Terpantik rasa penasaran, Viona langsung meraih cangkir yang disodorkan padanya. Menghirup aromanya dan mencicipi isinya.
“Ini apa? Wanginya enak dan rasanya segar?” tanya Viona pada Teh Erna.
“Neng Tya bilang namanya wedang kayu manis. Katanya berkhasiat memulihkan stamina di saat sedang lelah terlebih sehabis perjalanan jauh.” Teh Erna menjawab sesuai dengan informasi yang didengarnya, tak menambah maupun mengurangi.
“Jadi ini buatan istrinya Bisma?” kata Viona yang tampak tertarik.
Teh Erna mengangguk mengiyakan. “Iya, Bu. Bakwan sayurnya juga buatan Neng Tya.”
Mendengar penjelasan Teh Erna, Viona langsung mencicipi si bakwan sayur, tampak menikmati rasa dan kerenyahannya saat mengunyah. Bisma menunggu reaksi Viona yang ternyata bukan mengomentari, melainkan mengambil satu bakwan sayur lagi.
“Enak kan, Bu? Masakan Neng Tya walaupun masih belajar masak yang sederhana rasanya enggak kalah sama yang kawakan. Pasti karena dimasak dengan setulus hati.” Teh Erna menimpali lagi, yang diacungi dua jempol oleh Bisma secara tersembunyi.
Bersambung.